5 Langkah Menepis Zina

Menepis-Zina.jpg

Pertama, Mengokohkan Keimanan kepada Allah Azza Wajalla di dalam Hati

Sungguh keimanan yang benar kepada Allah lagi kokoh merupakan sebab terkuat yang akan menjadikan seorang terjaga dari terjerumus ke dalam lembah perzinaan. Oleh kerenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah orang yang berzina ketika berzina sementara ia dalam keadaan beriman, tidaklah pula orang yang meminum khamer ketika ia meminumnya sementara ia dalam keadaan beriman dan tidaklah seorang pencuri tatkala ia mencuri sementara ia dalam keadaan beriman.” (HR. Al-Bukhari)

Tentunya, Anda mengetahui kisah Nabiyullah Yusuf ‘alaissalam tatkala seorang wanita yang tak lain adalah istri raja mengajaknya untuk melakukan zina, apa sebab Yusuf terselamatkan dari ajakan keji tersebut? Sungguh, keimanan Yusuf yang kokoh kepada Allah Rabbnya yang tercermin dalam ungkapan lisannya telah menghalangi dirinya dari terjatuh kedalam perbuatan nista itu. Allah menghikayatkan dalam firmanNya,

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS. Yusuf : 23)

Kedua, Merasa Takut kepada Allah.

Demikian pula merasa takut kepada Allah, merasa takut kepadaNya akan siksaNya yang amat pedih manakala ia terjerembab ke dalam perbuatan keji tersebut, ini pun merupakan sebab yang akan menghalangi seseorang dari terjerembab ke dalam perbuatan keji yang membinasakan tersebut. Karena, barang siapa yang takut dari siksaan maka ia akan menjauhkan diri dari sebab yang akan menjadikannya mendapatkannya.

Rasa takut seorang hamba kepada Allah ta’ala akan menjadikannya mampu untuk mengendalikan hawa nafsunya, ia menjadi pengerem langkah seorang hamba, karena ia menyadari bahwa Allah mengetahui perbuatannya meskipun ia lakukan dengan secara sembunyi-sembunyi di mana tak ada orang yang hadir menyaksikannya.

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

“Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nampakkan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (QS. Al-An’am : 3)

Rasa takutnya itu terdorong pula oleh harapannya terhadap keridhaanNya, balasan yang baik dariNya, serta harapannya untuk dapat merengkuh kenikmatan yang abadi yaitu, SurgaNya.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at : 40-41).

Dia juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk : 12)

Ketiga, Merasa Malu kepada Allah

Demikian pula rasa malu seorang hamba kepada Allah juga merupakan sebab yang dengan izin Allah akan menjaganya dari terjatuh ke dalam perbuatan zina. Karena, seorang mukmin tatkala berkeinginan kuat untuk melakukan kemaksiatan lalu ia merasa malu kepada Allah yang mana Dia lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, niscaya ia akan menghentikan keinginannya tersebut sehingga ia pun selamat dari terjatuh ke dalamnya. Adapun orang-orang yang terjatuh ke dalam kemaksiatan, melakukannya dengan bangganya dan bahkan saling berlomba agar tidak ketinggalan oleh kawannya yang tengah melakukan perbuatan yang sama merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pakaian rasa malu dirinya tengah tercabut dari hatinya. Wal’iyadzu billah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengisyaratkan dalam sabda beliau,

‏إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: “Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu”. (HR. Bukhari no. 3483)

Dan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa rasa malu seseorang akan mendatangkan kebaikan, beliau bersabda,

«الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ». قَالَ أَوْ قَالَ «الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ»

Rasa malu itu adalah baik semuanya.” -Perowi berkata-, atau beliau bersabda, “Rasa malu kesemunya adalah baik.” (HR. Muslim)

Dan, di antara bentuk kebaikan yang timbul dari rasa malu adalah menghindarkan seseorang dari terjerumus ke dalam perbuatan keji, seperti zina.

Keempat, Mengharap dan Senang kepada Pahala Orang yang Dapat Memelihara Kehormatan Dirinya

Sebab lainnya yang dengan itu seseorang akan terhindar dari terjatuh ke dalam perzinaan adalah seorang senang dan sangat mengharap akan memperoleh pahala atau balasan yang besar karena dapat memelihara kehormatan dirinya seperti akan mendapatkan naungan Allah dan akan dimasukkan ke dalam SurgaNya. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dengan naunganNya pada hari di mana tidak ada lagi naungan selaian naunganNya. (beliau menyebutkan salah satunya yaitu).”

وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

“Seorang lelaki yang diminta (untuk berzina) oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘sungguh aku takut kepada Allah’.” (HR. Al-Bukhari)

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara kedua janggutnya (yaitu, lisannya) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni, kemaluannya) niscaya aku menjaminnya masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)

Sungguh, orang yang mendengar keutamaan yang didengarnya ini, akan termotivasi dirinya untuk menjauhkan diri dari perbuatan zina. Karena, jika ia terjatuh ke dalamnya ia tidak mendapatkan jaminan ini dan tidak pula mendapatkan naunganNya di hari dimana ia sangat membutuhkannya.

Kelima, Menyibukkan Diri dengan Amal Shaleh

Sebab lainnya yang dengannya seorang hamba terselamatkan dari terjatuh ke dalam perbuatan zina adalah “menyibukkan diri dan fikirannya dengan berbagai amal shaleh”. Hal demikian ini karena mana kala fikiran dan jasad telah tersibukkan dengan amal shaleh niscaya tak akan ada kesempatan bagi lintasan pikiran yang keji dan tindak keji yang menggelayutinya. Dengan demikian, badannya pun akan terjauhkan dari melakukan perbuatan yang keji tersebut.

Semoga Allah ta’ala mengaruniakan kepada kita kekokohan iman, rasa malu kepadaNya, rasa takut akan siksaNa, senantiasa hati kita termotivasi oleh adanya pahala yang dijanjikanNya. Dan, semoga pula diri kita tersibukkan dengan amal shaleh sehingga tidak ada kesempatan bagi kita untuk melakukan amal yang tidak shaleh. Aamiin.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.


Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: