6 Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf

yusuf.jpg

Kawula muda, adalah penurus kita, harapan yang kita damba. Namun, banyak kita saksikan betapa banyak problematika hidup yang mereka hadapi, yang sering kali mengantarkan mereka kepada frustasi sehingga mereka berusaha melampiaskannya dengan berbagai macam jalan dan cara mulai dari mencari teman yang senasib, minum-minuman keras dan bahkan pergaulan bebas, yang mana kesemuanya itu justru menodai kesucian diri mereka.

Jatuhnya para kawula muda ke dalam penistaan diri tak lepas dari banyak faktor. Satu di antara faktor yang utama adalah media. Sebut saja misalnya, media komunikasi sosial seperti Facebook, Twiter, dll, yang dapat diakses sedemikian mudahnya dan sedemikian bebasnya. Maka, tidak jarang kita mendengar atau membaca adanya kasus penyimpangan seksual kawula muda berawal dari penggunaan media-media tersebut. Kondisi ini tentu menjadikan kita para orangtua miris dibuatnya. Meski demikian, kondisi ini hendaknya tidak menjadikan kita berputus asa untuk mengentaskan dan menyelamatkan mereka dari kubangan penghancur kesucian diri mereka ini.

Tentu harapan kita, kawula muda penerus kita memiliki ketahanan mental dan keteguhan jiwa dan keyakinan seperti halnya Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam. Dialah cerminan pemuda yang sedemikian luar biasa dapat mempertahanan kesucian dirinya dalam kondisi yang sangat memungkinkan dirinya terjerumus dalam kubangan kenistaan yaitu perzinaan. Maka, marilah kita mengambil pelajaran dari kisahnya yang Allah sebutkan di dalam kitabNya. Anda bias menyimaknya di dalam Surat Yusuf : 23-34.

Pembaca yang budiman, Adapun sebagian pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah bahwa beberapa perkara yang dengan izin Allah akan memberikan faedah berupa terselamatkannya kesucian seseorang dari terjatuh ke dalam lembah kekejian perzinaan yaitu,

Pertama, Rasa takut kepada Allah dan senantiasa merasa diawasi olehNya.

Sungguh, Yusuf tengah berada dalam kondisi menyendiri dengan wanita itu, tak seorang pun melihatnya, sementara dorongan-dorongan setan sedemikian dahsyat lagi sedemikian banyak. Namun demikian Yusuf tidak menyerah dengan serang-serangan setan tersebut, ia pun dapat menepisnya dengan rasa takutnya kepada Allah azza wajalla dan rasa dirinya berada dalam pengawasannya, ia sangat mngagungkan hakNya, maka terlontarlah melalui lisannya, “Aku memohon perlindungan kepada Allah, sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang yang berbuat kezhliman.

Sungguh, alangkah indahnya rasa takutnya ini dan betapa indahnya akibat tindakannya ini sebagaimana yang dihabarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadisnya yang menyebutkan 7 golongan orang yang akan mendapat naungan Allah di hari di mana tidak ada naungan selain naunganNya, salah satunya yaitu, “Seorang lelaki yang diminta oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan lagi cantik untuk melakukan zina, lalu ia mengatakan, “Sungguh aku takut kepada Allah”.

Kedua, Taufiq Allah dan PenjagaanNya terhadap hambaNya.

Tatkala Allah melihat kejujuran sikapnya dan kesabaran hatinya, maka Allah memalingkan dirinya dari keburukan sebagai bentuk penjagaan dirinya dan untuk memuliakannya pula sebagai balasan baik atas sikap memelihara kehormatan dirinya. Allah ta’ala berfirman,

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf : 24)

Ketiga, Lari dari sebab yang berpotensi menjatuhkan diri ke lembah kemaksiatan.

Tatkala Yusuf melihat pada diri Zulaikha apa yang telah ia lihat dan Yusuf khawatir atas dirinya, maka Yusuf pun lari (menjauhkan diri) dari Zulaekha, ia menuju ke pintu kamar dengan maksud untuk keluar dari kamar yang tertutup itu. Sementara Zulaekha memegang erat baju Yusuf, Yusuf pun tak kalah meronta untuk melepaskan dirinya, hingga akhirnya baju bagian belakang Yusuf pun sobek karena saking kuatnya pegangan Zulaikha dan saking kuatnya upaya Yusuf untuk melepaskan dirinya.

Pembaca yang budiman, upaya melarikan diri dari kemaksiatan adalah seagung-agung sebab yang akan mengantarkan seseorang pada keselamatan diri. Upaya melarikan diri dari kemaksiatan itu beragam bentuknya. Apa yang dilakukan oleh Yusuf tadi hanya merupakan contoh saja. Bentuk yang lainnya semisal; tidak mendatangi tempat-tempat yang berisi kemaksiatan, lari dari tindakan berdua-duaan dengan lawan jenis, menjaga pandangan dari melihat perkara yang haram untuk dilihat, menjauhkan diri dari mengunjungi situs-situs internet atau jejaring sosial atau chanel-chanel televisi yang dapat membangkitkan syahwat. Kesemuanya ini termasuk bentuk melarikan diri dari fitnah.

Dan, termasuk bentuk benarnya sikap melarikan diri dari kemaksiatan agar kesucian diri terpelihara adalah dengan seseorang menjauhkan diri dari teman yang buruk yang akan selalu mengingatkannya untuk melakukan kemaksiatan, mengajaknya bercakap-cakap seputar kemasiatan, cara-caranya dan sarana-sarana untuk melakukannya, bagaimana cara untuk dapat melakukannya. Bahkan, ia akan mengulurkan tangannya untuk memberikan kemudahan kepadanya untuk melakukan kemaksiatan yang diinginkannya. Maka dari itu, siapa yang menginginkan keselamatan, hendaknya ia berkawan dengan orang-orang yang bertakwa, menempati lingkungan yang baik sebagaimana dikatakan oleh seorang yang alim terhadap seorang yang telah membunuh 100 orang,

ودع أرضك هذه فإنها أرض سوء واذهب إلى أرض كذا فإن فيها قوما يعبدون الله تعالى فاعبد الله معهم

“Dan tinggalkan daerahmu ini, karena ia adalah daerah yang buruk. Pergilah ke daerah demikian, kerena di sana terdapat sekelompok orang yang menyembah Allah ta’ala, sehingga engkau bisa melakukan ibadah kepada Allah bersama dengan mereka.”

Keempat, Doa dan bersandar kepada Allah.

Sungguh, hati seorang hamba berada di antara jari-jemari Ar-Rahman (Allah subhanahu wata’ala), Dia membolak-balikkannya sekehendakNya. Dia mampu untuk memberikan ketetapan dalam hati Anda dan mampu pula untuk memalingkan keinginan orang-orang jahat dari melakukan kejahatannya kepada Anda. Taufiq, semuanya berada di dalam genggaman tanganNya. Sementara sebab kehinaan terdapat pada seseorang hamba bersandar hanya kepada dirinya semata. Sungguh, Yusuf mengetahui dan memahami hal ini, maka ia pun segera bersandar ke benteng pertahanan yang kokoh, yaitu Allah ta’ala.

وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ (33) فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (34)

“(Yusuf berkata) dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Yusuf : 33-34)

Oleh karena itu, jika Anda menginginkan terjaga dari dosa dan kemaksiatan serta keburukan, hendaklah Anda berpegang teguh dengan rabb Anda.

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran : 101)

Kelima, Tidak menyepelekan bahaya sebuah kemaksiatan

Sungguh, seorang yang mulia tatkala memandang bahwa “perbuatan keji” merupakan perkara yang besar lagi membahayakan, ia juga berfikir tentang betapa besarnya siksa di akhirat niscaya akan terasa ringan akibat di dunia. Oleh karenanya, Yusuf memilih (dimasukkan ke dalam) penjara beserta kegetiran kehidupan di dalamnya ketimbang ia mengoyak kehormatan sesuatu yang tidak halal baginya, atau melampiaskan hasrat biologis bukan pada tempatnya. Ia menegaskan,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Yusuf berkata : “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”.” (QS. Yusuf : 33)

Keenam, Berpegang teguh dengan keimanan.

Sungguh keimanan akan memelihara dan menjaga pemiliknya. Di antara bentuk penjagaan Allah adalah penjagaannya terhadap agama seseorang, urusan dunianya, keluarganya serta urusan akhiratnya. Tidaklah Yusuf terpelihara kesucian dirinya melainkan karena keimanannya yang benar kepada rabbnya, serta kejujurannya terhadapNya. Allah menginformasikan hal tersebut,

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf : 24)

Wallahu a’lam.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: