7 Wasiat Rasul di 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

10-hari-dzulhijjah2.jpg

Bulan Dzulhijjah tiba, suatu bulan yang 10 hari dari bulan itu memiliki beberapa keutamaan.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam mengabarkan dalam sabdanya,

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أفْضَلُ مِنْ الْعَمَلِ فِيْ هَذِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ؟ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih utama daripada hari-hari ini, (yaitu: sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah) Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad?”. Beliau menjawab,”Tidak juga jihad, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apa pun.”(HR. Al-Bukhori, dari Ibnu Abbas)

Maka sudah semestinya seorang muslim mengisinya hari-harinya dengan amal shaleh yang disyariatkan. Diantara amalan yang disyariatkan yaitu:

1. Tahlil, Takbir dan Tahmid

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid.” (Ahmad, dari Ibnu Umar)

Perbanyaklah pada saat itu tahlil dengan mengucapkan “Laa Ilaaha illallahu“, perbanyaklah takbir dengan mengucapkan Allahu Akbar. Dan, perbanyaklah  tahmid dengan mengucapkan “alhamdulillah”.

Demikianlah salah satu pesan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk mengisi 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang kini kita telah memasukinya. Kita berdoa kepada Allah semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufiq kepada kita sehingga kita mampu melaksanakan pesan nabi kita yang mulia ini.

Tak diragukan bahwa Tahlil, Takbir dan tahmid yang kita lakukan pada saat itu merupakan bentuk dari Dzikir kepada Alloh ta’ala yang diperintahkan. Alloh ta’ala berfirman,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj : 28)

Para ahli tafsir menafsirkan ayat ini  dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, terutama dengan banyak membaca tahlil, takbir dan tahmid, sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad)

Ketahuilah bahwa Takbir, tahlil dan tahmid, tidaklah hanya dilakukan di Masjid-masjid, namun hingga di pasar-pasarpun bisa dilakukan. Inilah yang diteladankan oleh sahabat mulia, Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah, semoga Alloh meridhoi keduanya, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam Shohinya, beliau  menuturkan bahwa Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir, lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya.

Disyariatkan pada hari-hari itu takbir muthlaq, yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah; selain jamaah haji dimulai dari sejak shalat Shubuh pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), sedangkan bagi jama’ah haji dimulai dari sejak shalat Zhuhur pada hari kurban, dan terus berlangsung hingga shalat Ashar pada akhir hari Tasyriq.

Demikianlah yang dilakukan mereka generasi terbaik umat ini, maka marilah kita berupaya meneladaninya.

2. Melaksanakan Haji dan Umrah

Termasuk pula amal sholeh yang disyariatkan adalah ” Melaksanakan ibadah haji dan umrah ” tentunya bagi yang memiliki kemampuan untuk itu, Allah ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97)

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” ( QS. Al-Baqarah : 197)

Diantara bulan yang dimaklumi itu adalah “bulan Dzulhijjah”, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tafsir. Dan, bahkan rukun terpenting dari pelaksanaan ibadah haji  terjadi pada tanggal 9 dari bulan Dzulhijjah, yaitu melakukan” Wuquf di Arafah”.

عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ قَالَ شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ نَاسٌ فَسَأَلُوهُ عَنْ الْحَجِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ

“Abdur Rahman bin Ya’mar, berkata; saya menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi manusia kemudian bertanya kepadanya mengenai haji, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Inti Haji adalah wukuf di Arafah, barang siapa yang mendapatkan malam Arafah sebelum terbit fajar dari malam jam’ (waktu sore pada hari Arafah) maka hajinya telah sempurna.” (HR. An-Nasi, no. 2966)

Haji, termasuk amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain sabda Nabi shallallahu ‘alahi wasallam,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga.” ( HR. Al-Bukhari, no. 1650)

Maka kita berdoa kepada Allah mudah-mudahan kita berkemampuan dan berkesempatan untuk melaksanakan amal yang mulia ini dan meraih pula keutamaannya. Demikian pula kita doakan saudara-saudara kita kaum muslim yang tahun ini berkesempatan untuk menunaikan amalan yang mulia ini, semoga Allah memberikan taufiq kepada mereka sehingga dapat menunaikannya dengan baik sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga insyaa Allah ta’ala akan meraih keutamaannya. amiin.

3. Puasa

Termasuk pula amal sholeh yang disyariatkan adalah “Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah bagi selain jama’ah haji”.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, Di antara hal yang menunjukkan keutamaan amalan ini adalah sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat hadis, di antaranya :

1. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, “Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.”

2. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang  hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” (Hadits Muttafaq ‘alaih, dari Abu Sa’id al Khudri)

3.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Berpuasa pada hari Arafah –saya berharap kepada Allah- melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim, dari Abu Qatadah)

4. Taubat

Taubat serta meninggalkan segala maksiat dan dosa, sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat termasuk pula amal sholeh yang disyariatkan pada hari-hari tersebut. Bahkan, amalan ini disyariatkan bahkan diwajibkan kepada kita seumur hidup, selama hayat masih di kandung badan. Alloh tabaraka wata’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur : 31)

Dia juga berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud : 3)

5. Berqurban

Termasuk amal sholeh yang disyariatkan pada pada saat itu adalah Berqurban, dan bahkan waktunya bertambah hingga hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah. Sebagaimana telah kita maklumi bersama.

Maka, apabila kita telah masuk di dalam bulan itu dan ingin berqurban maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan dalam sabda beliau,

إذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الحِجّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفاَرِهِ

Apabila kalian menyaksikan hilal (bulan sabit) bulan Dzulhijjah sedangkan salah seorang di antara kalian hendak berkurban, maka hendaklah ia menahan diri (dari mencukur) rambut dan (memotong) kukunya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain, “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sampai ia menyembelih (hewan kurbannya).”

6. Melaksanakan Shalat Idul Adha dan Mendengarkan Khutbahnya

Termasuk amal sholeh pula yang disyariatkan pada waktu itu adalah Melaksanakan shalat Idul Adha dan mendengarkan khutbahnya.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2)

Maksud dari ayat ini adalah perintah melaksanakan shalat id.

Abdullah bin Saib meriwayatkan bahwa Nabi seusai shalat id, beliau bersabda:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلْيَنْصَرِفْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُقِيمَ لِيَسْمَعَ الْخُطْبَةَ فَلْيُقِمْ

“Siapa yang mau pulang maka silakan dia pulang, dan siapa yang mau tinggal untuk mendengar khutbah maka silakan dia tinggal.” (HR. An-Nasai, no. 1571)

7. Perbanyak Amal Sholeh

Banyak beramal shalih, berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya hendaklah pula kita melakukannya.

Amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, bahkan sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

Demikianlah beberapa amal sholeh yang bisa saya sebutkan, yaitu  ;

  1. Memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil
  2. Melaksanakan ibadah haji dan umrah
  3. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah bagi selain jama’ah haji
  4. Taubat
  5. Berqurban
  6. Melaksanakan shalat Idul Adha dan mendengarkan khutbahnya
  7. Banyak beramal shalih, berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lainnya.

Wallahu a’lam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.

Tulisan ini adalah naskah khutbah Jum’at yang penulis sampaikan di Masjid Jami’ Quba, Tanah Abang pada Jum’at 26 Dzulqa’dah 1433 H / 12 Oktober 2012M, dan telah mengalami sedikit perubahan.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: