ABU BAKAR DAN KAUM MURTAD YANG TIDAK MAU BAYAR ZAKAT

pexels-photo-210599.jpeg

Pada akhir masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kabilah-kabilah bangsa arab berbondong-bondong masuk ke dalam agama islam, namun seketika mereka yang baru saja beriman ini mendengar kabar wafatnya Rasulullah, sebagian mereka kembali berpaling ke agama sebelumnya alias murtad, dengan berbagai alasan baik itu alasan ekonomi, loyalitas kesukuan atau malah ingin merebut kekuasaan kaum muslimin.

Nah pada posisi yang genting inilah Abu Bakar sebagai khalifah pertama mengambil langkah yang sangat tegas, bahkan dipandang sangat beresiko oleh sebagian sahabat waktu itu, hingga akhirnya Abu Bakar dapat meyakinkan mereka semua dengan keputusannya seperti yang dikisahkan dalam riwayat berikut:

(( عن أبي هريرة  قال : لما توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم استخلف أبو بكر بعده ، وكفر من كفر من العرب . قال عمر بن الخطاب لأبي بكر : كيف نقاتل الناس ، وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فمن قال لا إله إلا الله عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه ، وحسابه على الله ” ، فقال أبو بكر : والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة فإن الزكاة حق المال ، والله لو منعوني عقالا كانوا يؤدونه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعه . فقال عمر بن الخطاب : فوالله ، ما هو إلا أن رأيت الله عز وجل قد شرح صدر أبي بكر للقتال ، فعرفت أنه الحق))

” Dari Abu Hurairah ra., beliau meriwayatkan, setelah Rasulullah Saw. wafat dan kemudian Abu Bakar ra.diangkat sebagai khalifah sesudahnya maka pada saat itu sebagian bangsa Arab kembali kepada ke kafiran. Ketika itu Umar bin Kaththab ra. berkata kepada Abu Bakar, ‘Bagaimana engkau dan memerangi orang-orang itu (maksudnya adalah kaum yang enggan membayar zakat), ‘Aku diperintakan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan lailaha illallah. Barang siapa yang telah mengucapkan la ilahaillallah maka dia telah menjaga harta dan jiwanya dariku kecuali apabila ada alasan yang benar-benar untuk mengambilnya. Adapun hisabnya adalah terserah kepada Allah ta’ala. Maka Abu Bakar pun mengatakan, ‘Demi Allah! Benar-benar aku akan memerangi orang-orang yang membedaka-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak atas harta . Demi Allah! Seandainya mereka tidak mau menyerahkan kepadaku seikat karung (zakat) yang dahulu bisa meraka tunaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku akan memerangi mereka tetap berkeras tidak mau menyerahkannya. ‘Umar bin Khaththab ra pun mengatakan, ‘Demi Allah! Tidaklah mungkin hal itu berani dilakukannya melainkan karena aku yakin bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang. Dari situlah aku mengetahui bahwa dia berada di atas kebenaran .” (HR Bukhari dan Muslim)

Memang pada prinsipnya Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yang menjadikan kelemah-lembutan sebagai salah satu pokok-pokok dasar dan awal dalam berdakwah. Namun pada praktik dilapangan terkadang ada keadaan yang memang mengharuskan untuk mengambil sikap tegas, seperti penegakan hukum-hukum bagi mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran berat.

Dan perlu digarisbawahi langkah yang diambil ini bukan sebuah langkah pertama, namun sebuah tindakan akhir untuk memberikan efek jera pada pelakunya dan pelajaran bagi yang lain. Dan untuk ketegasan tepat yang diambil Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu diatas berkata seorang ulama hadits yang bernama Ali Bin Madini:

“أعز الله الدين بالصديق يوم الردة, وبأحمد يوم المحنة”

“Allah menolong agama ini dengan As Shidiq (Abu Bakar) pada hari kemurtadan, dan dengan Ahmad Bin Hambal pada hari cobaan (isu al qur’an adalah makhluk)”

 

Penulis: Muhammad Hadhrami Bin Ibrahim

Rujukan:

نحو مفهوم شامل للاحتساب

تأليف: عبد الله بن عبد الرحمن الوطبان

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: