Ada Wanita Hebat Dibelakang Mereka!

istanbul22-1170x570.jpg
Roda waktu memang terus berputar, yang diatas kan kebawah dan yang dibawah akan bisa keatas juga. Dan begitu juga tentang kisah kejayaan ummat islam, dari yang tidak diperhitungkan hingga menjadi penguasa jagat raya sekian abad, dan kembali jatuh kebawah belakangan ini. Oleh karena itu, para ulama pun banyak yang berusaha mengupas fenomena ini mengapa bisa terjadi pada ummat yang agamanya paling sempurna dimuka bumi, dan salah satu jawaban yang didapat adalah masalah pendidikan generasi penerus umat islam. Ibaratnya lari estafet, jika sang penerus tidak sekencang pelari awal maka akhirnya kan dikalahkan. Berbicara masalah pendidikan generasi baru, maka tidak akan lepas dari peran penting seorang wanita, karena ialah sang penasehat terbaik bagi suaminya dan madrasah awal dan utama bagi anak-anaknya kelak. Oleh karenanya, jika kita telisik kisah-kisah orang hebat, maka kita akan dapati pula sesosok wanita tangguh dibelakangnya, dan pada kesempatan kali ini kita akan menguak rahasia kehebatan beberapa tokoh berikut: 

Ibunda Imam Malik Bin Anas

Ibnu Abi Uwais meriwayatkan bahwa ia mendengar Imam Malik berkata: “Ibunda memakaikanku jubah dan surban sewaktu aku masih kanak-kanak, kemudian membawaku kepada Rabi’ah bin Abi Abdirrahan dan berkata: “Wahai anakku! duduklah dimajelis Rabi’ah, pelajari dan ambil darinya tata krama dan adab terlebih dahulu sebelum engkau mengambil hadits dan fiqihnya”.

 

Ibunda Imam Syafi’i

Telah wafat sebelumnya ayahanda dari Muhammad bin Idris (Imam Syafi’i) kecil, dengan meninggalkan seorang ibu baginya yang kemudian  akan menepati janjinya kepada suaminya untuk menjadikan anak mereka seorang Imam dikemudian hari. maka dibawalah olehnya Syafi’i kecil pindah dari Gaza Palestina ke Mekkah. disanalah anaknya itu belajar mengaji, mempelajari bahasa arab dipedalaman badui, dan belajar memanah dan berkuda,meski finansial mereka sebenarnya susah, namun bagi sang Ibunda tidak ada kata negosiasi untuk urusan pendidikan sang anak.

Maka jadilah sang anak sesosok imam yang kita kenal, satu dari empat Imam Madzhab Fiqih yang tersohor sepanjang masa, itu semua berkat usaha gigih sang ibu, yang memperhatikan pendidikannya dari kecil. Imam Syafi’i telah hafal Al Qur’an 30 juz sedangkan ia masih seorang bocah 7 tahun, ia selesai menghafal Kitab Al Muwattha’ karya gurunya Imam Malik pada umur 10 tahun ,dan diizinkan untuk berfatwa oleh gurunya tersebut sedangkan umurnya 15 tahun.

 

Ibunda Imam Ahmad

Nama sang ibunda Shafiyyah binti Maimunah, ia menjanda tatkala dirinya masih diusia 20-an tahun, namun wanita tegar ini memilih untuk tidak menikah lagi, demi memfokuskan diri menyayangi dan mendidik sang buah hati satu-satunya hingga jadilah sang buah hati seorang yang takkan dilupakan sepanjang masa, Imam Ahlussunnah Ahmad bin Hambal Rahimahullah.

 

Ibunda Sang Syaikhul Islam, Ahmad Ibnu Taimiyah

Beliau memang tidak yatim sejak kecil, bahkan ia mempelajari agama ini mulanya dengan sang ayahanda yang juga seorang imam dizamannya.

Maka kisah kita dengan ibunda beliau terkait dengan permintaan maaf sang Imam, Ibnu Taimiyah kepada sang ibunda melalui suratnya menerangkan bahwa ia harus tinggal jauh dari sang ibu di negeri Mesir sana untuk mendakwahi umat.

kemudian hari datang lah jawaban yang sangat mengharukan dari sang ibunda:

“Wallahi,  justru memang untuk yang seperti inilah engkau kudidik, aku memang telah bernazar supaya engkau berkhidmat untuk agama dan kaum muslimin, dengan ilmu agama yang telah kuajarkan padamu!”

Wahai anakku!  Jangan engkau mengira aku lebih memilih engkau dekat denganku ketimbang  jauhmu yang untuk mengabdi kepada agama dan kaum muslimin, karena justru sebaliknya! puncak ridhoku padamu tergantung dengan seberapa besar kontribusimu bagi agama dan kaum muslimin!

Dan aku wahai anakku! Aku tidak akan menuntutmu kelak dihadapan Allah karena engkau jauh dariku! Karena aku tahu dimana dirimu dan untuk apa disana!

Akan tetapi wahai anakku! Aku akan menuntutmu dihadapan Allah jika ternyata engkau tidak melakukan yang terbaik untuk agama dan umat!

Renungilah isi surat diatas wahai Bunda! Balasan sang ibunda tersebut bukanlah spontan dan basa-basi, akan tetapi sebuah jawaban yang seakan memang sudah lama ia persiapkan bagi anaknya agar menjadi orang yang sesuai dengan apa yang ia harapkan dan siapkan sejak lama.

 

Ibunda Sang Penakluk Konstantinopel

Dunia tidak akan melupakan sejarah kehebatan benteng kota konstantinopel (sekarang Instanbul), ratusan tahun banyak kerajaan yang hendak menaklukkannya namun berakhir sia-sia, termasuk para sahabat Nabi yang sebagian dari mereka makamnya disekitaran benteng kokoh itu. Hingga di satu masa dibawah khilafah utsmaniyyah, penaklukkan kota yang diprediksi langsung oleh Nabi, akhirnya terjadi. Di bawah komando Sultan Muhammad Al Fatih yang kala itu bahkan belum berkepala dua. Namun dibalik catatan bersejarah yang hebat itu, ternyata terselip kisah sang sultan dimasa kecilnya dengan  ibundanya. Dikisahkan sang ibunda suatu kali diwaktu subuh memperlihatkan kepada anaknya yang masih kecil kemegahan benteng konstantinopel dari kejauhan,dan berkata:

“Kamu akan menaklukkan benteng ini Muhammad!,  karena namamu sesuai dengan yang dikabarkan Rasulullah!”. lalu sultan kecil menjawab: “wahai ibunda! Bagaimana bisa aku menaklukkan kota yang begitu besar ini?”, kemudian sang ibu menjawab dengan penuh hikmah: “Dengan Al Qur’an, Kekuasaan, Persenjataan dan Cinta rakyatmu!”.

Inilah kata-kata motivasi penuh hikmah dan cinta yang sesungguhnya dari sang ibunda yang dibawa anaknya menaklukkan kota terkuat itu! Sungguh disebalik kata-kata ada kekuatan yang tak terkira.

 

Diterjemahkan secara bebas dari makalah berbahasa arab pada situs hisbah Arab Saudi  https://almohtasb.com

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: