Agama Adalah Nasehat

agama_nasihat.jpg

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daary radhiallahu ‘anhu:

أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: “الدين النصيحة”. قلنا: لمن يا رسول الله؟ قال: “لله, و لكتابه, و لرسوله, و لأئمة المسلمين, و عامتهم .”

“Agama adalah nasihat. Kami bertanya:  “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim).

Makna lafadz hadits الدين النصيحة: makna nasehat adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Khatthabi:

نصح الرجل ثوبه إذا خاطه

“seorang laki-laki menjahit pakaiannya.” Maksudnya adalah menambal bagian bajunya yang berlubang. Sehingga orang yang memberi nasehat kepada saudaranya yang sesama muslim ia seakan-akan sedang menambal kekuarangan yang terdapat pada saudaranya tersebut.

Dari hadits ini kita dapat memetik beberapa pelajaran diantaranya:

Pertama, Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya nasehat menasehati dalam Islam. Karena syariat Islam tidak akan terlaksana kecuali jika ada yang memberitahu, mengajak, dan memberi peringatan yang semuanya adalah bentuk nasehat.

Imam Nawawi dalam syarahnya berkata:

هذا حديث عظيم الشأن، وعليه مدار الإسلام، وأما ما قاله جماعات من العلماء: إنه أحد أرباع الإسلام – أحد الأحاديث الأربعة التي تجمع الإسلام – فليس كما قالوه، بل المدار على هذا وحده”؛

“hadits ini memiliki posisi yang agung, dan padanyalah rotasi Islam. Sedangkan apa yang dikatakan oleh sekelompok ulama bahwasanya ia adalah seperempat bagian dari Islam (salah satu dari empat hadits yang merupakan pondasi Islam) adalah tidak seperti yang mereka katakan, rotasi Islam hanya berputar pada hadits ini saja.” (Syarhu Muslim, Karangan Imam Nawawi)

Kedua, hadits ini menjelaskan kepada siapa nasehat ditujukan, yaitu sebagai berikut:

  • Nasehat kepada Allah. Maksudnya adalah beriman kepada Allah dan menafikan segala sekutu baginya, serta mensifatinya dengan keagungan dan kesempurnaan yang mutlak diiringi dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
  • Nasehat kepada kitabNya. Syaikh As Sa’diy menjelaskan bahwa nasehat kepada kitabullah adalah dengan menghafalnya dan mentadabburinya, mempelajari lafadz-lafadz dan makna nya, dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan kandungannya.  (Asy Syarhul Kabiir ‘alal arba’in An Nawawiyyah, 187).
  • Nasehat kepada rasulnya. dengan meyakini bahwasanya ia adalah utusan Allah, mempercayai segala yang ia bawa, mentaati semua perintah dan larangannya, menolongnya baik dimasa hidup atau sepeninggalnya, meneladaninya dalam segala hal, serta mengamalkan sunnah-sunnahnya.
  • Nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin. dengan mendukung dan mentaati mereka dalam kebenaran, mengingatkan mereka dengan halus dan bijaksana dikala salah, dan memberitahu mereka apa kewajiban mereka terhadap kaum muslimin, serta mentaati mereka selama tidak dalam kemaksiatan, karena kita tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang Khalik.
  • Nasehat kepada orang muslim secara umum. Yaitu dengan mengajak mereka kepada apa yang lebih mashalahat baik dalam perkara dunia maupun akhirat, tidak mengganggu mereka, mengajari mereka perkara-perkara agama yang belum mereka ketahui, menutupi aib mereka, memberi nasehat yang baik kepada mereka serta mencintai kepada kmereka apa yang ia cintai kepada dirinya dan membernci kepada mereka apa yang ia benci kepada dirinya sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukhari & Muslim).

Ketiga, hadits ini menunjukkan bahwa menasehati pemimpin kaum muslimin lebih penting dibanding menasehati kaum muslimin secara umum. Karena benar atau tidak benarnya seorang pemimpin akan berpengaruh kepada orang-orang yang dibawahnya. Jika yang diatas lurus, maka untuk meluruskan yang dibawahnya lebih mudah.

Wallahu a’lam bisshawab

Diringkas dan diterjemahkan dari tulisan Syeikh Abdullah bin Hamud Al-Furaih

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: