Akan Ada dari Umat Ini yang Menyembah Berhala

patunglembuemas.jpg

Allah azza wajalla berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيباً مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلاً

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman (Qs. An-Nisa : 51)

 

Penjelasan :

Firman Allah ta’ala,   أَلَمْ تَرَ , Apakah kamu tidak memperhatikan (melihat) ? pertanyaan dalam ayat ini untuk menetapkan dan menunjukkan keta’juban. Dan “melihat” di sini adalah dengan pandangan mata, hal ini ditunjukkan oleh huruf  إِلَى  yang disebutkan sesudahnya, jika ungkapan “melihat” ditambah dengan إِلَى (yang bermakna,”kepada”)  berarti makananya adalah melihat dengan indra mata.

Adapun khitab dalam ayat ini ditujukkan, kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– atau kepada semua orang yang layak untuk diarahkan hal ini kepadanya, sehingga maknanya, “ tidaklah engkau melihat wahai orang yang diajak bicara ?

FirmanNya, إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا , kepada orang-orang yang diberi, mereka tidaklah diberi semua kitab, karena mereka diharamkan (dari mendapatkannya secara sempurna) disebabkan kerena penentangan yang mereka lakukan. Oleh karena itu pula, mareka tidak memiliki ilmu secara sempurna tentang yang ada di dalam al-Kitab.

FirmanNya, نَصِيباً مِنَ الْكِتَابِ , bagian dari Al kitab, yang diturunkan. Dan, yang dimaksdu dengan ‘al-Kitab di sini adalah Taurat dan Injil. Mereka menyebutkan contohnya untuk hal tersebut, misalnya adalah Ka’ab bin al-Asyraf ketika ia datang ke Makkah, maka orang-orang Musyrik berkumpul di sisinya, dan mereka berkata: ‘apa yang engkau katakan tentang laki-laki ini (yakni, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– yang membodoh-bodohi mimpi-mimpi kami dan ia mengaku bahwa dirinya adalah lebih baik daripada kami ? maka Ka’ab pun berkata kepada mereka, ‘kalian lebih baik daripada Muhammad, dan oleh karena ini disebutkan dalam akhir ayat,

وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلاً

Dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman .

firmanNya,

يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ

Mereka percaya kepada jibt dan thaghut.

Yakni, membenarkan kedua hal itu, mereka menetapkan keduanya dan tidak mengingkarinya, maka bila seorang mengakui dan menetapkan dua berhala ini, maka ia telah mengimani keduanya.

Adapun yang dimaksud dengan, “jibt, ada yang mengatakan: “ Sihir”, dan ada yang mengatakan: “Shanam” (patung). Yang paling benar adalah bahwa maknanya umum meliputi patung atau sihir, atau perdukunan atau yang serupa dengan hal itu.

Adapun الطاغوت thaghu, yaitu Segala hal yang seorang hamba melampaui batasnya baik berupa sesuatu yang disembah, atau sesuatu yang diikuti, atau sesuatu yang ditaati. Sesuatu yang disembah seperti patung. Sesuatu yang diikuti seperti para ulama yang sesat. Sesuatu yang ditaati seperti para pemimpin. Maka, mentaati mereka dalam hal mengharamkan (tidak membolehkan) sesatu yang dihalalkan (dibolehkan oleh) Allah, atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah termasuk kategori beribadah kepada mereka hukumnya adalah Haram. Dan yang dimaksud adalah siapa yang ridha untuk beribadah kepada mereka. Atau, dikatakan ia adalah thaghut dari sisi orang-orang yang menjadikannya sebagai sesembahan; karena tindakan mereka tersebut telah melampaui batasannya, di mana mereka mendudukkannya di atas kedudukan yang telah ditetapkan oleh Allah baginya, sehingga peribadatan mereka terhadap sesuatu yang disembah tersebut merupakan bentuk yang melampaui batas karena tindakan mereka tersebut yang melampaui batas.

Kata, الطاغوت thaghut , diambil dari kata  الطغيان , maka setiap perkara yang mana seseorang melampaui batasannya dikategorikan sebagai tindakan melampaui batas.

Sisi korelasi ayat ini dengan bab yang disebutkan tidak begitu nampak kecuali dengan hadits yang disebutkan dalam bab ini, yaitu sabda beliau:

لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Niscaya kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian”.

Maka, bila mana orang-orang yang diberikan kepada mereka bagian dari al-Kitab mengimani, mempercayai, membenarkan terhadap “jibt” dan “thaghut” dan bahwa umat ini –yakni-, umat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam– akan ada yang mengikuti tradisi orang-orang terdahulu, hal ini berkonsekwensi bahwa akan ada dari umat ini yang mempercayai, mengimani dan membenarkan “jibti” dan “thaghut”, sehingga ayat yang disebutkan oleh pengarang selaras sekali dengan judul bab ini.
Faedah :

Di antara faedah dalam ayat ini adalah,

  1. Bahwa termasuk hal yang mengherankan adalah seseorang yang diberi sebagian dari kitab kemudian ia justru mengimani dan membenarkan “jibt” dan “thaghut”.
  2. Bahwa ilmu terkadang atau boleh jadi tidak membentengi pemiliknya dari melakukan kemaksiatan dan penentangan. Hal itu, karena -sebagaimana dalam ayat ini- bahwa orang-orang yang diberikan kepadanya pengetahuan tentang sebagian dari kandungan al-Kitab mereka justru menyakini “jibt” dan “thaghut” dan orang yang beriman dengan kekufuran, ia pun akan mengimani sesuatu yang dibawahnya berupa tindakan kemaksiatan.
  3. Wajibnya mengingkari “jibt” dan “thaghut”, karena Allah menyebutkan iman kepada kedua hal tersebut merupakan hal yang mengherankan dan kehinaan. Oleh karena itu, tidak boleh membenarkan “jibt” dan “thaghut “
  4. Maksud penulis menyebutkan perkara ini adalah menerangkan bahwasanya ada orang di kalangan umat ini (umat Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– yang mempercayai, mengimani dan membenarkan “jibt” dan “thaghut”, berdasarkan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-:

لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Niscaya ada yang akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian”.
Maka, bila mana ada di kalangan bani Israil yang membenarkan “jibt” dan “thaghut”, niscaya akan ada juga di kalangan umat ini yang membenarkan “jibt” dan “thaghut”. Wallahu a’lam

 

Semoga Allah melindungi kita dari keimanan yang salah. Melindungi kita dari melakukan praktek penyipangan dengan segala bentuk dan ragamnya, seperti menjadikan “thaghut” sebagai sesuatu yang disembah, atau melakukan praktek sihir dan lain sebagainya.  Amin
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam– beserta keluarga dan para sahabatnya.

 

Sumber :

Diadaptasi dari “al-Qaulu al-Mufiid ‘Ala Kitabi at-Tauhid” 1/456, 460, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -semoga Allah merahmatinya-, dengan gubahan.

 

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: