Akibat Berbuat Maksiat (3)

Akibat-Berbuat-Maksiat-1.jpg

Pertarungan antara baik dan jahat akan selalu ada sampai hari kiamat. Permusuhan antara Iblis dan anak Adam juga akan senantiasa ada sampai hari kiamat. Manusia akan selalu berada ditepi jurang kemaksiatan bilamana ia tidak selalu menjaga iman dan kebersihan jiwanya. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَد أَفلَحَ مَن زَكَّىٰهَا. وَقَد خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Jiwa manusia akan terkotori bilamana ia melakukan maksiat, karena itu kita harus tahu dampak buruk perbuatan maksiat agar kita membentengi diri kita dan menjauh dari maksiat. Berikut kami paparkan beberapa dampak maksiat yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah:

Maksiat membuat hati menjadi tertutup

Dosa-dosa yang semakin menumpuk akan membuat hati pelakunya menjadi tertutup dan membuatnya menjadi orang yang lalai. Allah berfirman:

كَلَّا بَل رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُواْ يَكسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Para salaf berkata, “yang dimaksud dalam ayat ini adalah dosa yang kemudian dilanjutkan dengan dosa yang lain.”

Hasan Al-Bashriy berkata, “itu adalah dosa yang ditumpuk bersama dosa yang lain sehingga membuat hati menjadi tertutup.”

Ulama lain berkata, “ketika dosa dan maksiat mereka semakin menumpuk, hati mereka menjadi tertutup.”

Maksiat akan mengotori hati, semakin banyak maksiat semakin banyak pula bagian hati yang terkotori sampai pada akhirnya hati tersebut akan tertutup, kemudian dengan semakin tebalnya dosa, tutup ini akhirnya menjadi kunci mati bagi hati. Kalau hati sudah mati dan terkunci maka mudah bagi setan menggiring orang tersebut dan mempermainkannya kemanapun ia mau.

Maksiat dapat menjadikan seseorang terkena laknat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

Pelaku maksiat dapat terkena laknat Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, karena beliau melaknat pelaku dosa-dosa tertentu, diantaranya:

Orang yang memakai atau memasang tato, orang yang memakan harta riba atau memberikannya atau menulis transaksinya atau menjadi saksi terhadap transaksi riba, orang yang mencuri, orang yang meminum minuman keras atau menjualnya atau membelinya atau memakan untungnya atau memerasnya atau membawanya atau yang memesannya, orang yang melaknat kedua orang tuanya, orang lelaki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya, orang yang berbuat perbuatan kaum Nabi Luth alaihissalam (homoseksual), orang yang memberi suap atau menerimanya atau menjadi perantaranya, dan masih banyak lagi perbuatan-perbuatan maksiat lain yang beliau laknat.

Maksiat akan menghilangkan rasa malu

Diantara dampak buruk dari perbuatan maksiatan adalah hilangnya rasaa malu dari si pelaku, padahal rasa malu adalah tanda kehidupan bagi hati, ia adalah sumber dari segala kebaikan sehingga hilangnya rasa malu berarti hilangnya semua kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ

Rasa malu adalah kebaikan seluruhnya atau rasa malu seluruhnya adalah kebaikan.” (HR. Muslim)

Orang yang sudah terbiasa dengan maksiat akan kehilangan rasa malu, bahkan ia bisa tidak memiliki rasa malu sama sekali, sehingga ia tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya, ia berbuat apapun yang ia mau sesuka hati. Orang yang bermaksiat tidak malu terhadap pandangan Allah kepadanya, sehingga tidak heran jika dia juga tidak malu kepada orang lain yang melihatnya.

Kata حياء (malu) diambil dari kata حياة (kehidupan) karena orang yang dalam hidupnya tidak memiliki rasa malu didunia akan dianggap seperti orang mati dan di akhirat ia akan merugi. Ada keterkaitan antara berbuat dosa dan tidak adanya rasa malu, masing-masing disebabkan oleh yang lain, berbuat maksiat disebabkan karena tidak adanya rasa malu, begitu juga tidak adanya rasa malu akan mendorong seseorang untuk berbuat maksiat.

Inilah beberapa dampak buruk maksiat bagi manusia menurut Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dan masih banyak lagi dampak lain yang beliau sebutkan yang insyallah akan kami paparkan di artikel-artikel mendatang, semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Al-Jawabul Kafi’ karya Ibnul Qoyyim rahimahullah

Bersambung… … …

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: