Aku Memilih Allah dan Rasu-Nya

bunga-tulip-flower-wallpaper-10881851.jpg

Juwairiyah binti Harits, salah seorang Ummul Mukminin yang lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah –subahanahu wa ta’ala– daripada dunia dan keindahannya. Padahal mereka dalam kehidupan yang lapang, dan tenang di bawah naungan bapakknya yang merupakan seorang tokoh kaumnya.

Pada saat ditawarkan kepadanya untuk memilih antara (hidup dalam) kehidupannya tersebut atau hidup bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-  yang jauh dari kehidupan dunia dan keindahannya, beliau memilih Allah dan RasulNya. Beliau mengetahui hasil yang dapat dipetik oleh orang yang menempuh jalan tersebut. Sebagaimana Rabb kita Allah yang Maha Pengasih telah menetapkan hal itu dalam al-Qur’an:

وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

“Dan jika kalian menghendaki (keridhaan) Allah dan RasulNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat kebaikan di antara kalian pahala yang besar.”

(Qs. Al-Ahzab : 29)

Dalam biografi beliau disebutkan, bahwa ketika beliau termasuk di antara wanita yang tertawan dalam perang al-Muraisi; tahun kelima atau tahun keenam hijriyah, Rasulullah memerdekakannya dengan cara kitabah (memerdekakan budak dengan cara mengangsur) dan menikahinya setelah mendapatkan izin darinya.

Bapaknya datang (kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– dan berkata (kepada beliau):”Sesungguhnya anak seperti anakku ini tidak layak untuk ditawan, lepaskanlah dia! Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– menjawab:” Aku telah menawarkan pilihan kepadanya, apakah aku tidak berbuat baik kepadanya? Dia menjawab: “Ya”. Kemudian bapaknya mendatanginya dan menjelaskan kepadanya tentang tawaran Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– tersebut, dia menjawab:” Aku memilih Allah dan RasulNya.”

(Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah, 4/265, dia berkata: “ Hadits ini salah satu dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qilabah secara mursal… dan sanadnya shahih.)

Wallahu a’lam

Sumber :

Duruusun Min Hayaati ash-Shahabiyaat, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, hal. 52-53 (Edisi Bahasa Indonesia)

Amar Abdullah bin Syakir
Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: