Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Kepada Keluarga (2)

bunga-kuning.jpg

Pada edisi yang lalu, kita telah menyebutkan beberapa dalil yang menunjukkan disyariatkannya beramar ma’ruf nahi mungkar.

Pada edisi kali ini akan kami sebutkan beberapa dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menunjukkan wajibnya beramar ma’ruf Nahi Mungkar kepada anggota keluarga.

Saudaraku, semoga Allah merahmati Anda.

Selain dalil-dalil umum yang menunjukkan perintah dakwah kepada seluruh manusia, terdapat juga dalil-dalil yang menunjukkan perintah bahkan kewajiban menegakkan dakwah kepada keluarga dan kerabat terdekat. Orang tua, tentu saja tergolong keluarga terdekat seseorang. Diantara  dalil tersebut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (الشعراء : 214)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” ( Qs. Asy-Syu’aro : 214)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan nabiNya untuk memberi peringatan kepada keluarga beliau yang terdekat.

Allah ‘azza wajalla secara khusus menyebut mereka untuk menunjukkan pentingnya memberi peringatan kepada mereka.

Saudaraku…

Ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menunaikan kewajiban ini yaitu dengan memberi peringatan kepada keluarga yang dekat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib : “Ketika ayat (yang artinya) ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat’, turun, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan keluarganya. Lalu berkumpullah 30 orang dari mereka. Setelah mereka makan dan minum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Siapakah yang berani menjamin utang dan janji-janjiku dengan balasan ia akan bersamaku di dalam Surga dan menjadi penggantiku dalam keluargaku?” seseorang lalu menjawab, “Ya Rasulullah, engkau adalah orang yang sangat dermawan. Siapakah yang dapat melakukannya?!” orang yang lain juga mengatakan hal yang sama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menawarkan kepada penghuni rumahnya. Akhirnya, Ali berkata, “Saya bersedia.” (Al-Musnad (2/69) dan Ahmad Syakir menghasankan sanadnya.

Saudaraku…

Pada kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberi peringatan kepada keluarganya.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, setelah ayat (yang artinya), “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, turun, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke bukit shafa. Beliau berseru dengan  menyebut suku-suku Quraisy : “Wahai Bani Fahr dan bani Adiy!” Hingga mereka semuanya berkumpul. Sampai-sampai seseorang mengirim utusannya untuk menghadiri jika ia sendiri berhalangan. Beliau kemudian bersabda, “Seandainya aku memberitahukan kepada kalian bahwa ada pasukan di wadi (lembah) ini yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayai perkataanku?” Mereka menjawab, “Ya kami tidak mengenalmu selain orang yang jujur”, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya aku memperingatkan kalian dari datangnya adzab yang keras.” Abu Lahab menyela, “Celakalah engkau sepanjang hari ini, apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?”, maka turunlah firman Allah (yang artinya), “Binasalah kedua tangan Abu Lahab.” (QS. Al-Lahab : 1). (Shahih al-Bukhori, 8/501)

Saudaraku…

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Ketika Allah menurunkan firmanNya, (yang artinya), “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dan berkata : “Wahai orang-orang Quraisy (atau kalimat semacamnya) selamatkan diri kalian, aku tidak dapat menolong kalian sedikitpun dari siksa Allah! ya Bani Abdi Manaf, aku tidak dapat menolong kalian sedikitpun dari siksa Allah! ya Abbas bin Abdul Muththalib, aku tidak dapat menolongmu sedikitpun dari siksa Allah! ya Shafiyyah, bibi Rosulullah, aku tidak dapat menolongmu sedikitpun dari siksa Allah! ya Fathimah binti Muhammad, mintalah padaku berapapun dari hartaku, aku tidak dapat menolongmu sedikitpun dari siksa Allah.”

Saudaraku…

Dua hadis yang telah kita kemukakan yang berisikan peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada paman dan bibi beliau. Sebagaimana kita ketahui, kedudukan paman sama dengan kedudukan bapak, sebagaimana hal itu ditandaskan sendiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

العباس عم رسول الله وإن عم الرجل صنو أبيه أومن صنو أبيه

“Abbas adalah paman Rasulullah, sesungguhnya paman seseorang sama dengan bapaknya.”

Al-Mubarokfuri menjelaskan makna hadis ini bahwa karena paman dan bapak berasal dari seorang bapak yang satu, maka memuliakan paman sama seperti memuliakan bapak, dan demikian pula menyakitinya. (Tuhfatul Ahwazi, 10/181).  Wallahu a’lam.

bersambung … insya Allah.


Artikel: www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: