Anak Durhaka: Apa Sebabnya?

21534521_1998134273798824_211899462_o.jpg

Allah Ta’ala berpesan kepada Anak Adam:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS Lukman: 14)

 

Allah Ta’ala memerintahkan agar kita berbakti kepada keduanya, menjauhi apa-apa yang dapat membuat keduanya marah, dan sungguh-sungguh dalam menuruti keinginan keduanya selama masih dalam cakupan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Bahkan meskipun kiranya keduanya non muslim sekalipun, tetap Allah Ta’ala memerintahkan agar berbuat baik kepada keduanya dan menemani mereka selama masih hidup dengan kasih sayang. Yang demikian itu di karenakan jasa-jasa keduanya atas sang anak, mereka telah bersusah payah sejak kelahirannya, mendidiknya dengan sungguh-sungguh, bahkan mereka mendahulukan kebutuhan anak atas diri mereka sendiri, dengan jujur dan ikhlas mereka mencintai sang anak, mereka begadang jika si anak sakit, mereka gundah jika sang anak kesusahan, dan mereka turut bahagia jika si anak senang; itu semua karena anak tersebut merupakan darah daging mereka. Maka untuk membalas semua kebaikan itu lah Islam mewajibkan bakti akan keduanya, terlebih lagi di masa tua keduanya, karena itu merupakan saat dimana mereka sudah sangat lemah dan membutuhkan sang anak untuk mengurus keduanya, sebagaimana keduanya mengurus si anak dikala ia masih kecil, lemah dan belum bisa berbuat apa-apa.

 

Dan Allah Ta’ala pun menyandingkan antara mentaati orangtua dengan ketaatan kepada-Nya, dan bahkan Allah Ta’ala mempercepat balasannya selagi ia di dunia; yaitu karma, barangsiapa yang berbakti kepada orangtuanya, maka kelak anak-anaknya juga akan berbakti kepadanya, dan bagi siapa yang durhaka kepada orangtuanya, maka kelak anaknya pun akan mendurhakainya. Dan khususnya bagi bakti kepada seorang ibu; sebab jasanya lah yang paling besar dalam merawat anak dan mendidiknya. Seorang ibu rela begadang untuk menjaganya, bahkan sebelum itu semua, ia telah bersusah payah mengandung dan menyapih bayinya, dan mengesampingkan rasa lelah dan suntuknya, itu semua demi cintanya kepada buah hatinya. Maka dari itu semua lah, Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutamakan bakti kepada orangtua diatas kewajiban jihad fi sabilillah ta’ala (bagi seorang anak).

 

Maka dari itu semua, wajib bagi seorang anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya, terkhusus di masa tua mereka. Dan hendaklah seorang anak selalu berusaha untuk menyenangkan keduanya, dan mengutamakan mereka dari selain mereka, bahkan atas dirinya, istri dan anak-anaknya sekalipun.

 

Akan tetapi untuk mendapatkan anak-anak saleh yang berbakti, pertama-tama orangtua harus menjalankan beberapa kiatnya terlebih dahulu; yang pertama sekali adalah memilih pasangan hidup yang tepat, tidak sembarangan. Kemudian ketika sang anak lahir, agar diberikan nama yang baik pula, kemudian mengajarinya Al Qur’an, dan memahamkannya tentang dasar-dasar agama, bahkan orangtua juga harus menuntun anak-anak mereka agar menjadi anak yang berbakti; yaitu jangan sampai tidak memperhatikan perkembangan dan kebutuhan mereka, dan menjadi contoh yang baik dengan memperlihatkan kepada mereka bahwa ayah mereka berbakti kepada kakek mereka. Karena hal ini merupakan salah satu sebab utama yang menjadikan anak durhaka, bilamana seorang bapak sendiri durhakan kepada kakek anaknya, maka karma Allah Ta’ala atasnya, anaknya pun akan mendurhakainya sebagaimana yang telah kita jelaskan, dan sebaliknya.

 

Di jaman modern ini tindakan durhaka kepada orang tua semakin menjadi-jadi, ia telah menjadi hal biasa dan bahkan seakan ia trend. Seorang anak, terkhususnya remaja puber, menyangka bahwa ia akan lebih di hargai dengan melawan kepada orangtua dan berteriak-teriak kepada mereka, diakui kedewasaan dan keberadaannya oleh teman-temannya, dan seterusnya.

 

Fenomena diatas bukan terjadi tanpa sebab, akan tetapi ia didahului dengan keteledoran orangtua juga dalam hal menjaga dan membentuk karakter anak mereka. Ada sebab-sebab yang tampak maupun yang tidak terlihat namun cukup mempengaruhi, yang tampak misalnya orangtua melepas kontrol begitu saja dengan tontonan sang anak, sebagaimana yang kita akui bersama, film-film yang ditayangkan di televisi tersebut sebagian besarnya sangat tidak mendidik, bahkan cenderung menampilkan adegan dimana anak-anak digambarkan sebagai orang sangat dibenci oleh orangtua, sehingga kemudian disiksa tanpa ampun. maka kemudian pesan yang ditangkap oleh si anak dari tayangan tersebut adalah wajib baginya untuk segera membebaskan diri dari cengkraman orangtua, menjauhi keduanya, hingga sampai kepada titik ia merasa bahwa orangtua tidak berhak untuk mencampuri dan mengurus urusannya. Maka ini semua sejatinya merupakan propaganda barat, kerusakan yang mereka kirim melalui film-film mereka, sehingga akal anak-anak kaum muslimin teracuni.

 

Kemudian juga yang tak tampak dan tak terasa melalui buku-buku psikologi yang mereka terbitkan, teori-teori psikologi anak yang menyesatkan para orangtua kaum muslimin yang ingin mendidik anak mereka; teori psikologi yang orientasinya adalah materi dan toleransi yang bablas, sehingga para orangtua hanya fokus mendidik anak untuk menjadi sukses dalam karir dan kehidupan mereka kedepannya, tanpa memperhatikan hubungan si anak dengan Rabbnya dan bahkan untuk ukhuwwah sesama muslim. Kemudian toleransi yang bebas; para orangtua di dikte barat bahwa setiap anak memiliki fase puberitas, yang mana dalam fase tersebut keadaan psikologi sang anak masih labil, sehingga dianjurkan untuk tidak terlalu mengekang mereka, biarkan mereka menemukan jatidiri mereka sendiri, dan seterusnya. Maka kita dapati anak-anak muda yang akhirnya jatuh ke dalam kubangan maksiat, rokok, minuman keras, obat terlarang dll, disebabkan kurangnya kontrol orangtua mereka atas nama “BIARKAN MEREKA MENEMUKAN JATI DIRI MEREKA SENDIRI”!.

 

Maka untukmu wahai bapak, ibu, calon bapak, calon ibu! Bacalah kisah-kisah tentang birrul waalidain, bacalah kisah Uwais Al Qarni, bacalah hadits tentang anak yang disuruh pulang kepada kedua orangtuanya oleh Rasulullah padahal anak tersebut meminta untuk ikut berjihad! Bacalah kisah tentang pemuda-pemuda disekitar Rasulllah! Ada Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu yang ahli hadits, ada Ibnu Abbas yang ahli tafsir, ada Zaid bin Tsabit sang pembuku Al Qur’an! Kesemua dari mereka adalah para sahabat yang baru berumur belasan tahun ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, alias mereka anak puber dalam bahasa terkini! Maka tidak kita dapati mereka liar seperti anak-anak muda sekarang, bahkan mereka produktif dan berjasa besar, sedangkan anak-anak kita diumur belasan hanya membuang-buang waktu tiap harinya didepan gadget dan monitor.

Maka wahai orangtua, renungi kembali metode yang selama ini anda gunakan, akankah ia sudah sesuai dengan psikologi islam? Ataukan ternyata ia merupakan produksi barat?

 

Sumber:

http://mawdoo3.com

dengan perubahan.

Muhammad Hadhrami, Mahasiswa Fakultas Syari’ah LIPIA JAKARTA.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: