Anda Terjerat Riba? Ini Solusinya!

koin-emas.jpg

Mungkin, Anda pernah melakukan transaksi ribawi, seperti hutang ke seseorang senilai katakanlah Rp. 10.000.000, Anda sepakat dengan orang yang memberikan pinjaman kepada Anda bahwa Anda akan mengembalikannya 2 tahun mendatang. Dan Anda pun ridho bahwa pada saatnya Anda mengembalikan pinjaman uang tersebut Anda diwajibkan memberikan lebih dari nilai uang yang telah Anda pinjam tersebut, misalnya, Rp.11.000.000, berarti ada tambahan sebanyak Rp. 1.000.000. Ketahuilah ini adalah transaksi ribawi yang haram hukumnya. Maka, hal ini tidak dibenarkan sekalipun Anda melakukannya secara ridho atau saling rela. Hal demikian ini karena Anda ridha atau saling rela terhadap sesuatu yang tidak diridhoi Allah dan RasulNya.

Ibnu Sa’di -di dalam kitabnya, “AlQawaid wal Ushul AlJamiah mengatakan, “Semua transaksi baik transaksi jual beli, sewa menyewa, investasi dan selainnya yang para pelakunya sudah saling rela akan tetapi syariat melarangnya maka transaksi tersebut adalah transaksi haram yang batal. Kerelaan semua pelaku tidaklah teranggap karena kerelaan pelaku transaksi adalah syarat sah transaksi setelah ada keridhoan Allah dan rasul-Nya terhadap transaksi tersebut”.

Kaedah di atas berdasarkan hadits:

كُلُّ شَرْطٍ خَالَفَ كِتَابَ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ

Segala persyaratan atau perjanjian yang tidak terdapat dalam hukum Allah adalah persyaratan yang batil.” (HR. Bukhari)

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Kaum muslimin itu terikat dengan segala perjanjian yang mereka sepakati kecuali perjanjian yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.” (HR. Ath-Tahbrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir,no. 30)

Abu Sa’id mengatakan

جَاءَ بِلاَلٌ بِتَمْرٍ بَرْنِىٍّ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «مِنْ أَيْنَ هَذَا». فَقَالَ بِلاَلٌ تَمْرٌ كَانَ عِنْدَنَا رَدِىءٌ فَبِعْتُ مِنْهُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ لِمَطْعَمِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عِنْدَ ذَلِكَ «أَوَّهْ عَيْنُ الرِّبَا لاَ تَفْعَلْ وَلَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَشْتَرِىَ التَّمْرَ فَبِعْهُ بِبَيْعٍ آخَرَ ثُمَّ اشْتَرِ بِهِ».

Bilal pernah datang dengan membawa Kurma barni (yakni, salah satu jenis kurma yang bagus). Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, Dari manakah (kurma) ini? Maka Bilal pun menjawab, “Sebuah kurma yang jelek (kualitasnya) yang awalnya kami miliki, lalu kami menjual dua sha jenis kurma jelek tersebut dengan kurma yang bagus ini, untuk disuguhkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, (mendengar penuturannya tersebut) seketika itu pula beliau bersabda, Ini adalah riba senyatanya, janganlah engkau lakukan. Jika engkau ingin membeli kurma yang bagus ini maka juallah terlebih dahulu kurama yang jelek tersebut, kemudian hasilnya engkau gunakan untuk membeli kurma yang bagus tersebut.” (HR. Muslim, no. 4167)

Dalam hadits di atas,

Nabi memerintahkan untuk menjual kurma yang jelek terlebih dahulu, lalu hasilnya digunakan untuk membeli kurma yang berkualitas bagus. Hal demikian itu sebagai solusi keluar dari transaksi ribawi yang jelas keharamannya.

Semua transaksi yang haram itu objek transaksinya wajib dikembalikan.

Jika objek transaksi tidak mungkin dikembalikan, misalnya ada orang yang karena tidak mengetahui bahwa ada riba dalam transaksi yang dia lakukan akhirnya dia berhutang dengan sistem riba. Ketika ada yang mengingatkan bahwa transaksi yang dia lakukan adalah riba, orang yang berhutang tersebut menemui pihak yang menghutanginya dan meminta kerelaannya agar dia tidak perlu bayar bunga pinjaman utang namun pihak yang menghutangi menolak permintaan tersebut.

Dalam kondisi semacam ini,

kewajiban pihak yang berhutang yang merupakan pihak yang dizhalimi adalah bertaubat kepada Allah dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatannya untuk berhutang dengan sistem ribawi dan tidak ada tanggungan dosa atasnya karena dia memang tidak mampu membebaskan diri dari ikatan transaksi tersebut.

Sedangkan dosa adalah

tanggungan pihak yang membungakan hutang, karena sebenarnya dia bisa membebaskan orang yang berutang dari riba dengan menghapus kewajiban membayarkan bunga namun dia tidak mau melakukannya.

Akan tetapi jika pihak yang berhutang dan yang menghutangi sama-sama mengetahui bahwa yang dilakukan adalah transaksi riba, maka uang bunga alias riba tidak kita kembalikan kepada pihak yang berhutang yang merupakan pihak yang telah mendapatkan manfaat dari uang milik pihak yang menghutangi. Kita ambil uang bunga tersebut dari pihak yang menghutangi lantas kita salurkan untuk berbagai kepentingan umum. Hal demikian itu dikarenakan pihak yang dirugikan yaitu orang yang berhutang itu bersedia menjadi nasabah riba dalam kondisi sadar bahwa itu riba maka tidak boleh baginya mendapatkan dua hal sekaligus yaitu mendapatkan manfaat dari pihak yang menghutangi dan mendapatkan pengembalian uang bunga atau riba. Wallahu a’lam.

Referensi :

  1. AlQawaid wal Ushul AlJamiah, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
  2. Ta’liq AlQawaid wal Ushul AlJamiah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Penyusun : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah.net di Fans Page Hisbah

Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: