Antara Keinginan Dunia dan Akhirat

Antara-Keinginan-Dunia-dan-Akhirat.jpg

Siapapun menginginkan kekayaan, jabatan, dan populeritas. Terkadang ketika melihat istri atau suami orang lain lebih cantik atau ganteng kita ingin seperti mereka. Lalu bertanya. Kenapa rumahku tidak seluas rumah mereka? Kenapa gajiku tidak sebesar mereka? Kenapa dan kenapa?

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يُنَافِسُكَ فِي الدُّنْيَا فَنَافِسْهُ فِي الآخِرَةِ

“Jika engkau melihat seseorang yang mengalahkanmu dalam perkara dunia, maka kalahkanlah ia dalam perkara akhirat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Az Zuhd)

Jadikanlah nasihat diatas menjadi motor penggerak dalam hati kita. Jangan sampai kita beribadah seadanya. Sedekah sisa, shalat terlambat. Tapi keingin ingin segera dikabulkan Allah. Lihatlah sahabat Nabi bagaimana semangat mereka dalam masalah ibadah.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa ia telah menikahi wanita dari Quraisy, namun ia tidaklah mendatanginya (menyetubuhinya) karena sibuk puasa dan shalat (malam). Lalu ia menceritakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda, “Berpuasalah setiap bulannya selama tiga hari”. “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan padanya, “Puasalah sehari dan tidak berpuasa sehari”.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berkata padanya, “Khatamkanlah Al Qur’an dalam sebulan sekali”. “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 15 hari”. “Aku mampu lebih daripada itu”, jawabnya. Kalau begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Khatamkanlah Al Qur’an setiap 7 hari”. Lalu ia terus menjawab yang sama sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Khatamkanlah setiap 3 hari”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Ingatlah setiap amalan itu ada masa semangatnya. Siapa yang semangatnya dalam koridor ajaranku, maka ia sungguh beruntung. Namun siapa yang sampai futur (malas) hingga keluar dari ajaranku, maka dialah yang binasa.” (HR. Ahmad 2: 188. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, demikian kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Mereka selalu ingin sempurna dalam beramal. Namun mereka masih dihinggapi rasa takut akan akhirat. Bagaimana dengan kita? amalan sedikit tapi merasa aman dari ancaman akhirat?

Jakarta, 16 Syawwal 1436 H.

Penulis : Endang Hermawan Abu Rufaydah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: