Antara Ummu Dahdah dan Abu Dahdah

Ummu-Dahdah.jpg

Kitab-kitab hadis dan Sirah telah mencatat akhlak mulia yang dimiliki oleh Abu Dahdah-semoga Allah meridhainya-. Yaitu, ketika ia menyedekahkan semua hartanya kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Dia berkata, “Aku memiliki dua kebun, yang satu di dataran rendah sana dan yang lain di atas sana. Demi Allah, aku tidak memiliki yang lainnya. Aku telah menjadikan keduanya sebagai pinjaman untuk Allah-subhanahu wata’ala-“.

Kemudian dia pergi hingga bertemu dengan istrinya, sedangkan pada saat itu istrinya bersama anak-anaknya berada di dalam kebun berjalan-jalan di bawah pohon kurma. Dia berkata,

Semoga Allah memberimu petunjuk ke jalan yang lurus,

Jalan kebaikan dan kebenaran.

Menjauhlah dari tembok (kebun) itu dengan suka rela

Karena dia telah menjadi pinjaman hingga Hari Kiamat,

Sengaja aku meminjamkannya kepada Allah dengan tawakkalku,

Dengan suka rela, tanpa mengumpat dan tanpa ragu,

selain mengharap agar dilipat gandakan di hari yang dijanjikan.

Maka keluarlah kamu bersama anakmu.

Kebaikan adalah bekal yang paling utama.

Yang akan dibawa seseorang di Hari kebangkitan kelak.

Di sini, apakah yang dibayangkan orang terhadap sikap seorang istri yang telah mengambil darinya sesuatu yang paling indah dari harta yang dia cintai dan sebaik-baik yang dia miliki bersama suaminya ?

Ketika tidak ada keimanan yang kuat di dalam hati, pasti sikap yang akan muncul adalah melarang, menolak, dan rasa berat hati… dan lainnya. Akan tetapi ketika sang istri memiliki keimanan yang mendalam serta akidah yang kuat, dan dia yakin dengan apa yang akan diberikan Allah azza wajalla bagi hambaNya yang bersedekah, maka akan berbeda dengan yang tadi.

Dia akan menerimanya dan bergembira dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, bahkan dia juga akan mendukung dan mendorongnya di dalam keputusan yang mulia itu.

Begitulah yang terjadi pada Ummu Dahdah –semoga Allah meridhainya-, ketika dia mendengar sang suami, Abu Dahdah mengucapkan perkataannya tadi, dia menjawabnya dengan perkataan yang keluar dari seorang wanita yang beriman dan bersabar serta mengharapkan apa yang ada di sisi Allah di akhirat nanti.

Dia menjawabnya dengan berkata, “Perniagaanmu telah beruntung, semoga Allah memberkahi apa yang telah engkau beli.” Kemudian ia berkata,

Allah telah memberikan kabar gembira kepadamu dengan kebaikan dan kebahagiaan

Orang sepertimu telah menunaikan apa yang dimilikinya dan telah memberi nasehat

Allah telah memberi nikmat dan mengaruniai keluargaku

Kurma ajwa yang hitam dan balah yang siap dimakan

Seorang hamba hanya berusaha, dan dia akan memperoleh apa yang telah dia upayakan sepanjang malam

Dan dia akan mendapatkan balasan dari dosa yang dilakukannya (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, al-Qurthubiy, 3/238)

Wallahu a’lam

Sumber :

Duruusun Min Hayaati ash-Shahabiyaat, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, hal. 80 (Edisi Bahasa Indonesia)

 

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: