Apakah Barang Ribawi Sebatas yang Disebutkan Nabi?

timbangan-emas.jpg

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

 

Kita katakan, bahwasanya sebagian dari barang-barang ribawi telah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sebagian yang lain telah ditambahkan oleh para ulama’ karena kesamaan illat (sebab) dengan barang-barang riba yang nabi sebutkan, seperti Emas, perak, gandum halus, gandum kasar, kurma, dan garam.

Dalam hadits Ma’mar dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Nabi bersabda,

الطَّعَام بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ

“Makanan ditukar dengan makanan harus sama.”

Apakah barang-barang ribawiyah itu hanya terdiri dari nama-nama yang Nabi sebutkan atau setiap barang yang memiliki sifat seperti barang yang Nabi sebutkan?

  • Pendapat pertama: Kaum Zhahiriyah mengatakan bahwasanya barang ribawiyah itu hanya nama-nama yang Nabi sebutkan saja. Adapun selainnya maka tidak termasuk barang ribawiyah. Ini adalah pendapat Ibnu Uqail dari madzhab Hambali.
  • Pendapat kedua: Bahwasanya barang-barang ribawiyah itu tidak hanya terbatas pada barang-barang yang disebutkan oleh Nabi saja, namun juga tercakup setiap barang yang memiliki kesamaan sifat dengan barang-barang yang disebutkan Nabi itu.

Dari pendapat ini, para ulama kemudian berbeda pendapat tentang illat (sebab atau alasan) barang-barang yang disebutkan Nabi sehingga disebut sebagai barang-barang ribawi. Sebagaimana yang kita sebutkan sebelumnya bahwa Nabi menyebutkan barang-barang ribawiyah berupa emas, perak, gandum halus, gandum kasar, kurma dan garam.

Perbedaan pendapat yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

  • Pendapat pertama: Bahwa illat dari emas dan perak adalah ukuran timbangan. Adapun barang-barang selainnya yang empat (yang tersebut dalam nash) adalah ukuran takaran. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Ahmad. Atas dasar pendapat inilah maka hukum riba berlaku pada setiap barang-barang yang dapat ditimbang (baik itu makanan atau selainnya) dan setiap barang-barang yang dapat ditakar (baik itu makanan atau selainnya). Atas dasar pendapat ini pula hukum riba berlaku untuk besi. Barangsiapa yang menukar besi dengan besi haruslah seukuran dan tunai, karena memiliki jenis yang sama. Menurut pendapat ini maka hukum riba berlaku pada emas, besi, tembaga, kuningan, timah dll. Begitu pula berlaku pada barang-barang lain yang dapat ditimbang seperti kain, sutera, wol, kapas dan semua barang yang dapat ditimbang. Begitu pula hukum ini berlaku untuk barang-barang yang dapat ditakar seperti gandum halus, gandum kasar, kurma, beras dan semua benda cair, seperti minyak dan susu. Inilah pendapat pertama yaitu timbangan dan takaran. Dengan illat ini berlakulah hukum riba untuk setiap barang yang dapat ditimbang dan ditakar baik berupa makanan atau selainnya.
  • Pendapat kedua: Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwa illat (alasan) dari emas dan perak adalah karena keduanya merupakan standar harga untuk barang-barang lainnya (alat tukar). Adapun ke-empat barang yang lainnya, maka illatnya adalah jenis makanan.

Atas dasar pendapat ini maka hukum riba berlaku untuk:

– Emas dan perak saja. Adapun timah, besi, tembaga dan sebagainya, tidak berlaku hukum ribawi.

– Jenis makanan. Maka setiap makanan termasuk barang ribawi, tidak terkait dengan kondisinya yang biasa ditimbang atau ditakar.

  • Pendapat ketiga: Imam Malik berpendapat bahwa illat dari emas dan perak adalah alat tukar. Adapun empat barang lainnya maka illatnya karena barang-barang tersebut merupakan makanan pokok dan makanan simpanan. Yaitu makanan sehari-hari dan makanan yang dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Seperti gandum, maka ia adalah makanan pokok dan biasa disimpan dalam waktu lama. Begitu pula gandum, syair, jagung dan jewawut.
  • Pendapat keempat: Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berpendapat bahwa illat dari emas dan perak adalah alat tukar yaitu barang yang bisa digunakaan untuk pembayaran bagi barang selainnya. Adapun empat barang lainnya ilatnya adalah makanan yang biasa ditakar atau ditimbang.

Sebagai contoh:

  1. Pertukaran antara satu Apel dengan dua Apel. Apakah berlaku hukum riba?

Menurut Madzhab Hanafi dan Hanbali: Tidak berlaku hukum riba. Karena keduanya bukan termasuk barang yang biasa diukur dengan takaran atau timbangan, namun dengan jumlah atau bilangan.

Menurut Madzhab Syafi’i: Berlaku hukum riba, karena apel adalah makanan.

Menurut Madzhab Imam Malik: Tidak berlaku hukum riba, karena apel bukanlah emas, perak maupun makanan pokok yang biasa disimpan.

  1. Satu sha’ gandum halus ditukar dengan dua sha’ gandum halus. Apakah berlaku hukum riba?

Menurut madzhab Hanafi dan Hanbali: Berlaku hukum riba, karena pertukaran terjadi pada barang yang biasa diukur dengan takaran.

Menurut madzhab Syafii: Berlaku juga, karena pertukaran terjadi pada makanan.

Menurut madzhab Maliki: Berlaku, karena pertukaran terjadi pada makanan pokok yang biasa disimpan.

Menurut Syaikhul Islam: Berlaku, karena pertukaran terjadi pada makanan yang biasa diukur dengan takaran.

  1. Satu kilogram besi ditukar dengan dua kilogram besi.

Menurut madzhab Hanafi dan Hanbali: Berlaku karena besi termasuk barang yang biasa diukur dengan timbangan.

Menurut madzhab Syafi’i: Tidak berlaku, karena bukan emas atau perak. Bukan pula makanan pokok yang disimpan.

Menurut Syaikhul Islam: Tidak belaku, karena illat menurut beliau adalah alat tukar, makanan yang ditakar atau ditimbang.

  1. Satu pena ditukar dengan dua pena.

Menurut madzhab Hanafi dan Hambali: Tidak berlaku. Karena bukan termasuk barang yang biasa diukur dengan takaran maupun timbangan akan tetapi bilangan.

Menurut Madzhab Syafii: Tidak berlaku. Karena bukan emas atau perak. Bukan pula makanan. illat yang digunakan pada madzhab ini adalah statusnya sebagai makanan atau alat tukar.

Menurut Syaikul Islam: Tidak berlaku. Karena illat menurut beliau adalah alat tukar, makanan yang dapat ditimbang atau ditakar.

Oleh : Syaikh Dr. Kholid bin Ali Al-Musyaiqih

Sumber : http://www.almoshaiqeh.com/index.php?option=content&task=view&id=10711&Itemid=8

Penerjemah : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah.net di Fans Page Hisbah

Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: