Apakah Doa Dapat Manolak Takdir ?

Untitled-1.png

Pertanyaan :
Asy-Syaikh yang mulia ditanya : Bagaimana kita menjawab tentang sesuatu yang terdapat di dalam hadits : Doa itu dapat menolak takdir”, padahal semua perkara telah ditentukan sebelum Allah menciptakan langit dan bumi ?

Jawaban :
Kami jawab, bahwasanya Allah telah menentukan segala sesuatu sejak lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dan Allah menentukan bahwa segala sesuatu itu dapat menimbulkan musibah (dengan izin -Nya), Dia pula yang menentukan sesuatu yang bisa menolkanya, yaitu doa.

Maka jadilah doa itu sesuatu yang ditakdirkan , demikian pula yang bisa menolak turunnya musibah yang akan diturunkan.

Maka, sesuatu ini bisa menolak musibah atau menghilangkan musibah, karena doa. Bisa saja telah ditakdirkan sejak dulu, bahwasanya musibah itu akan hilang atau tertolak dengan sebab doa ini.

Doa itu telah ditetapkan sejak dahulu, dan musibah juga telah ditetapkan sejak dahulu. Karena doa seorang pula , Allah menghilangkan musibah setelah musibah terjadi, yaitu dengan cara berdoa kepadaNya. Artinya, Allah telah menetapkannya di Lauhul Mahfuzh, bahwa musibah itu akan turun dan akan hilang karena doa.

Kalau demikian, keduanya telah ditentukan. Musibah yang akan terjadi akan tertolak dengan doa. Maka musibah yang akan turun, Allah telah mentakdirkan adanya doa yang akan menghalanginya.

Oleh sebab itu Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan ketika terjadi gerhana matahari dan bulan untuk segera berlindung kepada Allah dengan doa, kepada Allah memperingatkan kita dengan suatu musibah yang akan terjadi.

Oleh sebab itu beliau bersabda : يخوف الله بهما عباده   “Allah memberi ketakutan kepada hambaNya dengan kedua gerhana tersebut (Muttafaq ‘Alaihi)Allah tidak memberi balasan terhadap hambaNya dengan kedua gerhana tersebut, akan tetapi Allah hanya memberi ketakutan/peringatan, sehingga apabila kita shalat dan berdoa kepada Allah, maka Allah akan menghalangi sesuatu yang telah diingatkan oleh Allah, yaitu berupa gerhana tersebut. sebagaimana doa sendiri merupakan ibadah, baik dikabulkan atau tidak dikabulkan, maka tidaklah seseorang itu berdoa dengan benar, kecuali Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal, yaitu : mungkin Allah akan memberikan apa yang dia minta, atau menolak kemudharatan yang lebih besar darinya, atau Dia menyimpan/menundanya. Dia akan memberi pahala kepadanya besok pada hari Kiamat.

Sumber : Liqaa’aat al-Baabil Maftuuh, no.795, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: