Apakah Kita Butuh Shalat?

shalat.jpg

Pembaca yang budiman, barangkali di antara kita ada yang bertanya, mengapa Allah memerintahkan kita shalat, apakah shalat kebutuhan kita?

Jawaban untuk pertanyaan ini, kita katakan, Benar, shalat adalah kebutuhan asasi, yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia seperti kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Hal ini karena makanan dan minuman adalah pilar tubuh dan materi kehidupan. Sedangkan shalat adalah pilar ruh dan materi ketenteraman, yang mengangkat pelakunya dari perkara-perkara sepele sehingga menjadi lurus dalam semua urusannya, sama seperti tegak lurusnya ia di hadapan Rabbnya dalam shalat.

Shalat adalah kebutuhan yang esensial sekali bagi manusia, sebab shalat dapat memperbaiki akhlaknya, merapikan tabiatnya, menghalangi dirinya dari lubang-lubang kerusakan dan kesesatan serta mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana mungkin seseorang melakukan dosa, sementara dia mengetahui bahwa sebentar lagi dirinya akan berdiri di hadapan Rabb subhaanahu wata’ala di mana Dia tidak menerima hal itu darinya kecuali bila hati, jiwa dan anggota badannya suci? Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana kebanyakan kaum Muslimin dapat menahan diri dari meminum miras tatkala turun firmanNya,

لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى

“Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk.” (QS. An-Nisa: 43)

Bagaimana mereka dapat melakukan shalat, sementara mereka terlibat dalam aksi mabuk-mabukan? Tetapi mereka harus melakukannya sebab hal itu terulang bagi mereka setiap hari sebanyak lima kali. Kalau begitu, tidak ada cara lain kecuali miras itu ditinggalkan secara total, agar mereka tetap dalam kondisi siap untuk bertemu dengan Allah subhaanahu wata’ala.

Shalat, wahai saudaraku, adalah timbangan yang digunakan manusia untuk menakar perbuatan-perbuatan yang dilakukannya di antara dua shalat, seperti halnya seorang dokter mengukur suhu panas badan seorang pasien dari waktu ke waktu. Jika perbuatannya shalih (baik), maka perbuatan itu berkata kepadanya, “Tetaplah dan majulah”. Dan jika tidak demikian, maka ia berkata, “Kembali dan tetaplah lurus!” Dan bila mendengar muadzin mengumandangkan, “Allahu Akbar,” ia ingat dengan kondisinya dan menyadari bahwa Allah subhaanahu wata’ala adalah Maha Besar dari apa yang sedang ia lakukan. Sehingga dengan begitu, ia melepaskan urusan duniawinya dan memenuhi panggilan Allah subhaanahu wata’ala.

Percayalah sepenuhnya bahwa orang yang shalat adalah manusia yang diharapkan kebaikan dan kelurusannya sekalipun kamu mendapati dalam banyak kondisinya menyimpang -sebab shalatnya suatu hari pasti dapat membuatnya jera dari melakukan penyimpangan ini- karena dalam shalatnya, ia membaca Al-Qur’an. Betapa pun ia lalai, pasti ada saat-saat ia merenungi makna-makna apa yang dibacanya sehingga ‘senar-senar’ hatinya akan bergetar, sentimen-sentimen positifnya akan bangkit. Hal ini didukung oleh firmanNya,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al- Ankabut: 45)

Sedangkan orang yang tidak shalat, maka tidak akan membaca Al-Qur’an dan tidak mengambil manfaat sedikit pun darinya sementara ia tetap akan terpedaya dalam kesesatannya dan melangkah dalam dosa-dosanya. Wallahu a’lam.


Penyusun : Amar Abdullah Abu Umair

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: