Apakah Liwath Seperti Zina ?

Apakah-Liwath-Seperti-Zina.jpg

Liwath seperti zina, bahkan lebih keji (dari zina). Dalam kasus Liwath, tidak dipersyaratkan orang yang menggauli atau orang yang digauli seorang yang belum menikah, namun hanya dipersyaratkan keduanya adalah orang yang telah dewasa dan berakal. Oleh karena itu, bila mana pelakunya telah dewasa dan berakal maka ditegakkan hukum had atas keduanya.

Pendapat yang benar dalam masalah ini, adalah bahwa baik yang melakukan ataupun yang diperlakukan wajib dibunuh apapun kondisinya, karena tindakan tersebut merupakan bibit penyakit di tengah masyarakat yang bila menyebar akan menjadikan masyarakat seluruhnya rusak. Bagaimana mungkin orang yang diperlakukan mau menerima orang yang memperlakukannya demikian di mana ia diposisikan layaknya seorang wanita yang diperlakukan tindakan demikian itu. Maka, tindakan ini merupakan bentuk pembunuhan terhadap makna kejantanan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya– mengatakan, ‘para sahabat Nabi sepakat bahwa pelaku dan yang diperlakukan dibunuh. dalam suatu hadis,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الفَاعِلَ وَالمَفْعُولَ بهِ

Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum nabi Luth, maka bunuhlah pelakunya dan yang diperlakukannya.

Syaikhul Islam mengatakan, ‘namun para sahabat berbeda pendapat tentang bagaimana cara membunuh pelaku dan yang diperlakukan tersebut ?

Ada yang mengatakan, “dibakar”. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar, semoga Allah meridhainya.  Sebagian sahabat yang lainnya mengatakan, “keduanya dirajam seperti halnya seorang yang berzina sementara ia belum menikah”.

Sahabat yang lainnya mengatakan, “keduanya dinaikkan ke termpat yang paling tinggi yang ada di negara di mana mereka melakukan perbuatan tersebut, lalu keduanya dilemparkan dari tempat tersebut diiringi dengan lemparan batu. Hal tersebut dibangun atas dasar bahwa kaum nabi Luth Allah memperlakukan mereka demikian itu.

Dan, hal yang terpenting bagi kita adalah bahwa haruslah keduanya (pelaku dan yang diperlakukan) dibunuh bagaimana pun kondisinya. Karena ini merupakan penyakit menular yang sangat sulit untuk menghindar darinya. Anda misalnya melihat ada seorang lelaki bersama dengan seorang wanita dan Anda mengingkari hal tersebut, maka mungkin Anda mengatakan, siapakah wanita yang bersamamu ini?. Tapi, bagaimana bila seorang lelaki tengah bersama seorang lelaki, tentunya hal tersebut (yakni, mengingkari atu mempertanyakan siapah lelaki yang tengah bersamamu ini) tak mungkin Anda lakukan. Karena setiap lelaki berjalan beriringin satu sama lainnya.

Jadi, seorang perjaka jika berzina darahnya halal, meski demikian, apakah setiap orang boleh atau berhak menegakkan hukuman had atasnya ?

Jawabnya, tidak, tidak boleh setiap orang menegakkan hukuman had atas pelaku zina tersebut. Yang boleh menegakkan hukuman had atas pezina adalah imam/pemimpin atau yang menggantikan posisinya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam

أُغْدُ يَا أَنِيْسُ إِلَى امْرأةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارجُمْهَا

Pergilah wahai anis kepada wanita ini, jika ia mengaku (bahwa telah benar-benar melakukan zina), rajamlah ia !

Kalaulah kita katakan bahwa setiap orang boleh membunuh pelaku zina niscaya akan terjadi kegoncangan dan keburukan (di tengah-tengah masyarakat) yang tidak diketahui melainkan oleh Allah azza wajalla.

Sumber :

Dialih bahasakan oleh Amar Abdullah dari, “At-Talkhiish al-Mu’in ‘Ala Syarhi al-Arba’in, 1/83), karya, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, semoga Allah merahmatinya.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: