Aqidah Ahlu Sunnah Terkait Para Shabat Nabi (bag.1)

aqidah-ahlu-sunnah-1.jpg

Pembaca yang budiman,

Barangkali Anda pernah membaca atau mendengar atau bahkan menyaksiakan dengan kepala mata anda sendiri orang yang mencela para sahabat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam yang mulia. Ketahuilah, hal tersebut merupakan bagian dari keyakinan orang-orang syi’ah, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka. Maka, berhati-hatilah…! jangan sampai Anda mengikuti jejak mereka ini. Karena, keyakinan tersebut sangat bertolak belakang dengan keyakinan kita ahlussunnah wal jama’ah.

Pembaca yang budiman,

Jalan yang ditempuh ahlu sunnah wal jama’ah terkait dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sikap pertengahan antara berlebihan dan menyepelekan, antara orang-orang yang bersikap berlebihan yang mengangkat kedudukan sebagian sahabat hingga pada tingkatan yang tidak pantas kecuali bagi Allah atau bagi RasulNya. Dan, antara orang-orang yang meremehkan atau menyepelekan serta mencela para sahabat. Maka, ahlu sunnah berada di pertengahan antara orang-orang yang berlebihan dan orang yang meremehkan dan menyepelekan. Ahlu sunnah mencintai para sahabat Nabi semuanya. Menempatkan kedudukan mereka pada tempatnya yang berhak untuk mereka dengan penuh rasa adil dan proporsional. Tidak mengangkat kedudukan mereka hingga pada tingkatan yang tidak berhak mereka sandang. Lisan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah selalu basah menyebutkan kebaikan para sahabat, hati mereka pun senantiasa mencintai para sahabat.

Terkait dengan berita yang valid tentang adanya perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat Nabi, maka diyakini (oleh ahlussunnah wal jama’ah-pen) bahwa hal tersebut merupakan hasil dari ijtihad mereka, maka boleh jadi benar, sehingga mereka mendapatkan pahala berijtihad dan pahala benar dalam ijtihadnya. Boleh jadi pula salah, sehingga mereka tetap mendapatkan pahala berijtihad, dan kesalahan mereka diampuni, tenggelam di lautan keutamaan yang mereka miliki, mereka bukanlah orang-orang yang ma’shum (terbebas dari terjatuh ke dalam kesalahan). Mereka adalah manusia biasa, terkadang benar, terkadang salah, terkadang jatuh ke dalam dosa. Mendudukan kesalahan mereka secara proporsional dengan penuh adab merupakan sesuatu yang berbeda sama sekali dengan hujatan terhadap mereka.

Keyakinaan ahlu sunnah wal jama’ah akan keadilan para sahabat dan keutamaan mereka muncul dari adanya pujian dan sanjungan Allah terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  yang disebutkan di dalam kitabNya, juga adanya sanjungan Nabi terhadapat mereka, yang menunjukkan bahwa Allah mengaruniakan kepada mereka berbagai keutamaan, Allah memberikan kepada mereka sifat yang mulia yang dengan hal tersebut mereka mendapatkan kedudukan yang mulia lagi tinggi tersebut di sisiNya.

Maka, sebagaimana halnya Allah memilih untuk RasulNya kedudukan yang cocok di hati para hamba-hambaNya, sesungguhnya Allah memilih untuk pewaris para Nabi orang-orang yang bersyukur atas kenikmatan ini, yang pas untuk menerima karomah ini, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ [الأنعام : 124]

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. (Qs. Al-An’am: 124)

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya (1/379) dari Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridhainya-, ia berkata, ‘sesungguhnya Allah memandang pada hati-hati para hambaNya, maka Dia mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sebaik-baik hati para hamba, maka Dia memilihnya untuk diriNya, Allah mengutusnya dengan membawa risalahNya, kemudian Dia memandang kepada hati-hati para hambaNya setelah hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  maka Dia mendapati hati-hati para sahabat beliau tersebut sebagai sebaik-baik hati para hamba. Maka, Dia menjadikan mereka sebagai para menteri NabiNya, berperang di atas agamanya, maka apa yang orang-orang islam pandang sebagai kebaikan maka hal itu merupakan kebaikan di sisi Alllah, dan apa yang mereka pandang sebagai keburukan maka hal itu merupakan keburukan di sisi Allah.

Oleh karena itu, Abu Ja’far ath-Thahawi – di dalam penjelasannya mengenai keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah– berkata, “dan kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , kami tidak menyepelekan persoalan cinta kepada seorang pun dikalangan mereka dan kami pun tidak berlepas diri dari seorang pun di kalangan mereka, kami membenci orang yang membenci mereka, dan ( kami benci pula terhadap) orang yang menyebut-nyebut mereka dengan selain kebaikan, kami tidak menyebut-nyebut mereka kecuali dengan kebaikan, mencintai mereka merupakan bagian dari perkara agama, keimanan dan kebaikan, sedangkan kebencian kepada mereka merupakan kekufuran, kenifakan dan kezhaliman.

Dan, al-Imam Ibnu Abi Zaed al-Qairawaniy al-Malikiy di dalam muqaddimah risalnya yang masyhur, di mana ia menjelaskan aqidah ahlussunnah wal jama’ah seraya berkata,’ dan bahwa (mereka adalah) sebaik-baik generasi yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan seutama-utama para sahabat adalah khulafa-urrasyidin yang mendapatkan petunjuk ; Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali-semoga Allah meridhai mereka semuanya- dan tidak boleh seorang pun dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam disebut melainkan dengan sebaik-baik sebutan, tidak memperbincangkan tentang perselisihan yang terjadi di antara mereka, mereka adalah manusia yang paling berhak untuk mendapatkan penyikapan yang paling baik, dan diyakini sebagai sebaik-baik madzhab.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitab as-Sunnah berkata, “ termasuk sunnah adalah menyebutkan kebaikan-kebaikan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semunya, dan menahan diri dari (memperbincangkan perselisihan) yang terjadi di antara mereka, maka barang siapa mencela/mencaci maki para sahabat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam atau hanya mencela seorang saja maka ia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah) dan seorang syiah rafidhah. Mencintai para sahabat adalah termasuk sunnah, mendoakan mereka termasuk pendekatan diri kepada Allah, meneladani mereka merupakan wasilah, dan mengambil atsar mereka merupakan fadhilah (keutamaan).

Beliau juga berkata,” tak seorang pun boleh untuk menyebutkan sedikitpun dari keburukan mereka, tidak boleh juga mencela seorang pun di kalangan mereka, maka barang siapa yang menyebut keburukan mereka dan mencela atau mencaci maki mereka wajib atas penguasa memberikan hukuman dan sangsi kepada pelakunya, penguasa tersebut tidak layak memberikan pengampunan terhadap tindakan tersebut, bahkan penguasa harus memberikan sangsi dan hukuman, kemudian memintanya untuk bertaubat. Bila pelakunya bertaubat, maka taubatnya tersebut diterima, namun jika pelakunya tidak mau bertaubat, maka diberi sangsi dan hukuman kembali, ia ditempatkan di tahanan hingga bertaubat dan menarik kembali ucapannya.

Imam Abu ‘Utsman ash-Shabuniy di dalam kitab Aqidatu as-Salaf Wa Ash-habu al-Hadist berkata, “ mereka (ahlussunnah wal jama’ah) memandang tidak memperbincangkan tentang apa yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, (wajibnya) membersihkan mulut dari menyebut sesuatu yang termasuk aib atau kekurangan yang terdapat pada diri mereka. Dan, (ahlussunnah wal jama’ah) juga berpandangan (wajibnya) berkasih sayang kepada semua sahabat beliau dan loyal terhadap mereka semuanya.

Bersambung, insya Allah…

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Diterjemahkan secara bebas dari ‘Aqidatu Ahli as-Sunnah Fii ash-Shahabah Wa al-Qarabati ; Syubuhaatun Wa Rududun, hal. 1-2, makalah yang disampaikan oleh Syaikh Dr. Bandar asy-Syuwaiqiy dalam forum Seminar Nasional “Mencintai Sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, yang diselenggarakan oleh Pondok Pesanteren al-Ukhuwah, Sukoharjo, di Hotel Syariah, Solo pada hari Senin-Kamis, tanggal 12-15 Dzul Qa’dah 1437 H/15-18 Agustus 2016.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: