Asas-asas Dakwah Perbaikan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah

ASAS-ASAS-DAKWAH-SYAIKH-MUHAMMAD-BIN-ABDUL-WAHHAB-RAHIMAHULLAH-1.jpg

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah hidup pada abad 12 Hijriyah atau 18 Masehi, yang mana pada zaman itu keadaan kaum muslimin di jazirah arab sangat memperhatinkan, segala aspek kehidupan mengalami kemerosotan, dari ekonomi, militer, sosial bahkan spiritual agama. Disana-sini praktek-praktek keagamaan yang menyimpang dilakukan oleh kaum muslimin disetiap harinya, bukan karena tidak ada lagi ulama diantara mereka, namun karena mereka meninggalkan amar makruf nahi munkar, sehingga mengakibatkan rendahnya keteguhan kaum muslimin dalam menjalankan nilai-nilai Al Qur’an dan As-Sunnah, maka berangkat dari keadaan yang memilukan ini, Syaikh Muhammad yang berasal dari keluarga ahli ilmu dan telah mematangkan keilmuaannya dengan banyak ulama akhirnya bangkit melawan kenyataan, menyingsingkan lengan baju kenyamanan, turun ketengah-tengah masyarakat untuk menyeru kepada yang makruf dan melarang dari yang munkar.

Secara garis besar. Dakwah Syaikh Muhammad bertopang pada 3 asas atau pondasi berikut dalam menjalankan misinya:

1 – PERBAIKAN AQIDAH TAUHID

Tauhid adalah pondasi dan tiang utama Islam, maka tauhid memegang peranan yang sangat penting untuk keberlangsungan Islam yang murni dan lurus sebagaimana yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karenanya, perbaikan di bidang Tauhid inilah yang sangat menyita perhatian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, segala saran beliau tempuh untuk menyampaikan risalah tauhid tersebut, dari mulai menyampaikan secara langsung, menulis surat kepada para pemimpin umat, hingga menulis beberapa kitab yang khusus membahas tauhid demi memberantas kesyirikan ditengah masyarakat. Seperti Kitab At Tauhid yang sudah sangat familiar ditelinga kita, Kasyfu Syubhat, Ushul Tsalatsah, Qawa’id Arba’, Fadhlul Islam dan Ashlul Iman.

2 – PERBAIKAN DENGAN MEMBERANTAS BID’AH DAN KHURAFAT

Ini adalah pondasi dakwah beliau yang kedua, yang mana bisa dikatakan bahwa yang kedua ini merupakan buah dari pondasi yang pertama, yang mana jika kita berbicara memperbaiki tauhid dan memberantas kesyirikan, maka setelahnya harus dihidupkan sunnah dan menjauhi segala macam praktek-praktek yang menyelisihinya seperti bid’ah dan khurafat.

Di jaman itu, fenomena kejahilan akan sunnah Nabi sungguh sudah sangat memprihatinkan, maka pemandangan-pemandangan berikut di jazirah arab sudah sangat lumrah, seperti membangun kubah diatas kuburan dan menghiasnya, menutup makam dengan kain hijau dan menghiasnya, menjadikannya tempat shalat, bernadzar dengan wasilah para wali dan penghuni kubur, bahkan sesekali melakukan thawaf mengililingi kuburan tersebut dan lain sebagainya yang bertentangan dengan petunjuk atau sunnah nabi terhadapnya.

Maka keadaan ini benar-benar menggerakkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mendakwahkan kembali apa-apa yang sebenarnya di bawa oleh Islam dari kesempurnaan tauhid dan teguh diatas sunnah Nabi.

3 – MENGHIDUPKAN SYIAR AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Inilah pondasi terakhir dari asas-asas terpenting dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka seperti yang sudah sedikit kita singgung diatas, bahwa dikarena syiar amar makruf nahi mungkar ini telah ditinggalkan maka terjadilah kemerosotan-kemerosotan aqidah kaum muslimin, sehingga menyebarlah praktek-praktek menyimpang tersebut tanpa ada yang melarangnya dan menyeru kepada kebaikan yang sesungguhnya.

Dalam menghidupkan syiar ini, Syaikh dan para pengikutnya jelas tidak hanya mencukupkan diri dengan menyampaikan dan menulis teorinya, namun dengan turun langsung ke lokasi kemungkaran tersebut, menyampaikan kebenaran kepada para pelakunya dan menghilangkan kemungkaran tersebut. Dan hal inilah yang membedakan umat islam dari umat lainnya dan menjadikan mereka sebagai umat terbaik, yaitu amar makruf nahi mungkar. Hal ini dikarenakan perbaikan sangat menuntut dan butuh penjagaan atas apa yang diperbaikinya dengan menghidupkan syiar ini. Apa manfaat dari menjelaskan kesalahan syirik dan bid’ah bila tidak dibarengi dengan praktek langsung, dan malah mendiamkan praktek tersebut padalah terjadi didepan mata.

Dan pondasi yang ketiga ini jugalah yang sangat membuat marah musuh-musuh dakwah beliau, karena bagaimana merek tidak marah dengan kenyamanan mereka yang diusik, pengikut mereka yang berkurang, dan lain sebagainya.

 

 

Sumber: حياة الشيخ محمد بن عبد الوهاب وحقيقة دعوته ص 95-101

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: