Asingnya Amar Makruf Nahi Mungkar

Asingnya-Amar-Makruf-Nahi-Mungkar.jpg

Sebagian ulama menggolongkan amar makruf nahi mungkar sebagai rukun islam yang keenam karena kedudukannya yang sangat agung didalam agama. Cukup untuk menjadi bukti agungnya kedudukan amar makruf nahi mungkar dalam islam bahwa umat ini akan senantiasa menjadi umat terbaik selama amar makruf nahi mungkar terlaksana, Allah ta’ala berfirman:

كُنتُم خَيرَ أُمَّةٍ أُخرِجَت لِلنَّاسِ تَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَتَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَتُؤمِنُونَ بِٱللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali-Imran: 110).

Di ayat lain ketika Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, ciri pertama yang Allah sebutkan adalah mereka menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan, Allah ta’ala  berfirman:

وَٱلمُؤمِنُونَ وَٱلمُؤمِنَٰتُ بَعضُهُم أَولِيَاءُ بَعض يَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰئِكَ سَيَرحَمُهُمُ ٱللَّهُ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيم

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).

Yang dimaksud dengan kata ‘asing’ pada judul diatas bukan berarti tidak ada orang-orang yang menyeru kepada kebaikan. Para dai, asatidz, kiyai dan lain-lain banyak sekali yang berdakwah kepada umat baik dalam bentuk ceramah, tulisan, arahan dan lain sebagainya. Yang dimaksud disini adalah asingnya amar makruf nahi mungkar ditengah-tengah masyarakat muslim umum, baik di dalam rumah, sekolah, kantor atau ditempat-temat lainnya, karena kebanyakan dari kita beranggapan bahwa dakwah hanyalah bagi ustad dan mubaligh saja.

Jika kita berbicara amar makruf nahi mungkar di dalam keluarga, banyak kepala keluarga yang lalai untuk mengingatkan keluarganya dikala ada yang berbuat kemungkaran, misalnya anak atau istrinya ada yang melalaikan shalat, atau istri atau anak perempuannya keluar rumah dengan pakaian yang tidak sesuai syariat dan        ia mendiamkannya, ia merasa acuh tak acuh dengan hal tersebut padahal itu adalah tanggung jawabnya.

Jika kita melihat kepada cakupan yang lebih luas dari sekedar keluarga, kita akan menemukan amar makruf nahi mungkar lebih asing lagi bahkan jarang sekali, terasa begitu asing jika ada orang yang mengajak teman kerjanya shalat tatkala adzan dikumandangkan, entah mengapa ini terjadi ditengah-tengah kalangan kaum muslimin.

Yang ditakutkan jika fenomena ini terus berlanjut adalah semakin terbukanya peluang bagi musuh-musuh islam yang sejak dahulu bermain diluar sana untuk melepaskan kaum muslimin dari agama islam yang tak lain adalah sumber kekuatan dan kemuliaan umat islam. Musuh-musuh tersebut mulai menyusupkan kedalam tubuh kaum muslimin pemikiran-pemikiran yang sangat berbahaya seperti sekulerisme yang nantinya akan berujung kepada atheisme.

Langkah awal yang bisa mereka ambil untuk menuju kesana adalah menghilangkan rasa kecemburuan kaum muslimin terhadap agama islam, sehingga mereka tidak peduli lagi bila batas-batas aturan agama dilanggar di depan penglihatan mereka, bersikap acuh tak acuh tatkala maksiat dilakukan dihadapan mereka, dan lama kelamaan akan sampai kepada tahap dimana kita tidak bisa membedakan antara komunitas muslim dan komunitas barat yang bebas dengan maksiat tanpa ada yang mempermasalahkannya. Bahkan di barat jika ada yang melarang mereka untuk melakukan suatu perbuatan keji akan dihukum jika dia diadukan ke hakim!!!

Keadaan ini sangat tidak pantas memiliki ruang ditengah-tengah kaum muslimin dimana dalam agama islam disyariatkan kewajiban amar makruf nahi mungkar yang menurut sebagian ulama adalah fardhu kifayah, jika ada satu kelompok yang melaksanakannya maka gugurlah kewajiban atas yang lain, dan jika semuanya meninggalakannya, mereka semua akan berdosa.

Disusun dan diterjemahkan secara bebas oleh Arinal Haq dari tulisan DR. Amir Al-Hawsyan

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: