Asyura dan Ratapan Sekte Syiah

Asyura.jpg

Syiah pada hari Asyura meperingati hari wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Husein radhiallahu ‘anhu terbunuh di Karbala oleh orang-orang yang mengaku mendukungnya tepat pada hari Asyura, lalu, penganut Syiah menjadikannya sebagai hari ratapan dan kesedihan.

Di Iran, negara yang menjadi penganut dan penyebar agama Syiah, saat ini, merupakan suatu pemandangan lazim dan wajar jika hari Asyura tiba, kaum lelaki melukai kepala mereka dengan pedang, pisau, atau cemeti, hingga darah segar mengucur keluar membasahi sekujur tubuh mereka. Begitu pula dengan para wanita durjana, mereka melukai punggung-punggung mereka dengan benda-benda tajam sebagai mana para lelaki. Dalam keadaan berlumuran darah, mereka pun berteriak-teriak, meratap, sambil mengucap, Ya Husain… Ya Husain, Ya Husain…!

Jelas, demikian itu adalah ritual sesat ala Syiah, yang kini di Indonesia sudah mulai dibudayakan dengan modus operandi yang berbeda, bahkan dikemas dengan akademis, termasuk mengadakan seminar, ceramah, dan sejenisnya. Padahal intinya sama, memasarkan budaya ratapan.

Menangis dan memukuk-mukul wajah karena meperingati orang yang telah meninggal adalah bagian daripada dosa besar, Nabi bersabda, Bukan termasuk golonganku orang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju, dan berteriak seperti teriakan orang masa jahiliyah.

Nampaknya, Syiah benar-benar tidak termasuk dalam golongan umat Rasulullah, itu artinya, bukan agama Islam, sebab tidak hanya menampar pipinya, malah telah menggunakan sejata tajam untuk menyiksa dirinya sendiri, sebuah kesesatan yang sangat sempurna. WallahuA’lam!*

Sejarah Ratapan**

Kelompok Syiah selalu memperingati hari Asyura dengan upacara-upacara ratapan. Bukan saja di negara yang didominasi kaum Syiah, saat mereka menjadi minoritas pun tetap melakukan ritual itu. Nah, bila ditelusuri, kapan sejatinya acara yang melanggar syariat Islam ini muncul?

Ibnu Katsir menjelaskan, Dinasti Buwaih yang beraliran Syiah pada tahun 352 H merupakan pencetusnya. Kepala negara Buwaih mewajibkan penduduk Irak untuk melakukan ratapan terhadap Husein radhiyallahu  ‘anhu. Dia memerintahkan rakyat menutup pasar dan melarang para pemasak untuk membuat makanan. Para wanita Syiah keluar dalam keadaan menguraikan rambut dan memberikan wangi-wangian di wajah. Mereka memukul wajah dan membuat fitnah di hadapan manusia. Inilah ratapan pertama kali terhadap Husein radhiyallahu ‘anha.[Al-Bidâyah wan Nihâyah, XI/577]

Dinasti Ubaidiyyah Al-Fathimiyah juga memperingati Hari Asyura’ sebagai  hari kesedihan dan ratapan. Pada hari itu pasar-pasar diliburkan dan para penyanyi keluar di jalan-jalan. Pada hari itu khalifah duduk dengan muka masam sambil memperlihatkan kesedihan, demikian juga para hakim, dai, dan pejabat pemerintah. Semuanya menampakkan kesedihan dan tidak memakai alas kaki. Kemudian, para penyair melantunkan nyanyian dan pujian untuk ahli bait. Mereka menyebutkan riwayat dan kisah-kisah yang mereka buat tentang pembunuhan terhadap Husein radhiyallahu ‘anhu.[Al-Khuthath, karya Al-Maqrizi, I/431)

Upacara lain yang mereka adakan pada Hari Asyura’ adalah keluarnya rombongan-rombongan bela sungkawa di jalan-jalan besar dan kecil dengan memukul-mukul pipi dan dada mereka dengan rantai dan besi, juga di pundak-pundak mereka  sampai berdarah-darah.[Al-‘Aqîdah fî Ahl Al-Bait, hal. 494]

Ibnu Katsir telah mendeskripsikan perilaku Syiah yang keluar tuntunan Kitab Allah dan Sunnah pada Dinasti Bani Buwaih tersebut dengan ungkapan, “Tambur-tambur dipukul di Baghdad dan sekitarnya pada Hari Asyura’. Abu dan rumput-rumput kering disebarkan di jalan-jalan dan pasar. Pakaian-pakaian kependetaan digantungkan di pasar dan toko-toko. Manusia menampakkan kesedihan dan menangis. Banyak di antara mereka yang tidak minum air untuk dapat merasakan peristiwa yang dialami oleh Husein. Karena, dia dibunuh dalam keadaan haus.

Para wanita keluar dalam keadaan menguraikan rambut  kewajah. Mereka meratap dan memukul-mukul wajah dan dada masing-masing dalam keadaan tidak memakai alas kaki di pasar dan tempat lain. Ini merupakan bid’ah yang buruk dan hawa nafsu yang hina. Inilah wujud penodaan terhadap agama yang dibuat-buat. Mereka melakukan hal itu hanya untuk merendahkan Dinasti Bani Umayyah karena Husein telah dibunuh pada masa kekuasaannya.[Al-Bidâyah wan Nihâyah, XI/577]

Wallahu a’lam

Referensi :

  1. * www.lppimakassar.com
  2. **Ensiklopedi Sejarah, Dr Ali Ash-Shalabi

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: