Bagaimana Jiwa Dapat Suci ?

Bagaimana-Jiwa-Dapat-Suci.jpg

Jiwa dapat menjadi suci dengan meninggalkan segala larangan Allah dan melaksanakan perintahNya.

Allah ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) (Qs. Asy-Syams :  9)

Dan FirmanNya,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) (Qs. Al-A’la : 14)

Abu Qatadah, Ibnu Uyainah dan yang lainnya berkata tentang ayat ini, “ Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dengan taat kepada Allah dan mengerjakan amal-amal shalih”.

Al-Farra’ dan az Zajjaj berkata, “sungguh beruntunglah jiwa yang telah disucikan oleh Allah dan sungguh celakalah jiwa yang dinodai oleh Allah”.

Demikian pula disebutkan oleh al-Walibi dari Ibnu Abbas dengan sanad terputus. Bukan itu yang dimaksudkan oleh ayat tersebut, tetapi yang dimaksud secara pasti adalah makna yang pertama, baik lafzh maupun maknanya.

Asal kata “az-Zakah” artinya tambahan dalam kebaikan. Dikatakan,”Tanaman atau harta itu bertambah jika tanaman dan harta itu berkembang”. Kebaikan tidak akan mungkin akan bertambah melainkan dengan meninggalkan keburukan. Tanaman tidak akan berkembang dengan baik kecuali dengan menyingkirkan apa-apa yang mengganggunya.

Seorang tidak dianggap menyucikan dirinya kecuali dengan meninggalkan keburukan, karena keburukan itu dapat mengotori dan menodai jiwa sehingga ia menjadi rendah dan hina. Orang yang bermaksiat berarti ia telah menginjak-injak harga dirinya., sedangkan orang-orang yang berbuat baik dan beramal shaleh maka ia telah mengangkat harga diri dan memuliakannya.

Allah azza wajalla berfirman,

وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih bersih (dari perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya (Qs. An-Nur : 21)

Allah menjelaskan bahwa kesucian jia hanya dapat dicapai dengan meninggalkan perbuatan keji. Oleh sebab itu Dia berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya (Qs. An-Nuur : 30)

Sebab meninggalkan maksiat termasuk perbuatan jiwa, karena ia mengetahui bahwa perbuatan buruk itu terkutuk dan tidak disukai. Ketika nafsu mendorong dirinya untuk melakukan kemungkaran, maka ia berusaha melawannya  jika ia benar-benar percaya kepada al-Qur’an dan beriman kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-. Pembenaran, iman, kebencian dan berusaha untuk melawan nafsu merupakan perbuatan jiwa dan jika ia berhasil mengendalikan nafsunya maka dengan itu ia pun akan menjadi suci . berbeda ketika ketika seseorang didorong nafsunya untuk melakukan maksiat, maka ia telah menodai dan mengotori jiwanya sehingga menjadi hina seperti tanaman yang tumbuh disemak belukar.

Pahala hanya didapatkan dengan adanya amal nyata, demikian pula dengan dosa. Allah azza wajalla memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan manusia telah sepakat bahwa yang dituntut dengan perintah adalah perbuatan nyata. Jika seorang mukmin dilarang berbuat kemungkaran , berarti ia tidak boleh mendekatinya dan harus berusaha untuk menjauh sejauh-jauhnya. Sedangkan jika ia disuruh untuk melakukan kebaikan, maka ia harus melakukannya dengan tunduk dan patuh sebagai bentuk realisasi dari tauhid, keimanan dan kepatuhannya terhadap syariat.

Maka tauhid dan iman merupakan faktor terbesar dalam menyucikan jiwa kemudian disertai dengan menjalankan syariat seperti melakukan amal shaleh dan bersedekah, sementara syirik dan dosa merupakan faktor terbesar dalam mengotori dan menodainya. Para ualam salaf berkata tentang,” Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (Qs. Al-A’la : 14)  , yaitu menyucikan dirinya dari syirik dan masiat dengan bertaubat kepada Allah.

Sementara Abi Sa’id, ‘Atha dan Qatadah, berkata, “menyucikan dirinya dengan zakat fithrah”. Namun sebagian mereka mengatakan bahwa ayat tersebut tidak hanya mencakup zakat fithrah saja, tetapi memberikan zakat fithrah dan menunaikan shalat Id termasuk dalam cakupan ayat tersebut.

Oleh karena itu, setiap kali Yazid bin Hubaib hendak melaksanakan shalat Id ia membawa zakat fithrah dan menyerahkannya sebelum shalat, dan jika ia tidak mendapatkan sesuatu apa yang hendak disedekahkannya, maka ia mengeluarkan yang lain meskipun hanya bawang putih.

Al-Hasan berkata tentang ayat yang berbunyi,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) (Qs. Al-A’laa: 14) adalah orang yang perbuatannya bersih dan suci.

Abu al-Ahwash berkata, “Kesucian semua urusan” dan az Zajjaj berkata, “Dia menyucikannya dengan ketaatan kepada Allah”.

Wallahu a’lam

Sumber :

Tazkiyyatun Nafs, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 130-132

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: