Batas Menutupi Kemungkaran

perahu-di-gelas.jpg

Pada artikel yang berjudul: “Menutupi Aib Pelaku Kemungkaran” telah kami jelaskan perintah syariat untuk menutupi perbuatan pelaku kemungkaran, dan bahwasanya menasehati saudara sesama muslim secara sembunyi-sembunyi adalah etika yang harus dipraktekkan oleh seorang muhtasib. Namun perlu diketahui bahwa menutupi perbuatan para pelaku kemungkaran tidak mutlak dalam setiap keadaan, orang yang melakukan maksiat terang-terangan serta berbangga dengan perbuatannya maka ia tidak pantas lagi untuk ditutupi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ أَمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

Seluruh umatku diampuni kecuali al-mujahirun (orang yang terang-terangan berbuat dosa), dan termasuk bentuk Mujaharoh (terang-terangan dalam berbuat dosa) adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi hari dosanya telah ditutup oleh Allah, dia berkata: “Wahai fulan semalam aku telah melakukan seperti ini dan ini (menceritakan dosanya).” Allah telah menutupi dosanya di malam hari, tetapi dia membuka kembali dosa yang telah ditutup oleh Allah tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Batthal berkata, “Terang-terangan dalam berbuat maksiat sama saja dengan meremehkan hak Allah dan Rasulnya serta orang-orang beriman yang sholeh..” (Fathul Bari 10/487)

Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa melakukan suatu kemungkaran seperti perbuatan-perbuatan keji, meminum minuman keras, dan permusuhan, maka ia wajib diingkari semampunya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Jika seseorang melakukan maksiat itu dengan cara tertutup dan tidak terang-terangan maka ia diingkari secara rahasia lalu perbuatannya ditutupi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ سَتَرَ عَبْداً سَتَرَهُ اللهُ في الدُّنْيا والآخِرَةِ

Barangsiapa menutupi (aib) seorang hamba niscaya Allah akan menutupi(aib)nya di dunia dan di akherat.” (HR. Bukhari no.2442)

Kecuali jika mudharatnya menyebar/mengenai orang lain, maka yang seperti itu harus dihentikan. Jika seseorang telah menasehatinya dengan cara rahasia namun ia tidak berhenti, maka diusahakan untuk melakukan sesuatu yang membuatnya berhenti menasehatinya didepan umum dan sebagainya jika hal tersebut lebih mashlahat untuk agama.

Sedangkan jika ada seseorang yang melakukan kemungkaran dengan terang-terangan maka wajib diingkari secara terang-terangan pula, dan tidak ada lagi baginya sesuatu yang harus dirahasiakan. Dan ia wajib untuk dihukum secara terang-terangan sehingga ia bisa berhenti dari perbuatan tersebut.” (Majmu’ Fatawa Syeikhul Islam 28/217-218)

Maka jika seseorang melakukan maksiat di dalam rumahnya, menutup pintunya dan ia berlindung di balik tembok rumahnya, maka tidak boleh bagi siapapun untuk memasukinya tanpa izin darinya karena ia menutupi perbuatan maksiatnya. Kecuali jika tampak tanda-tanda dari luar rumah bahwa didalam rumah terdapat suatu kemungkaran yang tampak dari luar, seperti jika terdengar suara musik atau tercium bau khamr dari dalam rumah dan sebagainya maka tentang kebolehan memasuki rumah yang seperti itu untuk mengingkarinya, banyak ulama yang membolehkannya dan ada juga yang tidak membolehkan.


Sumber: Kitab ‘Haqiqatul Amri bil Ma’ruf wan Nahyu ‘Anil Mungkar’ Karangan Syeikh Muhammad Nashir Al-Ammar Hal. 149-153

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: