Beberapa Pelajaran dari Kisah Sulaiman as. Dan Burung Hud-hud

sulaiman.jpg

Nama beliau adalah Sulaiman bin Daud alaihimassalam, seorang nabi dan anaknya nabi. Nasabnya bersambung kepada Nabi Ishaq bin Ibrahim alaihimassalam sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab ‘Al-Bidayah wan Nihayah’.

Nabi sulaiman bukan hanya seorang Nabi, tapi  juga seorang raja yang memiliki singgasana dan bala tentara yang luar biasa dari kalangan manusia, jin, setan, angin, dan hewan-hewan. Selain itu Nabi Sulaiman juga dapat memahami bahasa burung.

Nabi Sulaiman mewarisi kenabian dan kerajaan dari ayahnya, Allah SWT. Berfirman:

وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

 

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan Dia berkata: “Hai manusia, Kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”. (QS. An-Naml: 16).

Salah satu prajurit Nabi Sulaiman adalah burung hud-hud (sejenis burung pelatuk), Ibnu Abbas menyebutkan bahwa tugasnya adalah melihat dan mencari dimana letak air berada, dan itu merupakan tugas tetapnya terutama dikala para prajurit sedang melakukan perjalanan panjang dan mereka kehabisan air. Burung Hud-hud tersebut diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk melihat keberadaan air dibawah tanah, ketika ia menemukannya ia akan memberi tahu kepada prajurit yang lain agar menggalinya dan mengeluarkan air yang ada dibawah lapisan tanah tersebut. Allah berfirman:

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ.  لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Dan Dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud??, Apakah Dia Termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar Dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas“. (QS. An-Naml: 20-21).

Suatu hari tatkala Nabi Sulaiman memeriksa bala tentaranya, beliau tidak menemukan Burung Hud-hud ditempat tugas dimana semestinya ia berada, maka Nabi Sulaiman AS. mengancam akan menyiksa atau meyembelihnya kecuali jika ia memiliki alasan yang jelas.

Tak berapa lama kemudian burung Hud-hud kembali dan memberitahu Nabi Sulaiman AS. suatu berita yang belum pernah beliau ketahui sebelumnya. Hud-hud menjelaskan bahwa ia menemukan suatu kerajaan di negeri Saba’ yang dipimpin oleh seorang ratu yang memiliki singgasana yang luar biasa, namun sayang mereka menyekutukan Allah SWT. dan menyembah matahari.

Izinkan kami men-skip lanjutan kisahnya karena kami ingin fokuskan kepada pelajaran yang dapat kita petik dari kisah diatas, anda bisa membaca kelengkapan ceritanya di buku-buku tentang kisah para Nabi. Kisah ini disebutkan dalam Surah An-Naml mulai dari ayat 20.

Beberapa pelajaran dari kisah Nabi Sulaiman dengan Nabi Hud-hud diatas, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Merubah suatu kemunkaran dengan tangan (menindak dengan tegas) bagi orang-orang yang memiliki wilayah (kekuasaan) bilamana tidak ada mani’ (penghalang). Dalam kisah diatas Nabi Sulaiman sebagai orang yang memiliki wilayah mengancam akan menghukum Hud-hud atas ketidak beradaannya ditempat tugasnya, kecuali jika Hud-hud memberikan alasan yang jelas, yang disebut juga dengan mani’ (penghalang).
  • Tidak terburu-buru menghukum bawahan yang bersalah sebelum mendengar penjelasannya, karena bisa jadi ia memiliki alasan kuat yang belum pernah terbesit dibenak sang atasan sehingga ia melakukan sesuatu yang seakan-akan itu adalah sebuah kesalahan. Dalam kisah diatas Nabi Sulaiman dengan tahta dan kekuasaannya tidak langsung menghukum Hud-hud, tapi ia memberi celah untuk tidak menghukum Hud-hud jika ia memiliki alasan yang jelas.
  • Para nabi tidak mengetahui hal-hal yang ghaib secara Mereka mengetahui hal-hal yang ghaib dari apa yang Allah SWT beritahu, sedang yang tidak diberitahu mereka tidak mengetahuinya. Dalam kisah ini Hud-hud berkata kepada Sulaiman as. :

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An-Naml: 22).

Imam Al-Qurthubi berkata, “ayat ini adalah bantahan bagi yang mengatakan bahwa para nabi mengetahui hal-hal yang ghaib.” (Tafsir Qurthubi 13/181).

  • Seorang yang melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar harus bersifat sabar dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Dalam kisah ini Nabi Sulaiman mampu untuk langsung menghukum Hud-hud tanpa harus menunggu penjelasan apa-apa, namun beliau memilih untuk bersikap lebih bijaksana dan mendengar dahulu penjelasan darinya.
  • Dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kita harus memiliki skala prioritas, sehingga kita bisa mendahulukan hal-hal yang terpenting dahulu sebelum yang lain. Dalam kisah ini Hud-hud menyebutkan satu kemunkaran yang ada pada kerajaan sang ratu, yaitu menyembah selain Allah. Biasanya orang-orang yang kafir melakukan banyak kemunkaran seperti minum minuman keras, berjudi, berzina dan lain-lain, namun Hud-hud tidak menoleh kepada semua kemunkaran itu karena ada kemunkaran yang lebih besar yang harus diluruskan dahulu, yaitu menyembah selain Allah SWT.

Demikian beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Nabi Sulaiman AS. Dengan burung Hud-hud Terutama yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar, dan inilah salah satu tujuan Al-Qur’an menyebutkan kisah-kisah pada zaman dahulu, yaitu agar kita mengambil pelajaran.

Wallahu a’lam bisshawab

Semoga bermanfaat..

Referensi:

  • Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir.
  • Tafsir Ibnu Katsir

 

 

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: