Berdzikir kepada Allah

Berdzikir-kepada-Allah.jpg

Ini adalah sifat yang agung. Para wanita shahabiyat selalu berdzikir dan tetap istiqamah kapada Allah hingga meninggal dunia. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ummul Mukminin, Juwairiyah binti al-Harits, di mana (suatu hari) Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam– melewatinya sedangkan ia berada di tempat shalatnya, kemudian ketika sudah hampir tengah hari Nabi melewatinya lagi, beliau bertanya kepadanya, “Engkau masih seperti tadi ? “ Dia menjawab, “Ya.” Nabi bersabda, “Maukah kamu aku ajari beberapa kalimat untuk kamu ucapkan, (yaitu),

سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ  سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ  سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ

سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ

سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ

سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ  سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ   سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Subhaanallahi ‘Adada khalqohi,  Subhaanallahi ‘Adada khalqohi, Subhaanallahi ‘Adada khalqohi.

Subhanallahi Ridhaa Nafsihi, Subhanallahi Ridhaa Nafsihi, Subhanallahi Ridhaa Nafsihi,

Subhanallahi Zinata ‘Arsyihi,   Subhanallahi Zinata ‘Arsyihi, Subhanallahi Zinata ‘Arsyihi,

Subhanallahi Midada Kalimaatihi, Subhanallahi Midada Kalimaatihi, Subhanallahi Midada Kalimaatihi,

‘Maha suci Allah sebanyak makhlukNya, Maha suci Allah sebanyak makhlukNya, Maha suci Allah sebanyak makhlukNya, Mahasuci Allah sebesar keridhaan DiriNya, Mahasuci Allah sebesar keridhaan DiriNya, Mahasuci Allah sebesar keridhaan DiriNya, Mahasuci Allah seberat ArsyNya, Mahasuci Allah seberat ArsyNya, Mahasuci Allah seberat ArsyNya, Mahasuci Allah sebanyak kalimat-kalimatNya, Mahasuci Allah sebanyak kalimat-kalimatNya,  Mahasuci Allah sebanyak kalimat-kalimatNya,

(Diriwayatkan oleh oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Ya’la, ath-Thabari dan Abd bin Humaid)

Di dalam as-Sunan al-kubra karya an-Nasai disebutkan bahwa Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

لقد قلت (بعدك) أربع كلمات ثم رددتها ثلاث مرات, لو وزنت بما قلت لوزنتها

Aku telah mengucapkan (setelah aku keluar dari sisimu) empat kalimat kemudian aku mengulanginya sebanyak tiga kali, yang seandainya kalimat itu ditimbang dengan apa yang telah kamu ucapkan, niscaya akan menyamainya, (kalimat itu ialah)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ عَدَدَ خَلْقِهِ, وَرِضَا نَفْسِهِ, وَزِنَةَ عَرْشِهِ ومِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Maha suci Allah dengan segala pujian untukNya, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, sebanyak makhluk-Nya sebanyak ridhaNya, seberat arsy-Nya, dan sebanyak kalimat-kalimatNya

Abul Mahasin di dalam kitabnya, Mu’tashir al-Mukhtashar (2/378) pada saat membicarakan tentang doa yang pendek namun mencakup makna yang luar, dia membawakan hadis Juwairiyah di atas, dia berkata, Hal ini menunjukkan bahwa semua kalimat yang diucapkan manusia untuk mendekatkan diri kepada penciptanya, hendaknya bacaannya itu mengandung makna yang serupa dengan makna kalimat yang berasal dari Nabi ini. Apabila hal ini dalam bentuk ucapan, hendaknya dalam bentuk perbuatan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepadaNya seperti itu juga.

As-Suyuthi dalam syarah (penjelasan) Sunan an-Nasai (3/81) mengutip perkataan Syaikh al-Izz vin Abdussalam, “ Kadang sebagian zikir lebih utama daripada dzikir lainnya kerena dzikir tersebut mencakup dan meliputi semua sifat-sifat (Allah) dzatiyyah dan fi’liyyah. Dzikir seperti ini walaupun sedikit, namun dia lebih utama daripada dzikir lainnya yang banyak, seperti dalam sabdanya سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ   (Mahasuci Allah sebanyak makhlukNya)

Yang dimaksud dengan عَدَدَ خَلْقِهِ   (sebanyak makhlukNya) adalah sebanyak jumlah makhluknya رِضَا نَفْسِهِ adalah (keridhaan Dirinya) yang tidak pernah putus, karena keridhaanNya terhadap orang-orang yang diridhaiNya, dari kalangan para Nabi dan para waliNya serta yang lainnya tidak akan terputus dan tidak akan berakhir.  Dan yang dimaksud dengan   زِنَةَ عَرْشِهِ adalah sebesar ukuran dan seberat timbangan ArsyNya , dan مِدَادَ كَلِمَاتِهِ  bisa diartikan dengan sebanyak tetesan air lautan. Ada yang mengatakan, sebanyak lautan, dan juga ada yang mengatakan sebanding dengan banyaknya lautan ( Syarah Sunan an-Nasai, 3/81)

Maksud dari ini semua untuk menunjukkan tak terhingganya kemahasucian Allah. Sebab, pada awal dzikir itu disebutkan kalimat yang menunjukkan jumlah, yaitu sebanyak jumlah makhluk dan seberat timbangan ArasyNya, kemudian menyebutkan tingkatan yang lebih tinggi dari itu dengan kalimat, مداد كلماته , yakni, tak terhitung sebagaimana tak terhitungnya kalimat-kalimat Allah subhanahu wata’ala.

Yang ingin dijelaskan di sini adalah menunjukkan betapa besarnya keutamaan yang dimiliki Juwairiyah, yaitu semangat dan kontinuitas beliau dalam berdzikir kepada Allah, di mana beliau duduk dalam waktu yang lama untuk berdzikir, mengagungkan Allah dan memujiNya.

Allah memuji orang yang memiliki sifat ini, seraya berfirman, “ lak-laki dan perempuan yang banyak menyebut (Nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (Qs. Al-Ahzab : 35)

Hadis di atas menjelaskan kesungguhan Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam mengajarkan umatnya cara mendapatkan pahala yang besar dengan amal yang sedikit.

Semoga Allah memberikan taufik. Amin

Sumber :

Durusun Min Hayati ash-Shahabiyaat, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Edisi Bahasa Indonesia, hal. 8-11

Amar Abdullah Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: