Kesalahan Orang Shalat (bagian 7): Bertopang Pada Salah Satu dari Kedua Kaki

kesalahan-dalam-shalat-hisbah.jpg

Pembaca yang budiman…

Kita telah menyebutkan beberapa bentuk kesalahan dalam sholat, yaitu:

  • Tidak menegakkan tulang punggung pada saat ruku’ atau sujud.
  • Tidak Thuma’ninahdi dalam shalat.
  • Mendahului imam.
  • Tidak segera mengikuti gerakan imam
  • Bacaan yang sama antara makmum dan imam tatkala ‘itidal
  • Melafazhkan niat
  • Menyepelekan masalah Shaf dengan tidak menutup sela-sela yang kosong dan tidak menyempurnakan kedua ujung shof(barisan) yang di depan.
  • Membaca surat al Fatihah dan surat setelahnya, termasuk pula sewaktu membaca Dzikir ruku’, I’tidal(berdiri dari ruku’), sujud dan yang lainnya cukup dengan hati, tanpa menggerakan lidah
  • Tidak mengeraskan ucapan amindalam sholat jahriyah(sholat yang didalamnya bacaan surat al Fatihah dikeraskan)
  • Tidak mengangkat kedua tangan pada tempat-tempat(posisi) yang dianjurkan untuk mengangkatnya menurut Sunnah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.
  • Melepas pandangan ke semua arah dan tidak terfokus pada tempat sujud sewaktu sholat.

Berikut ini, kita sebutkan beberapa bentuk kesalahan yang lainnya yang semoga kita terhindar darinya.

Pembaca yang budiman…

Termasuk kesalahan adalah bertopang pada salah satu dari kedua kakinya secara bergiliran. Yang benar : Yang wajib bagi orang yang shalat adalah berdiri dengan khusyu’ dan tunduk kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- dalam keadaan mengingat keagunganNya dan memikirkan semua apa yang diucapkannya. Maka, bertopang pada salah satu kedua kaki bisa melalaikannya dan mengurangi kekhusuaan dan tafakurnya. Yang benar adalah meninggalkannya. Adapun jika ia butuh hal itu, karena terpaksa, seperti karena sakit atau lanjut usia, maka terkadang hal itu diperbolehkan sesuai kadar kebutuhannya.

Wallahu a’lam

Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. (Abu Umair)

Sumber:

Tanbiihaat ‘alaa ba’dhi akhto-I al Mushollin, Abdul Aziz bin Nashr al-Musainid. Dikomentari oleh Syaikh Abdullah al-Jibrin. (Edisi Bahasa Indonesia, hal.7)

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: