Cara Agar Amar Makruf Nahi Munkar Membuahkan Hasil

hisbah-nafi.jpg

Chart showing rising profits

Agar praktik hisbah (amar makruf nahi mungkar) membuahkan hasil dan bermanfaat, haruslah terlebih dahulu memenuhi beberapa perkara, terikat dengan beberapa aturan, memiliki sifat-sifat tertentu, dan memiliki ukuran tingkat keberhasilan, karena jika tidak seperti itu, maka ia tidak bermanfaat, atau hanya sedikit saja. Maka agar kita bisa mendapatkan Hisbah yang bermanfaat dan berhasil, harus terlebih dahulu ditentukan targetnya, menggunakan sarana-sarana dan cara-cara yang sesuai dengan syariat, dan mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan. maka melalui makalah ini berikut kami sajikan beberapa faktor pendukung agar Hisbah dapat membuahkan hasil:

ILMU YANG MUMPUNI

Sebagian oknum yang bergerak di bidang hisbah, ada yang sangat bersemangat namun tidak cukup berilmu, sebagian lagi ada yang memiliki cukup ilmu namun tidak memiliki semangat. Maka sosok yang ideal itu adalah dia yang mampu menggabungkan dua sisi tersebut, ilmu yang disertai rasa semangat dan tekad yang kuat.

Berkata seorang penyair:

وَمن لم يحط علماً بِمَعْنى وَصُورَة *** لَهُ، فبصير العين أعمى البصيرة

“Dan barangsiapa yang tidak menguasai suatu ilmu dengan makna dan bentuknya.”

“Maka sesungguhnya ia adalah seorang yang buta hatinya meskipun matanya melihat.”

Jadi, ilmu adalah salah satu yang sangat dibutuhkan dalam praktik hisbah, karena ilmu atau mata hati seperti mata penglihatan, karena berbeda orang yang sudah melihat dikala matahari baru hendak terbit dengan seseorang yang baru dapat melihat ketika hari sudah dhuha.

Oleh karena itu  seorang praktisi hisbah atau penegak amar makruf nahi munkar seyogyanya memiliki analisa yang benar, pandangan yang terbuka, mengetahui secara akurat keadaan targetnya, berilmu akan praktik yang akan dijalaninya, dan memiliki kecakapan akan cara yang digunakannya, Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي}

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (Yusuf 108)

 

1. Sumber pertama bagi seorang muhtasib (praktisi hisbah) untuk mendapatkan ilmu yang mumpuni tersebut adalah Kitabullah Ta’ala, ilmu tersebut didapatkan dengan membacanya, menghafalnya, memperbanyak tilawahnya, mentadabburinya, mengamalkan isi kandungannya, dan mendakwahkannya; hal ini dikarenakan praktik hisbah tegak di atas perintah Al Qur’an, maka oleh sebab itulah ia menjadi sumber ilmu pertama bagi seorang muhtasib yang paling penting, dan Al Qur’an ini juga merupakan sarana untuk memperingatkan dan mendatangkan hidayah, Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ}

“Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu” (Al Anbiya’ 45)

وقال تعالى: وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَاداً كَبِيراً

“dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” (Al Furqan 52)

وقال تعالى : قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبي

 ”Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku.” (Saba’ 50)

 

2.  Ilmu yang mumpuni itu juga didapatkan dari mempelajari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan melalui kisah-kisah beliau dalam menegakkan praktik hisbah.

3 – Didapatkan juga dengan menelaah perkataan para imam dan ulama di bidang hisbah ini, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Al Auza’i, Imam Ats-Tsauri dan yang lainnya yang datang setelah mereka seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan muridnya Imam Ibnul Qayyim. Dan juga didiapatkan melalui kitab-kitab para ulama dakwah seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya.

 

4 – Dan yang terakhir adalah dengan menelaah kisah-kisah para ulama muhtasib baik dari kalangan salaf maupun yang khalaf, agar sekiranya dapat mengambil pelajaran dari cara-cara mereka.

 

BIJAKSANA

Menegakkan amar makruf nahi munkar butuh pelaksanaan yang bijak, ibarat dokter yang memberikan arahan kepada pasiennya yang memiliki penyakit kronis, maka hal pertama yang dilakukan dalam hisbah agar bermanfaat adalah menganalisa jenis penyakit yang ada pada pelaku kemungkaran tersebut, kemudian menentukan obat yang tepat untuknya, dan dosisnya. Kemudian menasehatinya agar tidak alergi dengan yang namanya obat, agar mau meminumnya dan memperingatkan akibatnya jika tidak meminumnya. Kemudian bagi yang menjawab panggilan ini, difokuskan baginya pendidikan dan tarbiyah agar tidak lagi tergiur dengan penyakit lamanya.

Allah Ta’ala telah menjadikan hikmah atau kebijaksanaan ini sebagai pondasi dalam berdakwah dan amar makruf nahi munkar, Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ وَجَادِلُهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

 “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl 125)

 

Demikianlah perintah hikmah pada ayat di atas datang secara umum, dan sungguh hikmah itu sendiri adalah satu kata yang indah, yang berarti menempatkan sesuatu pada posisinya secara tepat, pemilihan cara dan sarana yang tepat pula.

Maka  dalam praktik hisbah ini perlu mempraktikannya secara benar, sesuai dengan pola yang tepat, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, yang mana mereka merupakan sosok panduan sejati.

 

BERURUTAN SESUAI PETUNJUK NABI

Maksudnya adalah dengan meneladani metode Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meletakkan peta prioritasnya. Beliau terlebih dahulu memulai dengan bab aqidah tauhid sebelum yang lainnya, sebagaimana beliau berdakwah di Makkah selama 13 tahun menyeru kepada hakikat Laa Ilaaha Illallahu dan konsekuensinya, memberantas kesyirikan, hingga sampai kepada titik yang mana aqidah telah menancap pada diri jiwa, kemudian baru setelahnya beliau menyeru kepada bab lain daripada perintah-perintah dan larangan.

Maka hendaknya seorang praktisi hisbah memulai dari kemungkaran yang berkaitan padanya nilai kesyirikan, kemudian baru bertahap ke apa yang derajatnya dibawah. Apalagi jika kemungkaran-kemungkaran tersebut sangatlah banyak, maka perlu pemetaan prioritas, sehingga tidak hanya mengingkari apa yang bersifat non prinsip, kemudian malah melalaikan apa yang bersifat prinsip agama daripada pondasi-pondasi yang pokok.

Yang demikian maksudnya adalah agar seseorang yang hendak menegakkan hisbah dan perbaikan memulai dakwahnya dengan menyeru kepada tauhid, yang mana ia merupakan barometer syarat sah diterimanya amalan-amalan selainnya, karena ia merupakan akar atau pondasi yang segala sesuatu dibangun di atasnya, yang mana jika tauhid ini alfa, maka tidak ada nilai amalan setelahnya, dan gugur. Hal tersebut karena pengetahuan akan tauhid tersebut merupakan kewajiban pertama atas seorang hamba, maka dari itulah ia merupakan hal yang pertama juga dalam berdakwah dan hisbah, kemudian baru hal-hal yang lain. Ini maksudnya adalah sebagai strategi perbaikan secara umum, karena pada asalnya seorang muslim wajib mengubah suatu kemungkaran yang terjadi didepan matanya, baik itu yang kecil maupun yang besar.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: