Celaan Allah Terhadap Ulama Yahudi

Celaan-Allah-Terhadap-Ulama-Yahudi.jpg

Allah SWT mengutus para rasul untuk menyampaikan syariat Allah SWT. Dan para ulama adalah para pewaris ilmu para rasul dan harus menyampaikan syariat tersebut kepada ummat, inilah yang disebut dengan dakwah. Tak cukup sekedar menyampaikan saja, bilamana ada kemungkaran ditengah-tengah masyarakat ia tidak boleh diam dan harus mencegahnya, atau disebut juga dengan amar ma’ruf nah mungkar. Kewajiban amar ma’ruf tak hanya untuk para ulama saja, tetapi untuk setiap muslim yang mengetahui bahwa itu mungkar. Ketika suatu kemungkaran tersebar luas dikalangan masyarakat dengan terang-terangan, dan tidak ada seorangpun yang mengingkari, maka dikhawatirkan murka Allah SWT akan turun. Inilah yang terjadi kepada Bani Israil, ulama mereka diam seribu bahasa disaat kemungkaran meraja lela dimana-mana. Maka Allah SWT murka dan mencela mereka.

Allah SWT berfirman:

وَتَرَىٰ كَثِيرا مِّنهُم يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلإِثمِ وَٱلعُدوَٰنِ وَأَكلِهِمُ ٱلسُّحتَ لَبِئسَ مَا كَانُواْ يَعمَلُونَ.  لَولَا يَنهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلأَحبَارُ عَن قَولِهِمُ ٱلإِثمَ وَأَكلِهِمُ ٱلسُّحتَ لَبِئسَ مَا كَانُواْ يَصنَعُونَ .

Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. Al-Maidah: 62-63).

Ini celaan Allah SWT yang sangat jelas kepada Bani Israil karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran, Allah SWT mencap perbuatan mereka sebagai perbuatan yang amat buruk. Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya mereka satu sama lain tidak saling mencegah dari perbuatan dosa, kemudian Allah mencela mereka atas perbuatan tersebut untuk memberi peringatan kepada kita agar tidak berbuat seperti mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/618)

Yahya bin Muammar berkata, “Ali bin Abi Thalib ra pernah berpidato, ia bertahmid dan memuji Allah kemudian berkata: wahai para manusia! sesunguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka berbuatan dosa sedang ulama-ulama mereka tidak mencegahnya, ketika mereka terus menerus berbuat maksiat, mereka  ditimpa oleh berbagai macam adzab. Maka menyerulah kalian kepada yang baik, dan cegahlah dari perbuatan mungkar sebelum turun kepada kalian apa yang sudah pernah turun kepada mereka, dan ketahuilah bahwa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran tidak akan menjadi sebab putusnya rezeki atau dekatnya ajal.” (Zahratut Tafasir 5/2275).

Pelajaran yang dapat dipetik dari ayat diatas:

  1. Diantara kebiasaan orang-orang yahudi adalah melanggar larang-larangan Allah, sedang tokoh-tokoh agama mereka berdiam diri walau ada kemaksiatan yang tersebar ditengah-tengah mereka.
  2. Ayat ini mengandung celaan terhadap diamnya para ulama disaat kemungkaran dan kemaksiatan meraja lela. Oleh karena itu sebagian salaf berkata bahwa ayat ini adalah ayat paling berat dan paling berbahaya bagi ulama. Namun ini bukan berarti kewajiban mencegah kemungkaran hanya kewajiban ulama, melainkan juga kewajiban bagi setiap muslim yang mengetahuinya sesuai kemampuannya.
  3. Ayat ini mengandung pesan tersirat bahwa para ulama wajib menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran terutama di zaman sekarang ini dimana berbagai maksiat dan kemungkaran tersebar dimana-mana.
  4. Orang yang mengetahui suatu kemungkaran lalu mendiamkannya tanpa ada pengingkaran dari perbuatan, perkataan atau hatinya, ia berdosa karena telah meridhai sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.
  5. Ayat ini menyebutkan beberapa perbuatan tercela orang-orang yahudi, pertama bersegera berbuat dosa, dan orang yang demikian adalah orang yang di hatinya tidak ada rasa takut akan adzab Allah SWT, kedua mengadakan permusuhan, ketiga memakan yang haram, keempat membiarkan kemungkaran merajalela. Kemudian Allah SWT mencela perbuatan mereka dan mensifatkannya sebagai perbuatan yang amat buruk.

Wallahu a’lam

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: