Dakwah Nabi Musa as Kepada Fir’aun

Dakwah-Nabi-Musa-as-Kepada-Fir’aun.jpg

Nama beliau adalah Musa bin Imran bin Qahits bin ‘Azir bin Lawiy bin Ya’qub as bin Ishaq as bin Ibrahim as. (Al-Bidayah wan Nihayah, karya Imam Ibnu Katsir)

Nabi Musa as adalah salah satu dari lima nabi yang diberi julukan ulul ‘azmi, sebutan ini adalah suatu julukan bagi para nabi yang memiliki kedudukan khusus karena ketabahan dan kesabaran mereka yang luar biasa dalam berdakwah. Mereka adalah; Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad alaihimussholatu was salam.

Nabi Musa as memiliki julukan spesial yaitu ‘kaliimullah’ (orang yang diajak bicara oleh Allah), diberi julukan itu karena beliau berbicara kepada Allah SWT langsung tanpa perantara. Ini juga merupakan keutamaan tersendiri bagi Nabi Musa as dimana para nabi lainnya menerima wahyu melalui perantara Malaikat Jibril as kecuali Nabi Muhammad SAW pada peristiwa isra’ mi’raj.

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa’: 164)

Apabila membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, kita akan banyak menemui nama ‘Musa’ dalam Al-Qur’an, Nabi Musa as memang memiliki keistimewaan tersendiri dalam Al-Aqur’an, Nama beliau adalah nama nabi terbanyak yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dibanding dengan nabi-nabi lainnya, kisah beliau juga kisah paling sering disebutkan dalam Al-Qur’an dalam banyak surah baik secara singkat ataupun terperinci. Diantara surah paling rinci yang bercerita tentang beliau adalah Surah Al-Qashash.

Beliau adalah keturunan Nabi Ibrahim as dari putranya yang bernama Ishaq as sebagaimana bisa anda lihat nama dan nasab beliau diatas. Nabi Musa as diutus oleh Allah SWT kepada Fir’aun, seorang raja kafir yang dzolim dan biadab.

Kisah Nabi Musa as dengan Fir’aun disebutkan di banyak tempat dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah  dalam surah An-Nazi’at dari ayat 15 sampai dengan ayat 26 yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Allah SWT berfirman:

هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ.  إِذْ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلْوَادِ ٱلْمُقَدَّسِ طُوًى. ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ. فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَىٰ أَن تَزَكَّىٰ. وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ.

Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa; “Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas, dan Katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?“” (QS. An-Nazi’at: 15-19).

Allah SWT memanggil Nabi Musa as tatkala beliau melewati suatu lembah suci di Mesir yang bernama ‘Thuwa’. Di situlah Nabi Musa as mendapatkan perintah untuk pergi menuju Fir’aun dan mengajaknya beriman kepada Allah SWT. Menyadari bahwa ia mendapatkan perintah yang tidak mudah ditambah dengan lisan beliau yang kurang fasih, Nabi Musa as memohon kepada Allah SWT untuk mengutus seseorang untuk menemaninya menemui Fir’aun, Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Musa as dan memilih Nabi Harun as saudara Nabi Musa as sendiri untuk menjadi temannya menuju Fir’aun.

Tak hanya memerintahkan Nabi Musa as menuju Fir’aun, Allah SWT juga mengajari beliau tata cara berbicara yang baik dengan Fir’aun yang dzolim dan kafir. Allah SWT mengajari Nabi Musa as kata-kata yang lembut dan halus untuk ditujukan kepada Fir’uan. Padahal Fir’aun adalah orang yang paling kafir karena ia tidak hanya mendustakan ketuhanan Allah, tapi ia juga mengaku dirinya sebagai tuhan, dan inilah tingkat kekufuran yang paling besar.

Dalam ayat lain di Surah Thaha Allah berfirman:

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44).

Inilah yang Allah SWT ajarkan kepada Nabi Musa as untuk menghadapi Fir’aun, yaitu dengan berkata-kata lembut. Disini patut kita ambil pelajaran bagaimana cara mengajak atau menasehati orang lain, jika Nabi Musa as saja diperintahkan untuk berkata-kata lembut kepada Fir’aun yang kafir, maka dalam menasehati saudara kita yang sesama muslim dikala mereka salah lebih diperintahkan.

Setelah Nabi Musa as sampai kepada Fir’aun dan menyampaikan dakwah beliau, Allah menjelaskan bagaimana reaksi Fir’au, Allah berfirman:

Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian Dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka Dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”.” (QS. An-Nazi’at: 20-24).

Nabi Musa as tidak hanya mengajak Fir’aun beriman tapi juga memperlihatkan mukjizat sebagai bukti kenabian beliau yang berupa tongkat yang berubah menjadi ular besar dan sinar yang memancar dari tangan beliau. Namun Fir’aun yang hatinya sudah tertutup dan dipenuhi oleh rasa sombong tetap bersikeras dalam kekufurannya.

Fir’aun justru tambah menentang, ia berpaling dari semua ajakan Nabi Musa as dan mengumpulkan rakyatnya seraya mengatakan “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”. Maksudnya adalah; tiada tuhan diatas aku.

Menurut Ibnu Abbas ra dan Mujahid, kata-kata Fir’aun diatas ia katakan empat tahun setelah perkataannya yang pertama:

Dan Fir’aun berkata: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku…” (QS. Al-Qashash: 38).

Maka di ayat berikutnya Allah SWT berfirman:

Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. An-Nazi’at: 25)

Disini para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud الآخرة والأولى (yang pertama dan yang terakhir):

Pendapat pertama adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah yang mengatakan bahwa maksud ‘yang pertama’ adalah adzab di dunia dimana Fir’aun ditenggelamkan ke laut, dan ‘yang terakhir’ adalah adzab api neraka. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam Ibnu Katsir.

Pendapat kedua adalah pendapat Imam Mujahid dan sekelompok ahli tafsir yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘yang pertama’ adalah perkataan Fir’aun; ما علمت لكم من إله غيري (aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku) dan yang dimaksud dengan yang kedua adalah perkataannya: أنا ربكم الأعلى (Akulah Tuhanmu yang paling tinggi), dan antara kedua perkataan tersebut jeda waktu selama 40 tahun.

Kemudian di ayat berikutnya Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at: 26).

Kisah ini adalah sebagai pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada kepada Allah SWT. Dalam ayat lain Allah berfirman:

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[*] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (QS. Yunus: 92)

[*] Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

Wallahu a’lam

Penyusun: Arinal Haq

Referensi: Tafsir Ibnu Katsir & Tafsir Imam Al-Baghawiy

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: