Dakwah Nabi Yunus Alaihissalam

nabi-yunus.jpg

Nabi Yunus adalah seorang nabi mulia yang diutus oleh Allah SWT kepada penduduk ‘Ninawa’ salah satu kampung di kota ‘Mousil’ (Irak).

Kisah Nabi Yunus as. dan kaumnya disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, seperti dalam surah yunus, Al-Anbiya’, dan As-Shaffat. Bahkan nama Nabi Yunus as menjadi salah satu nama surah dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kisah beliau.

Setelah mendapat perintah dari Allah SWT Nabi Yunus as mulai berdakwah kepada kaumnya, namun mereka menolak dan mendustakan dakwah Nabi Yunus as. Ketika sudah berlalu beberapa lama beliau berdakwah namun kaumnya tetap dalam kekufuran dan kemaksiatan, dengan rasa kesal dan marah Nabi Yunus as. meninggalkan kampungnya, lalu mengancam kaumnya akan adzab Allah SWT yang akan menimpa mereka tiga hari kemudian.

Menurut Ibnu Mas’ud ra, Qatadah, Said bin Jubair dan yang lainnya sebagaimana dalam kitab Al-Bidayah wan- Nihayah, tatkala Nabi Yunus as keluar dari kampung kaumnya dengan amarah dan rasa kesal, kaumnya merasa khawatir dan takut jika suatu waktu adzab Allah menimpa mereka, maka Allah SWT mengilhamkan kepada hati mereka untuk bertaubat dan kembali kejalan yang benar serta menyesal atas perlakuan mereka kepada Nabi Yunus as sebelumnya. Mereka ramai-ramai bertaubat memohon ampunan kepada Allah SWT. Lelaki, wanita, dan anak-anak semuanya menangis dan berdoa kepada Allah, begitu juga hewan-hewan, unta, dan sapi ikut mengeluarkan suara memohon rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga Allah menahan adzab yang sudah hampir turun menimpa mereka.

Menurut para ulama, kaum Nabi Yunus as akhirnya semuanya beriman sebagaiman firman Allah SWT:

فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَانُهَآ إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98).

Al-Qur’an menjelaskan bahwa jumlah mereka berkisar antara seratus ribu orang atau lebih, Allah berfirman:

وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى مِائَةِ أَلْفٍ أَوْيَزِيدُونَ . فَئَامَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

Dan Kami utus Dia (Yunus) kepada seratus ribu orang atau lebih. lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 147-148).

Sementara Nabi Yunus as telah pergi dan naik kapal dengan rasa murka kepada kaumnya. Ditengah laut yang luas kapal yang ia naiki diterpa ombak besar, kapal tersebut berguncang hebat hampir-hampir kehilangan keseimbangan karena muatan yang begitu berat, mereka semua hampir tenggelam. Akhirnya mereka sepakat untuk mengurangi muatan kapal demi menjaga keselamatan semua, terpaksa sebagian penumpang harus rela dilemparkan ke laut demi keselamatan yang lain.

Mereka mengundi nama para penumpang, dan nama yang muncul akan dilemparkan ke laut. Setelah beberapa kali mengundi ternyata dalam setiap kali yang muncul adalah nama Nabi Yunus as. Mau tidak mau Nabi Yunus harus rela dilempar ke laut. Tatkala mereka melempar Nabi Yunus as ke laut Allah SWT mengutus seekor ikan paus besar dan menelan beliau dengan tetap menjaga keutuhan jasad beliau.

Di dalam kegelapan perut paus beliau senantiasa beribadah dan berdzikir kepada Allah SWT, beliau membaca:

لآإِلَهَ إِلآ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87).

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa lama Ia berada di dalam perut ikan paus, ada mengatakan Ia ditelan di pagi hari lalu dikeluarkan sore harinya, ada lagi yang mengatakan tiga hari, tujuh hari, dan empat puluh hari. Dzikir beliau di dalam perut ikan terdengar sampai ke Arsy, sehingga malaikat juga ikut mendoakan beliau, mereka memohon dari Allah SWT untuk mengampuni dan mengasihinya. Maka Allah SWT mengabulkan permintaan mereka dan memerintahkan sang ikan untuk memuntahkan Nabi Yunus as dari perutnya ke sebuah daratan yang tandus dan tidak ada tumbuhannya sama sekali dalam kondisi fisik yang sangat lemah tak berdaya, Ibnu Mas’ud menggambarkan bahwa keadaannya seperti anak burung yang belum memiliki bulu.

Allah berfirman:

فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَآءِ وَهُوَ سَقِيمٌ. وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ

“Kemudian Kami lemparkan Dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam Keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk Dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. As-Shaffaat: 145-146)

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa allam bersabda setelah menyebutkan dzikir Nabi Yunus as diatas:

فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا مُسْلِمٌ رَبَّهُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ لَهُ

sesungguhnya tidaklah seorang muslimpun berdoa kepada tuhannya dengan doa tersebut dalam suatu perkara, kecuali (Allah) akan mengabulkannya.” (HR. Tirmidzi & Nasai).

Demikianlah kisah Nabi Yunus yang kami petik dan kami ringkas dari kitab Al-Bidayah wan Nihayah Karya Ibnu Katsir, lalu kami sajikan sesederhana mungkin bagi pembaca agar mudah dipahami. Jika pembaca ingin menelaah lebih rinci silahkan merujuk kepada kitab Al-Bidayah wan Nihayah pada jilid pertama.

Wallahu a’lam

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: