Dengan apakah perzinaan bisa ditetapkan ?

perahu-kuning.jpg

Jawab :

Zina ditetapkan dengan persaksian 4 orang lelaki yang diridhoi, bahwa mereka melihat kemaluan (penis) laki-laki yang berzina tersebut berada di dalam kemaluan ( vagina) wanita yang dizinainya, hal ini merupakan keharuasan. Persaksian seperti ini sangat sulit sekali. Oleh karena itu, syaikhul islam ibnu Taimiyyah – semoga Alloh merahmatinya –  : sesungguhnya tidak akan ditetapkan zina melalui persaksian saja.

… cara yang kedua untuk menetapkan perbuatan zina yaitu, orang yang berzina mengaku dirinya melakukan zina. Namun, apakah dipersyaratan pengulangan pengakuan sebanyak 4 kali atau cukup pengakuan sekali saja. Atau, diperinci antara sesuatu yang telah terkenal dan sesuatu yang belum terkenal ? dalam masalah ini adalah perbedaan pendapat di kalangan para ulama, yang lebih dekat kepada kebenaran-Wallohu a’lam- adalah pendapat yang menyatakan bahwa tidak dipersyaratkan adanya pengulangan pengakuan, kecuali bila terdapat syubhat (kerancuan/ketidakjelasan). Kalau tidak ada kerancuan, maka bukti yang terbesar yang menunjukkan kebenaran adalah pelaku perbuatan tersebut mengakuinya. Lalu, bagaimana orang yang melakukannya mengakuinya sementara ia telah dewasa, berakal, mengerti apa yang diucapkannya kemdian kita kita mengatakan, “ tidak ada hokum untuk pengakuan ini, maka meski ia mengakuinya sebanyak 3 kali, kita tidak menganggapnya sebagai sebuah pengakuan. Jadi, yang benar adalah bahwa pengakuan sekali telah mencukupi kecuali bila terdapat subhat. Wallohu a’lam (Abu Umair)

Sumber : at Talhiish al-Mu’iin ‘ala Syarhi al-Arba’iin, Ibnu Utsaimin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: