Didik Bukan Dihardik

Screenshot_1-1.jpg

Buah hati adalah kado terindah dari Sang Ilahi untuk Abi dan Umi, kado yang bukan sembarang kado melainkan sebuah amanah yang berat juga.  Anak sebagai titipan yang  nantinya akan dipertanyakan tentangnya, dirawat dengan sebaik mungkin hingga membawa Abi dan Umi ke surgakah? atau ditelantarkan begitu saja hingga malah menjadi petaka di akhirat kelak .

Mendidik anak memang tidaklah mudah, antara anak satu dengan yang lainnya pasti memiliki karakter yang berbeda, namun bukan berarti anak-anak itulah yang sepenuhnya harus mengikuti setiap arahan Abi dan Umi, namun terkadang Abi dan Umi lah yang harus lebih mengerti dan memahami mereka.

Antara anak satu dengan yang lain tentu tidak bisa disamakan cara yang dipakai, maka pelajarilah seni mendidik anak ini Ayah dan Bunda agar sang anak tumbuh dengan baik tanpa membawa depresi atau trauma masa kecil yang kelak bisa merusak masa depannya.

Pernah suatu kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan senampan dengan seorang anak yatim yang dirawatnya, Umar bin Abi Salamah Radhiyallahu ‘anhu namanya. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim Umar kecil ini menceritakan kisah dirinya dengan Nabi, jadi waktu itu ia ingin langsung menjangkau lauk yang ada diujung nampan, maka melihat hal itu, Nabi berkata kepadanya:

“اُدْنُ يَا بُنَيَّ! فَسَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ, وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ” رواية عند الترمذي”

“Kemari mendekatlah wahai anakku! ucapkanlah basmalah terlebih dahulu, kemudian barulah makan dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada didekatmu”.

Lihat Abi dan Umi, bagaimana Nabi menegur anak yatim kecil itu dengan halusnya, dengan panggilan ”anakku”, dan diberitahu apa yang perlu dilakukan setelahnya tanpa perlu mengungkit lagi kenapa begini dan begitu. coba bandingkan dengan kita kadang bagaimana seringnya menegur anak dengan cara yang terdengar kasar: “heh! Oii! Kok begitu kenapa begitu hah!” dsb yang bisa jadi dapat meninggalkan bekas yang buruk dihati kecil anak kita.

ya mungkin bisa jadi ia memang menurut, tapi dengan seiring berjalannya waktu pasti akan berbeda hasil, menurut dengan kejengkelan dihati dengan menurut kepada orangtua dengan cara yang memberi kesan rasa sayang.

Abi dan Umi memang sudah benar karena sedini mungkin mengajarkan sang buah hati mana yang benar mana yang salah, namun sekali lagi semoga Abi dan Umi koreksi lagi cara selama ini ya, semoga sunnah-sunnah Nabi yang Abi Umi ajarkan ke buah hati juga sudah sesuai dengan cara sunnah Nabi juga ya dalam mengajarkannya…

Kembali ke kisah, terakhir Umar si yatim kecil yang dirawat Nabi melanjutkan ceritanya:

“فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ….”

“Semenjak itu cara makanku pun selalu seperti yang beliau ajarkan…”

Ya! wejangan Nabi pun terus beliau ingat dan praktekkan sepanjang hidupnya, membekas disanubarinya, merasa bangga karena telah diajari langsung oleh Nabi yang mulia dengan cara yang mulia pula hingga dengan penuh kebanggaan beliau ceritakan kisahnya hingga diriwayatkan dan abadi hingga sampai ke Abi dan Umi, semoga Allah merahmati beliau Radhiyallahu ‘anhu, bayangkan kalau pada saat itu Nabi menghardiknya dengan kasar, tentu Umar Bin Abi Salamah merasa malu, bahkan aib jika sampai diceritakan ke orang banyak.

Bagaimana dengan Abi dan Umi? tentu ingin sekali bukan kelak anak-anak Abi dan Umi terus mengingat didikan Abi dan Umi sepanjang hidupnya, atau bisa jadi juga menceritakannya ke anak cucu mereka dan turun temurun terdidik olehnya? tentu ini memanglah tidak mudah Abi dan Umi, butuh kesabaran dan keuletan dalam mendidik buah hati kita, namun cukuplah kelak pahala yang terputus-putusnya yang Abi dan Umi dapat dari anak-anak jika mereka menjadi soleh-soleha yang akan terus mendoakan Abi dan Umi sepanjang masa sebagai bekal terbaik di akhirat kelak.

 

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik-Nya hingga dapat menjaga amanah yang baik ini dengan sungguh-sungguh, dan semoga dengan rahmat dan kasih-sayang-Nya,  anak-anak kita menjadi anak yang soleh dan solehah, berbakti dimasa hidup kita, dan tak lepas terus berdoa untuk kita kelak, Aamiin.

 

Penulis: Muhammad Hadhrami bin Ibrahim

Rujukan:
الاحتساب على الأطفال ص 55 -57    

تأليف: د. فضل إلهي


Artikel : <a href=”http://www.hisbah.net”>www.hisbah.net</a>

Ikuti update artikel di <a href=”https://www.facebook.com/Hisbahnet” target=”_blank”>Fans Page Hisbah.net</a>
<a href=”https://twitter.com/Hisbahnet” target=”_blank”>Twitter @Hisbahnet,</a>

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: