Do’a Penguat Kesabaran Jiwa

Do’a-Penguat-Kesabaran-Jiwa.jpg

Merupakan sunnatullah yang berlaku untuk setiap manusia, baik yang beriman kepadaNya ataupun yang tidak beriman kepadaNya adalah “musibah”. Allah jadikan hal itu untuk suatu hikmah yang agung. Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena musibah silih berganti dengan beragam bentuknya.

Kita saksikan melalui media, bahkan kita sering kali menyaksikannya di depan mata kepala kita sendiri, dan bahkan boleh jadi musibah itu seringkali menyapa diri kita sendiri dengan berbagai bentuk dan ragamnya. Disinilah letak pentingnya sebuah do’a yang akan mendidik jiwa kita untuk bersabar dalam menghadapi setiap musibah yang menyapa kita dalam kehudupan kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam telah mengajarkan do’a saat tertimpa musibah kepada generasi pertama ummat ini dari kalangan para sahabatnya, yang berarti pula itu merupakan pengajaran bagi kita juga, karena kita adalah bagian dari ummatnya. Do’a yang beliau ajarkan tersebut sungguh memiliki hubungan sangat erat dengan musibah dan manakala seorang hamba memanjatkan doa tersebut dengan penuh keyakinan yang mantap di dalam dirinya niscaya jiwanya akan terdidik dengan baik untuk dapat bersabar saat musibah menyapa.

Di antara do’a yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam tersebut yaitu,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali. Ya Allah, berilah pahala kepadaku pada musibah yang menimpaku, dan berilah ganti untukku dengan ganti yang lebih baik daripadanya.”

Redaksi do’a yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahihnya, Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra dan yang lainnya, dari Ummu Salamah, semoga Allah meridhainya.

Ungkapan “Sesungguhnya kami adalah milik Allah”, memiliki hubungan dengan musibah dari sisi bahwa keduanya (kita/manusia dan musibah) sama-sama diciptakan oleh Allah. Dia Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia mencipta dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan kehendakNya dan hikmahNya.

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan kepunyaan Allah kerajaan di langit dan di bumi dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran : 189)

Dan, kesadaran seorang hamba akan hakekat ini, sesungguhnya akan menjadikan dirinya semakin kuat dalam menanamkam kesabaran dalam jiwanya tatkala musibah menyapanya.

Begitu juga ungkapan, “dan sesungguhnya kepadaNyalah kami akan kembali”, memiliki hubungan dengan musibah dari sisi bahwa musibah seringkali menyebabkan hilangnya sesuatu yang dicintai, diambilnya kenikmatan yang pernah dirasakan seseorang, oleh karena kenikmatan itu merupakan pemberian Allah atau titipan Allah yang diberikan kepada hambanya, maka Allah juga berhak untuk mengambilnya kembali.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Dan milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (QS. Ali Imran : 109)

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“MilikNyalah kerajaan langit dan bumi dan hanya kepadaNyalah segala urusan dikembalikan.” (QS. Al-Hadid : 5)

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan.”(QS. Al-Baqarah : 28)

هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepadaNyalah kalian dikembalikan.” (QS. Yunus : 56)

Ungkapan ini -yakni, “dan sesungguhnya kepadaNyalah kami akan kembali”- pun akan semakin menguatkan jiwa untuk bersabar menghadapi musibah yang menyapanya.

Demikian pula ungkapan selanjutnya dari rangkai doa yang diajarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ini, yaitu : “Ya Allah berilah pahala kepaku pada musibah yang menimpaku”, juga memiliki hubungan dengan musibah dan semakin mendorong jiwa untuk bersabar menghadapi musibah yang menyapa. Hubungannya dari sisi bahwa musibah seringkali menyakitkan jiwa, menjadikannya bersedih karena kehilangan sesuatu yang dicintai oleh jiwa, maka dengan kesabaran jiwanya seseorang akan menadapatkan pahala yang berlipat ganda sebagaimana yang ditegaskan Allah ta’ala dalam firmanNya,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Ketika seseorang menyadari bahwa kesabaran itu akan menyebabkan dirinya mendapatkan sedemikian banyak pahala, maka tentu hal ini akan semakin mengutkan jiwanya untuk dihiasi dengan sifat yang mulia ini. Yaitu kesabaran dan keridhaan terhadap musibah yang Allah takdirkan menyapanya.

Ungkapan “dan berilah ganti untukku dengan ganti yang lebih baik daripadanya” juga memilki hubungan yang erat dengan musibah, dari sisi bahwa musibah seringkali menjadikan seseorang kehilangan sesuatu yang dicintainya entahlah berupa harta benda bahkan jiwa orang yang dicintainya seperti orang tua, pasangan hidup, anak-anak, saudara dan lain sebagainya. Sehingga berkuranglah sebagian kenikmatan yang biasanya dapat dinikmatinya. Hilangnya ini dan itu sesuatu yang dicintainya itu atau berkurangnya kenikmatan ini dan itu, menjadikan hati bersedih dan merasa ada yang kurang adanya.

Oleh kerenanya, jiwa sangat menginginkan sesuatu yang hilang tersebut tergantikan dengan sesuatu yang lebih baik menurut Allah ta’ala karena Dialah Dzat yang mengetahui apa yang lebih masalahat untuk hambaNya.

Akhirnya, semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk memanjatkan doa ini saat berbagai musibah menyapa kita, dan semoga pula Allah mengaruniakan kesabaran yang baik kepada kita sehingga dapat menyikapinya dengan baik. Amiin, wallahu a’lam.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: