Dua Pahlawan Cilik di Perang Badar

Perang-Badar.jpg

Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan orang-orang kafir. Perang ini terjadi pada Bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah. Perang ini adalah peperangan terpenting dalam sejarah umat islam, karena perang ini mempengaruhi jiwa, mental, dan semangat umat islam dalam menghadapi orang-orang kafir di masa-masa berikutnya.

Peristiwa Perang Badar telah menampilkan pahlawan-pahlawan terbesar dalam islam dimana jumlah kedua pasukan antara kaum muslimin dan orang kafir sangat tidak imbang, yaitu 313 mujahid dari kalangan kaum muslimin melawan 1000 orang kafir. Ditambah lagi keadaan kaum muslimin yang menahan lapar dan dahaga karena peperangan tersebut terjadi pada Bulan Ramadan dan kaum muslimin dalam keadaan berpuasa. Namun kekuatan iman yang ada dalam jiwa kaum muslimin membuat mereka sama sekali tak gentar bertempur dengan musuh, hati yang telah dipenuhi kerinduan terhadap surga dan kecintaan kepada Sang Khalik membuatnya begitu kokoh menghadapi musuh yang jauh lebih banyak.

Diantara pahlawan islam yang tampil dalam perang ini adalah dua orang sahabat cilik yang memiliki keberanian luar biasa, dikala remaja seumuran mereka masih suka bermain-main mereka maju  untuk ikut serta berperang bersama para pejuang dan masuk kedalam barisan tentara pertama Rasulullah SAW. Mereka berdua adalah Mu’adz bin ‘Amr bin Al-Jamuh & Mu’awwidz bin ‘Afra’. Keduanya masih dalam usia belia, namun keduanya tidak ingin meluputkan kehormatan berperang bersama pasukan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Marilah kita simak kisah mereka yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra.

Abdurrahman Ibnu ‘Auf Radliyallaahu ‘anhu berkata: “ketika aku berada di barisan didalam Perang Badar, saya melihat ke kanan dan kiri, ternyata saya berada diantara dua pemuda dari kalangan anshar yang masih begitu belia, saya berharap tetap berada diantara keduanya, maka salah satu dari keduanya berbisik kepadaku dan berkata: wahai paman, tahukah engkau siapa Abu Jahal? Saya menjawab: ‘ia, apa yang kamu inginkan darinya wahai ponakanku?’, dia berkata: ‘saya mendapat kabar bahwa dia selalu mencaci Rasulullah SAW, demi yang jiwaku ada di tangannya jika saya melihatnya maka bayanganku tidak akan berpisah dari bayangannya sampai salah satu dari kita mati lebih dulu,’ maka saya takjub dengan keadaan tersebut, pemuda yang kedua juga berbisik kepadaku dengan perkataan yang sama seperti itu, tak lama kemudian aku melihat Abu Jahal mondar-mandir ditengah-tengah pasukan, maka saya berkata: itulah orang yang kalian tanyakan. Mereka berdua (Mu’awwidz dan Mu’adz) saling berlomba memancungnya, hingga mereka membunuhnya. Kemudian mereka kembali kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bertanya: “Siapakah di antara kamu berdua yang membunuhnya? Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?“. Mereka menjawab: ‘Belum.’ Maka beliau melihat kepada kedua pedang mereka kemudian berkata, “kalian berdua sama-sama telah membunuhnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Peristiwa perang badar termaktub dalam Al-Qur’an dan akan senantiasa dibaca oleh umat manusia sampai hari kiamat. Allah SWT berfirman:

ولقد نصركم الله ببدر وأنتم أذلة فاتقوا الله لعلكم تشكرون. إذ تقول للمؤمنين ألن يكفيكم أن يمدكم ربكم بثلــثة ءالــف من الملئكة مسومين

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar sedangkan kamu ketika itu dalam keadaan lemah, Oleh itu bertaqwalah kepada Allah agar kamu mensyukuriNya.” (QS. Ali-Imran: 123).

Kedua pemuda diatas adalah teladan untuk kita semua, kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW dan agama islam telah membakar semangat juang mereka demi membela agama islam. Itulah keadaan para pejuang kita dahulu, bagaimanakah dengan kita sekarang? Dimanakah posisi kita disamping mereka?

Membela agama tak selalu dengan mengangkat senjata melawan orang kafir, itupun ada batas dan ketentuannya. Menasehati sesama muslim, taat terhadap batas-batas yang telah Allah tentukan, menebarkan ilmu yang bermanfaat, dan semacamnya juga termasuk membela agama Islam.

Marilah kita berkhidmat dan menyumbang peran kepada agama islam ini. Semoga bermanfaat

Penyusun: Arinal Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: