Fakta-Fakta Kerusakan Riba dan Mudharatnya Bagi Pribadi, Masyarakat dan Perekonomian.

yeah.jpg

1. Sesungguhnya riba merusak perilaku dan karakter; baik itu secara individual maupun kelompok. Yang demikian sebagaimana tidaklah kita dapati para pelaku riba, terutama sang rentenir, melainkan mereka adalah orang-orang yang bakhil, dadanya sempit, hatinya keras membatu, ibadah mereka kepada harta, jungkir balik mereka untuk perihal materi, dan lain sebagainya dari sifat-sifat jelek.

2. Kemudian riba juga merusak rasa sosial, hal itu karena suatu komunitas yang melakukan praktik riba adalah komunitas yang hancur, retak, tidak ada kata saling tolong menolong diantara mereka dengan cuma-cuma, melainkan jika ada keuntungannya. sehingga komunitas yang seperti itu, orang-orang yang kaya semakin membiarkan orang-orang selain mereka didalam kemiskinan.

3. Riba sejatinya sangat merusak perekonomian, hal itu dikarenakan riba sendiri sangat berkaitan dengan seluruh praktik sosial yang terdapat padanya hutang piutang.

4. Riba melemahkan potensi seseorang, contohnya adalah para rentenir, mereka lebih memilih menjadi memutar harta mereka untuk riba ketimbang menginvestasikannya untuk sebuah usaha.

5. Riba mengarahkan perekonomian ke arah yang salah, yaitu perekonomian yang menganggap bahwa jika seseorang semakin konsumtif maka semakin ia dipandang sebagai orang sukses, maka kita lihat terjadilah israaf/mubazir dimana-mana. Orang-orang berlomba-lomba berhutang hanya untuk keperluan tersier karena desakan gengsi dsbg.

6. Riba adalah produk musuh kita, yaitu YAHUDI. Allah Ta’ala berfirman:
” وَأَخْذِهِمُ الرِّبا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَاباً أَلِيماً “، النساء/161.
“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (QS An Nisaa: 161)

7. Riba merupakan perilaku masyarakat jahiliah, maka barangsiapa yang mengerjakan berarti telah menyamakan diri dengan mereka.

8. Perilaku riba akan dibangkitkan kelak dihari kiamat dalam keadaan seperti orang gila.
Allah Ta’ala berfirman:
” الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلاّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “، البقرة/275.
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah: 275)

9. Barangsiapa yang melakukan praktik riba, berarti ia telah memukul genderang perang melawan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:
” يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ “، البقرة/278-279.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS: Al Baqarah: 278-279)

10. Dan yang terakhir adalah kejadian-kejadian yang menimpa sebagian orang yang membandel terhadap larangan agama ini, yaitu mereka yang disita harta benda mereka oleh pihak bank atau rentenir sebab mereka tak mampu membayar hutang yang nilainya padahal jauh lebih kecil dibandingkan dengan harta yang disita.

Maka orang berakal akan mengambil pelajaran dan merenungkannya untuk kebaikan dirinya dan keluarganya, didunia ini untuk akhirat kelak.

Sumber: http://mawdoo3.com
Alih Bahasa: Muhammad Hadhrami Achmadi, Mahasiswa Fakultas Syariah LIPIA JAKARTA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: