Fiqih Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

perahu-biru.jpg

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Fiqih amar ma’ruf nahi munkar :

1). Syari’at Islam adalah satu-satunya sumber dalam penetapan perkara yang dianggap ma’ruf dan yang dianggap mungkar, apa yang dianggap baik dan diperintahkan (untuk dilakukan) oleh syariat maka itu adalah ma’ruf dan apa yang dianggap buruk dan dilarang mengerjakannya itu adalah mungkar.

Allah ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf : 158)

2). Berilmu tentang perkara yang ma’ruf untuk didakwahkan, dan berilmu tentang perkara yang mungkar untuk dicegah. Ketidaktahuan mengenai kedua perkara tersebut menghancurkan bukan membangun, merusak bukan memperbaiki.

Allah ta’ala berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.”   (QS. Yusuf : 108)

3). Berilmu tentang kondisi objek dakwah

Dari Ibnu Abbas,

لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (Muttafaq ‘Alaih, Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19)

4). Berhias diri dengan “Hikmah” tatkala memerintah dan melarang

Allah ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An-Nahl : 125)

Dan dari Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutusku dan Mu’adz pergi ke Yaman, beliau berpesan, “Ajaklah manusia (ke jalan Allah), berilah kabar gembira dan janganlah kamu membuat mereka lari, permudahlah dan jangan kamu mempersulit.” (Muttafaq ‘Alaihi)

5). Menolak kerusakan lebih diprioritaskan daripada memperoleh kemaslahatan, demikian juga tidak mengingkari kemungkaran lebih diprioritaskan daripada bila mengingkari suatu kemungkaran justru berdampak munculnya kemungkaran yang lebih besar.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am : 108)

6). Memulai dengan sesuatu yang paling penting kemudian yang penting, memprioritaskan kulliyyat (masalah-masalah pokok) daripada juziyyaat (masalah-masalah cabang).

Prioritas syar’i ini dimulai dengan masalah pokok-pokok aqidah, lalu aktivitas yang bersifat Fardhu, meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan, kemudian melaksanakan perkara-perkara sunnah dan meninggalkan perkara-perkara makruh. Prioritas ini seperti dalam hal pemenuhan kebutuhan; primer, kemudian sekunder, kemudian tersier.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl : 36)


Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Seandainya bukan karena kaummu (Quraisy) baru saja terlepas dari jahiliyyah, – atau beliau bersabda : kekafiran- tentu akan aku infaqkan perbendaharaan Ka’bah di jalan Allah, akan kujadikan pintunya sejajar dengan tanah, dan akan kuperluas bangunannya sampai ke Hijr Isma’il.” (Muttafaq ‘alaih)

7). Haramnya mencari-cari aib orang lain, penggerebegkan tempat mereka berdasarkan dugaan belaka selagi mereka tidak melakukan (kemungkaran) secara terang-terangan.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا إِخْوَانًا،

“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena prasangka itu sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian saling memata-matai, saling mencari-cari kesalahan, dan saling membenci. Jadilah kalian orang-orang yang bersaudara.” (HR. Al-Bukhari)


Dan dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu,ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ

“Sungguh jika kalian berusaha mencari-cari kesalahan manusia, maka sesungguhnya kalian telah merusak/membinasakan mereka atau hampir-hampir saja kalian merusak/membinasakan mereka” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al-Albaani)

8). Memahami tahapan-tahapan mengubah (kemungkaran); yaitu, tahap yang paling tinggi, mengubah kemungkaran dengan menggunakan tangan, tahap pertengahannya, yaitu mengubah kemungkaran dengan menggunakan lisan, dan tahap paling rendah yaitu mengubah kemungkaran dengan menggunakan hati.

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Bila tidak mampu (mengubahnya dengan tangannya), maka hendaklah ia mengubahnya dengan menggunakan lisannya. Bila tidak mampu (mengubahnya dengan lisannya) maka hendaklah mengubahnya dengan menggunakan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (Muttafaq ‘alaihi)

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidaklah ada seorang nabi pun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki para pendamping dan sahabat setia, yang senantiasa mengikuti ajarannya dan berpedoman dengan perintahnya. Sepeninggal mereka, datanglah suatu generasi yang biasa mengatakan sesuatu yang tidak mereka perbuat, serta melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Maka, siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, ia adalah seorang Mukmin. Siapa yang memerangi mereka dengan lisannya, ia seorang Mukmin. Siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, ia seorang Mukmin. Dan tak ada dibelang itu keimanan seberat biji sawi sekalipun.” (HR. Muslim)

9). Mengubah kemungkaran dengan menggunakan tangan boleh dilakukan oleh perorangan dengan syarat adanya kedaruratan, dan mencukupkan dengan kadar yang dibutuhkan dalam hal penolakan. Bila orang yang diingkari melakukan penolakan, maka tidak boleh melanjutkan pengubahan kemungkaran tersebut dengan menggunakan tangan.

Allah ta’ala berfirman,

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

“Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (QS. Al-Anbiya : 58)

Dan Allah ta’ala berfirman,

وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا

“Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).” (QS. Thoha : 97)

10). Melakukan dengan penuh kelembutan tatkala melakukan perubahan kemungkaran dengan menggunakan Lisan.

Allah ta’ala berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha : 44)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran : 159)

Dari ‘Aisayah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata,

دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُمْ فَقَالَتْ وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ قَالَتْ فَقَالَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

“Sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Assaamu ‘alaikum.’ Lalu Aisyah memjawab, ‘Wa’alaikum assaam’.Lalu Rasulullah berkata, ‘Sabar wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah mencintai rifq dalam seluruh perkara’. Lalu (Aisyah) berkata, ‘Wahai Rasulullah,  apakah engkau tidak mendengar yang mereka ucapkan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dan saya sudah ucapkan, wa ‘alaikum’.” (HR. Al-Bukhari)

11). Terkadang ungkapan yang keras, dan perkataan yang Kasar digunakan dalam mengubah kemungkaran Allah ta’ala berfirman tentang Nabiyullah Ibrahim,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ (66) أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (67)

“Ibrahim berkata: ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?’ Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?’” (QS. Al-Anbiya : 66-67)

 

Penulis : Syaikh Muammar

Penerjemah : Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: