Hadiah Nabawiyah Ampunan 90 Kejahatan

hadiah-nabawiyah.jpg

Saudariku Muslimah

Sahabat yang mulia Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- meriwayatkan kepada kita bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

Sesungguhnya Allah memilih empat macam ucapan : Subhanallah, alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, dan Allahu Akbar, (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar), barangsiapa mengucapkan : ‘Subhanallah’ ditulis baginya dua puluh kebaikan dan dihapus darinya dua puluh keburukan. Barangsiapa mengucapkan : ‘Allahu akbar’, maka (pahalanya) seperti itu juga. Barangsiapa mengucapkan : Laa Ilaaha Illallah’, maka (pahalanya) seperti itu juga. Dan barangsiapa mengucapkan : ‘ alhamdulillahi rabbil ‘alamin’ dari dirinya, maka ditulis untuknya tiga puluh kebaikan dan dihapuskan darinya tiga puluh keburukan.

(Hadis shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 2/310, 302, 3/35, 37, Ibnu Abi Syaibah 10/428 dalam Mushannafnya, an-Nasai 846 dalam Amalul Yaum Wal Lailah, al-Hakim 1/512 dan dia menyatakan shahih dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, ath-Thabrani 1681 dalam ad-Du’aa, dan dari jalan yang lain dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri.

Saudariku…

Adakah renungan cermat terhadap hadiah nabawiyah tersebut ?

اصْطَفَى “Memilih, menyukai dan menginginkan”, semunya mempunyai arti yang sama yaitu mencintai sesuatu sesudah keinginan.

مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ “Dari dalam dirinya”, ahli ilmu berkata : Mungkin maksudnya adalah insya (Insya’ adalah perkataan yang tidak mungkin dikatakan benar atau bohong, seperti : perintah atau larangan) dan mungkin juga khabar (khabar adalah perkataan yang mungkin dikatakan benar atau bohong karena dzatnya , atau itu diucapkan berdasarkan terjadinya nikmat atau tertolaknya adzab (musibah)

Karena pujian biasanya tidak dilafalkan kecuali dengan sebab dan alasan misalnya makan, minum atau terjadinya nikmat bagi seseorang seolah-olah pujian itu diucapkan sebagai balasan nikmat yang diberikan kepadanya, dan ketika ia memuji bukan karena balasan terhadap sesuatu maka Allah subhanahu wata’ala akan menambah pahalanya.

Dari hadiah nabawiyah di atas, sebagian ulama menyimpulkan bahwa tahmid (alhamdulillah) lebih afdhal daripada tasbih, karena tahmid mengandung penetapan semua sifat sempurna, adapun tasbih maka ia adalah pensucian dari sifat-sifat tercela dan penetapan lebih sempurna daripada penafian (peniadaan)

Akan tetapi yang paling afdhal secara muthlak adalah “Laa Ilaaha Illallah”, di mana tak sesuatu apapun yang menandinginya.

Saudariku, marilah bertasbih !

Saudariku, marilah bertakbir !

Saudariku, marilah bertahmid !

Saudariku, marilah berdzikir dengan dzikir yang paling utama : “ Laa Ilaaha illallah.

Semoga Allah memberikan taufiq. Amin

 

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Tuhfatu an-Nisa, Abu Maryam Majdi Fathi as-Sayyid, (Edisi bahasa Indonesia), hal. 177-179
Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: