Hati itu Rentan Terfitnah

hati-hitam.jpg

Segala puji bagi Allah Dzat yang membolak balikkan keadaan hati, hanya kepadaNya kita memohon agar diteguhkan hati kita di atas agamaNya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabiNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seorang nabi yang telah memberikan keteladanan kepada pengikutnya berupa memperbanyak berdoa kepadaNya memohon keteguhan hati di atas agamaNya.

Pembaca yang budiman…

Pada edisi sebelumnya, telah kita ketahui beberapa alasan kenapa mesti kita melakukan upaya perbaikan hati, yaitu,

Pertama, karena hati adalah jatuhnya pandangan ilahi.

Kedua, karena hati adalah raja yang dipatuhi, pemimpin yang ditaati.

Ketiga, karena hati seringkali berbolak-balik.

Pada edisi kali ini, kita akan sebutkan alasan yang lainnya, yaitu :

Keempat, Hati rentan terfitnah

Hudzaifah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

“Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua : yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali ia mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.” (HR. Muslim, no. 386)

Oleh karena itu, pehatikanlah hatimu. Janganlah hatimu bak spon yang demikian mudah menyerap berbagai fitnah yang datang kepadanya. Hendaklah kita bentengi hati kita dengan benteng yang kokoh sehingga tidak mudah fitnah menembus benteng pertahanan sehingga hati tak tercemari oleh fitnah-fitnah tersebut dan ia tetap berwarna putih bersih.

Dalam hadis Ifki (kisah tentang berita burung atau desas desus bahwa ‘Aisyah melakukan tindak kekejian), ‘Aisyah berkata kepada kedua orang tuanya, “Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah benar (tidak melakukan perbuatan keji sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian orang), apa yang aku ucapkan ini sangat boleh jadi tidak memberikan manfaat kepada kalian, karena kalian telah memperbincangkannya dan hati kalian telah menyerapnya. yakni, mereka telah menelannya sebagaimana menelan air dan mereka menerima dan membenarkan kabar burung tersebut”.

Seorang penyair berkata,

إذا ما القلب أشرب حبَّ شيءٍ *** فلا تأمل له عنه انصرافا

Bila hati telah suka menelan biji sesuatu *** maka jangan harap ia akan berpaling dari kebiasaannya.

Maka, ia senantiasa menelan setiap fitnah yang muncul kepadanya hingga ia menghitam dan meradang. Inilah makna sabda beliau, كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا, yakni, terbalik dan telungkup. Maka, bila ia telah menghitam dan meradang niscaya ia akan dengan mudah terjangkiti dua penyakit berikut ini yang sangat membahayakan dirinya yang sangat boleh jadi akan mengantarkannya kepada kebinasaan. Penyakit tersebut yaitu,

Pertama, adanya kerancuan (ketidakjelasan) padanya perkara yang ma’ruf dan yang munkar, maka ia pun tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak pula mengingkari kemungkaran. Dan sangat boleh jadi ia menghukumi perkara yang muncul kepadanya dengan penghukuman yang keliru, hingga ia berkeyakinan sesuatu yang ma’ruf adalah sesuatu yang mungkar dan sesuatu yang mungkar sebagai sesuatu yang ma’ruf. Sesuatu yang sunnah sebagai sesuatu yang bid’ah, sesuatu yang bid’ah sebagai sesuatu yang sunnah, sesuatu yang hak (benar) sebagai sesuatu yang batil (tidak benar) dan sesuatu yang batil sebagai sesuatu yang benar.

Kedua, menghukumi sesuatu yang datang dari rasulNya shallalahu ‘alaihi wasallam menurut hawa nafsunya, menyesuaikannya dengan hawa nafsunya dan mengikuti dorongannya.

Adapun hati yang putih tersinari oleh cahaya iman, diterangi oleh lampu-lampunya, maka bila ada fitnah yang menghampirinya ia akan tampak jelas dan mengingkarinya serta menolaknya. Maka, akan semakin bertambah cahaya dan terangnya serta kekuatannya untuk melakukan penolakan terhadap fitnah-fitnah yang menghampirinya.

Fitnah-fitnah yang menghampiri hati adalah sebab hati menjadi sakit, fitnah-fitnah tersebut adalah fitnah syahwat dan syubhat. Adapun fitnah syubhat terkadang berupa keyakinan yang menyelisihi kebenaran yang datang dari Allah ta’ala yang disampaikan oleh RasulNya, seperti misalnya orang-orang yang menafikan sifat ketinggian Allah di atas Arsy-Nya, dan turunNya Dia ke langit dunia dan lain sebagainya. Bisa juga berupa melakukan peribadatan dengan cara yang tidak perah diizinkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Adapun fitnah syubhat, maka seperti yang tergambar di dalam firmanNya,

فلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Qs. al-Ahzab : 32)

Oleh karena itu, maka, hendaklah kita senantiasa mawas diri, dan memperhatikan hati kita karean ia sangat rentan terfitnah.

Akhirnya, kita memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari terhinggapi oleh fitnah-fitnah baik fitnah syahwat maupun fitnah syubuhat. Aamiin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.


Penyusun : Amar Abdullah Abu Umair

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: