Hidayah Menyapa Para Penyihir Fir’aun

sihir2.jpg

Tidak diragukan bahwasanya tukang sihir atau yang belajar ilmu sihir berada di tepi jurang kebinasaan. Hal demikian itu karena mereka hakikatnya melakukan amal yang menyebabkan pelakunya kafir sebagaimana dinaskah di dalam al-Qur’an. Dan, Rasulullah shallallahu ‘alai wasallam telah menegaskan agar seseorang menjauhkan diri dari sihir dan mengatakan bahwa sihir tersebut termasuk dosa yang akan membinasakan pelakunya.

Siapa saja yang kemudian mengikuti jejak mereka, mempelajari sihir dan mempraktekkannya, menimbulkan bahaya kepada manusia dengan apa yang mereka pelajari dan praktekkan tersebut, maka ia tengah menempuh jalan kesesatan yang akan mengantarkannya kepada kesengsaraan di akhirat kelak. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.

Seorang yang menempuh sebuah jalan kesesatan, merasa asik dalam perjalanannya, karena terpenuhinya keinginan hawa nafsunya, biasanya akan sulit baginya untuk kembali ke jalan Allah yang lurus. Begitu pula hal dengan para tukang sihir yang telah asik dengan profesi sesatnya, hawa nasfusnya dikenyangkan dengan perkara haram, seperti memakan harta orang laian dengan cara yang batil yang didapatkannay dari hasil layanan jasa sihir atas permintaan orang lain kepadanya, tindak kezhaliman terhadap orang lainnya dengan menimbulkan bahaya terhadap orang yang disihirnya, bahkan boleh jadi perzinaan dilakukannya dengan menggauli wanita yang datang kpeadanya untuk meminta bantuan kpadanya. Dan perkara haram yang lainnya.

Meskipun nampaknya sulit bagi mereka –para tukang sihir dan yang mengikuti ajakan mereka- untuk kembali kejalan Allah azza wajalla, namun hidayah itu adalah milik Allah ta’ala. Allah memberikan hidayah tersebut kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Maka, para tukang sihir pun bisa saja Allah karuniakan hidayah itu kepadanya. Inilah yang ternyata terjadi pada mereka, para tukang sihir yang disewa oleh Fir’aun untuk melawan Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah mengisahkan sampainya hidayahNya kepada para tukang sihir sewaan Fir’aun tersebut di dalam kitabNya, ketika mereka melihat mu’jizatNya yang ditampilan di hadapan mereka melalui nabinya, Musa ‘alaihissalam. Mari kita simak firman Allah azza wajalla berikut ini,

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى بِآيَاتِنَا إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ. وَقَالَ مُوسَى يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ. حَقِيقٌ عَلَى أَنْ لَا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ. قَالَ إِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِآيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ. فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ.  وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ. قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ. يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ. قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَأَرْسِلْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ. يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ. وَجَاءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوا إِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ. قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ. قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ. قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ. وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ. فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ. وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ. قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ. رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ.

Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam. wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.

Fir’aun menjawab: “Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar. Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya

Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.” (Fir’aun berkata): “Maka apakah yang kamu anjurkan?”. Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.”  Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun mengatakan: “(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?”. Fir’aun menjawab: “Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).”

Ahli-ahli sihir berkata: “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?”. Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan).

Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!.” Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud, Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam”(yaitu) Tuhan Musa dan Harun.” (Qs. Al-A’raf : 103 -122)

Demikianlah apa yang Allah kabarkan,  Akhirnya hidayah menyapa para tukang sihir sewaan Fir’aun.

Pelajaran :

Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas, di antaranya:

  1. Para utusan Allah diberikan ayat-ayat atau mu’jizat untuk membuktikan kebenaran bahwasanya mereka benar-benar merupakan utusan Allah, pembawa risalah kebenaran dari rabbnya.
  2. Orang-orang yang disampaikan kepada ayat-ayat Allah ada yang mengingkari ada pula yang menerima
  3. Orang-orang yang mengingakri ayat Allah hakikatnya adalah orang-orang yang membuat kerusakan, karena ayat Allah datang memberikan kemaslahatan dan perbaikan.
  4. Membuat kerusakan di muka bumi akan berakibat buruk
  5. Para utusan Allah dan orang-orang mengikuti jalan mereka menyampaikan risalah Allah akan seringkali mendapatkan penentarangan dan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang enggan menerima ajakan mereka ke jalan yang lurus.
  6. Sihir dan pengaruhnya akan terkalahkan dengan ayat ayat Allah atau mu’jizatNya.
  7. Sihir merupakan suatu kebatilan sedangkan ayat-ayat Allah dan mu’jizatnya merupakan kebenaran
  8. Pelaku sihir dan kebatilan yang lainnya akan terhinakan.
  9. Ayat-ayat Allah merupakan sarana sampainya kebenaran ke dalam lubuk hati orang-orang yang melakukan kebatilan.

Pelaku kebatilan bisa saja kembali ke jalan Allah yang lurus yaitu dengan beriman kepada Allah dengan sebenarnya dan membenarkan ayat-ayatNya.

Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: