Hijabmu Tanda Rasa Malumu

putri-malu.jpg

Saudariku…muslimah

Tahukah engkau bahwa hijab yang engkau kenakan yang menutupi seluruh tubuhmu merupakan bagian dari tanda rasa malumu. Dengan itu, engkau merasa malu dari terlihat auratmu oleh orang-orang yang tidak halal melihat auratmu. Semakin sempurna engkau menutupi auratmu di hadapan orang-orang yang tidak berhak melihat kepada auratmu, maka semakin tinggi pula rasa malumu.

Sebaliknya, semakin engkau membuka bagian dari auratmu di hadapan orang-orang tidak berhak melihat auratmu maka ini merupakan pertanda bahwa engkau memiliki sedikit rasa malu.

Padahal, rasa malu itu merupakan hal yang utama.  Di antara perkara yang menunjukkan keutamaannya adalah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

 

Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

Malu itu kebaikan seluruhnya. [HR. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانُ.

Dan malu adalah salah satu cabang Iman. (HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad, no. 598)

Kebaikan apa kiranya yang akan engkau peroleh dari rasa malumu ini, yakni, engkau malu terlihat auratmu oleh orang-orang yang tidak berhak melihatnya, dengan menutupnya menggunakan hijabmu ?

Pertama, tentu pahala dari Allah ta’ala

Hal ini karena dengan engkau menutup auratmu engkau berarti melaksanakan perintah Allah azza wajalla dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, Bukankah Allah azza wajalla telah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا  [الأحزاب : 59]

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang yang beriman : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab : 59)

Maka, dengan menunaikan perintahNya dan perintah RasulNya niscaya keberuntungan berupa pahala dan kebaikan lainnya dariNya akan engkau dapatkan. Bukankah Allah azza wajalla telah berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [الأحزاب : 71]

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar (Qs. Al-Ahzab : 71)

Kedua, engkau berhak mendapatkan kecintaan Allah, karena rasa malumu merupakan perkara yang dicintai Allah azza wajalla,

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.” (HR. Abu Dawud)

Ketiga, rasa malumu akan menghalangimu dari melakukan kemaksiatan kepada Allah azza wajalla.

Ada salah seorang Shahabat yang pernah mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya, “Sungguh, malu telah merugikanmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ.

Biarkan dia, karena malu termasuk iman (HR.al-Bukhari)

Abu ‘Ubaid al-Harawi rahimahullâh berkata, “Maknanya, bahwa orang itu berhenti dari perbuatan maksiatnya karena rasa malunya, sehingga rasa malu itu seperti iman yang mencegah antara dia dengan perbuatan maksiat.”[Fathul Bâri (X/522).]

Keempat, dengan rasa malumu, berarti engkau menjaga keimananmu.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ وَ اْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.

Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.” [HR.al-Hâkim]

Kelima, engkau akan terantarkan ke dalam Surga yang penuh dengan kenikmatan

Hal ini seperti terisyaratkan dalam sabda Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-,

اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ اْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.

Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka (HR.Ahmad)

Itulah saudariku muslimah beberapa kebaikan yang akan engkau dapatkan dengan engkau menjaga hijabmu, tidak menampakkan auratmu kepada orang yang tidak berhak melihatnya sebagai tanda rasa malumu.

Semoga Allah memberikan taufiq kepadamu. Amin

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: