Hisbah Di Zaman Khulafaur Rasyidin (Bagian 2)

Hisbah-Di-Zaman-Khulafaur-Rasyidin.jpg

Khulafaur rasyidin yang empat adalah para pemimpin yang sangat peduli terhadap amar makruf nahi mungkar. Mereka tidak membiarkan satu kemungkaran muncul kecuali akan mereka tindak sesuai syariat islam. Tak heran jika mereka patut menjadi teladan bagi para pemimpin zaman sekarang karena mereka mendapat didikan langsung dari Rasulullah SAW. Marilah kita melihat sekilas gambaran amar ma’ruf nahi mungkar di saman mereka.

Pada artikel ‘Contoh Hisbah Di Zaman Khulafaur Rasyidin (Bagian 1)’ sudah kami bahas tentang sahabat Umar bin Khatthab ra dan Abu Bakar ra. Pada artikel ini kami akan memaparkan gambaran sekilas tentang amar makruf nahi mungkar di zaman kepemimpinan dua sahabat mulia Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra.

1. Di zaman Utsman bin Affan ra

Di zaman Khalifah Utsman bin Affan ra amar makruf nahi mungkar berjalan sebagaimana dua Khalifah sebelumnya, yaitu memperhatikan kemashlahatan kaum muslimin dibawah naungan syariat islam. Utsman menambah beberapa perkara yang sebelumnya belum pernah di lakukan oleh Abu Bakar ra dan Umar ra.

Dahulu kaum muslimin di berbagai penjuru mengambil bacaan Al-Qur’an dari sahabat yang terkenal dikalangan mereka, misalnya penduduk Syam membaca dengan bacaan Ubay bin Ka’ab, penduduk Iraq membaca dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud, dan yang lain membaca dengan bacaan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhum. Perbedaan tersebut menimbulkan perselisihan dikalangan kaum muslimin, sebagian menyalahkan yang lain, bahkan bisa sampai mengkafirkan karena perbedaan bacaan.

Perselisihan ini dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan pada kesatuan kaum muslimin. Maka setelah menerima informasi Hudzaifah ra tentang masalah ini, Utsman bin Affan ra mengambil langkah yang dapat mengatasi perselisihan. Beliau memerintah beberapa sahabat untuk menyalin mushhaf yang ada pada Sayyidah Hafshah radhiyallahu ‘anha lalu membagi-bagikan mushhaf-mushhaf yang telah disalin tersebut ke berbagai penjuru dalam rangka menyatukan kaum muslimin dalam satu mushhaf, dengan demikian perselisihan dan perpecahan kaum muslimin dapat dicegah.

Ketika jumlah kaum muslimin semakin banyak, Utsman bin Affan menambah adzan jum’at di pasar dalam rangka mengingatkan mereka yang wajib shalat jum’at untuk segera bergegas ke masjid, dan ini suatu bentuk dari ijtihad beliau agar kaum muslimin tidak telat shalat jum’at karena disibukkan oleh berdagang.

2. Di zaman Ali bin Abi Thalib ra.

Sayyidina ali bin Abi Thalib juga seperti Khalifah-khalifah sebelumnya, beliau sangat cemburu bilamana syari’at Allah SWT dilanggar.

Salah satu amar ma’ruf yang paling menonjol dari Ali ra adalah bilamana waktu sholat datang beliau selalu lewat di jalan-jalan Madinah dan memanggil: Shalat… shalat…!!! dengan memanggil seperti itu beliau membangunkan orang yang tidur dan mengingatkan orang yang sedang sibuk akan kedatangan waktu shalat. Beliau benar-benar merasa bahwa itu sebagai kewajiban beliau sebagai pemimpin kaum muslimin. Beliau tak ingin ada kaum muslimin dari rakyatnya yang ketinggalan shalat berjamaah di masjid. Bahkan di hari dimana beliau di bunuh oleh seorang dari kalangan khawarij saat itu beliau sedang memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan shalat.

Bukan hanya itu, beliau juga lewat di pasar-pasar untuk mengontrol kadaan rakyatnya, senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Beliau selalu mengingatkan kaum muslimin untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dan jujur dalam jual beli seraya mengatakan, “sempurnakanlah timbangan dan takaran kalian.”

Inilah beberapa gambaran tentang amar ma’ruf nahi mungkar di masa Khulafaur Rasyidin yang dapat kami paparkan. Walaupun kisah mereka masih sangat banyak, kehidupan mereka penuh dengan amar a’ruf nahi mungkar. Karena mereka senantiasa mencontoh Rasulullah SAW sebagai orang nomor satu yang menyeru keada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.

Kehidupan khulafaur rasyidin mengandung pelajaran dan tauladan yang sangat berharga bagi umat islam terutama bagi para pemimpin.

Semoga bermanfaat!

Sumber: http://www.almohtasb.com/

Diterjemahkan dan disusun ulang oleh: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: