Hubungan Setan dan Kekhusyu’an

Hubungan-Setan-dan-Kekhusu’an.jpg

Tidaklah ada sesuatu yang akan didapatkan oleh seorang hamba dari shalatnya melainkan yang disadari akalnya dan dihadiri oleh hatinya sementara setan menginginkan dari seorang hamba agar ia tidak melaksanakan shalat sehingga ia tergolong penghuni Neraka. Jika ternyata sang hamba melakukan shalat maka setan menghembuskan was-was pada dirinya, ia menyibukkan sang hamba dari shalatnya hingga shalatnya batal, atau mengurangi (kualitas) shalat yang dilakukannya. Di dalam hadis disebutkan:

إن العبد ليصلي الصلاة لا يكتب له إلا رُبعها، إلا خُمسها، إلا سُدسها، حتى بلغ عُشرها

Sesungguhnya seorang hamba sungguh melaksanakan shalat namun ia tidak mendapatkan pahala melainkan hanya ¼ nya, 1/5 nya, 1/6 nya, hingga mencapai 1/10 nya. (HR. Abu Dawud, an-Nasa-i dan Ibnu Hibban)

Sementara Nabi –seorang yang amat belas kasihan lagi penyayang terhadap ummatnya- telah memberikan arahan agar ummatnya menggunakan senjata yang kokoh yang akan dapat menghancurkan musuh. Maka, bila seorang muslim keluar dari rumahnya menuju masjid atau ketempat lainnya, beliau menganjrkannya untuk mengucapkan:

«باسم الله، آمنت بالله، اعتصمت بالله، توكلت على الله ولا حول ولا قوة إلا بالله» إذا قال ذلك يقال له: هديت وكفيت ووقيت ويتنحى عنه الشيطان

Dengan menyebut nama Allah, aku beriman kepada Allah, aku berpegang teguh dengan Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. jika ia mengucapkan hal tersebut, akan dikatakan kepadanya, engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupkan dan dibentingi, serta setan pun akan berpaling darinya (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai)

 

Bila masuk masjid, ia mengucapkan:

أعوذ بالله العظيم وبوجهه الكريم وبسلطانه القديم من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah Dzat yang Maha Agung, dengan wajahNya yang mulia, dengan kekuasaanNya yang dahulu dari (godaan) setan yang terkutuk. Jika ia mengucapkan hal tesrebut maka setan akan berkata : ia telah terlindungi dariku seluruh hari (Hadis hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang jayyid)

 

Dan jika ia telah mulai melaksanakan shalat ia pun menghadirkan keagungan rabbnya dan merasakan kehadirannya di hadapanNya, ia mengucapkan-setelah doa istiftah:

أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui dari godaan setan yang terkutuk.

 

Kemudian setelah itu orang yang shalat memikirkan apa yang ia ucapkan dan apa yang dia lakukan dan apa yang dia dengar dari bacaan imam-bila mana ia sebagai makmum- ketika sang imam mengeraskan bacaannya, maka ia mendengarkannya dengan seksama. Bila sang imam tidak mengeraskan bacaannya maka makmum menyibukkan diri dengan bacaannya sendiri.

Wallahu a’lam

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: