Hukum Bersuci dan Tata Cara Berwudhu yang Benar

berwudhu1.png

Pembaca yang budiman…

Alhamdulillah, segala puji Allah yang telah menetapkan syariat untuk kemaslahatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu syariat yang Allah tetapkan itu adalah “bersuci”. Allah menetapkan hukum-hukumnya dan mengatur tata caranya agar hamba-Nya melaksanakannya.

Ikhwatal iman, saudaraku seiman

Allah tabaraka wata’ala berfirman di dalam al-Qur’an,

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (Qs. al-Hajj: 26)

Perhatikan firman Allah tabaraka wata’ala,

وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

(dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud).  Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada nabiNya Ibrahim ‘alaihissalam agar beliau mensucikan rumahNya, yakni: baitullah al-haram. Bagi siapa? Allah menyebutkan, “bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.  Ini menunjukkan adanya pensyariatan dari Allah berupa pensucian. Sekaligus menunjukkan bahwa syariat bersuci telah disyariatkan kepada nabi sebelum nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam, ayat ini pensyariatan itu ditunjukkan kepada nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Apakah ini berarti bahwa selain beliau tidak disyariatkan pensucian? jawabannya adalah tidak, bahkan hal ini juga disyariatkan untuk nabi kita Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam. Di antara bukti yang menunjukkan hal ini adalah:

Pertama, Allah ta’ala berfirman di dalam Ayat lain

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (Qs. an-Nisa: 125)

Zhahir ayat menunjukkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti agama Ibrahim yang lurus, baik dalam aqidah –yakni: mentauhidkan Allah ta’ala– maupun dalam beberapa syariatnya. Salah satunya adalah bersuci. Allahu a’lam. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs. Ali-Imron: 95). Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik’.” (Qs. al-An’am: 161)

Kedua, Allah tabaraka wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!, dan Tuhanmu agungkanlah!, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (Qs. al-Mudatstsir: 1-7)

Perhatikan firman Allah ta’ala,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

 (dan pakaianmu bersihkanlah).

Ketiga, Allah tabaraka wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (6)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit[*] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[**] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. al-Maidah: 6)

[*] Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.

[**] Ada yang berpendapat artinya menyentuh. Ada juga yang berpendapat menyetubuhi. Dan inilah pendapat yang menurut kami lebih kuat. Allahu a’lam

Para ahli fiqih menyimpulkan bahwa “Bersuci Hukumnya adalah wajib dan merupakan syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang hendak melakukan suatu peribadatan yang mengharuskan dalam keadaan suci seperti Shalat”.

Ikhwatal iman, saudaraku seiman

Setelah kita mengetahui mengenai hukum bersuci bahwa hukumnya adalah wajib dan merupakan syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang hendak melakukan suatu peribadatan yang mengharuskan dalam keadaan suci seperti Shalat, maka selanjutnya bagaimana tata caranya yang benar?

 

Ikhwatal iman, saudaraku seiman

Yang saya maksudkan dengan hal ini adalah salah satu cara di dalam bersuci dari hadas kecil yaitu “berwudhu“. Mengenai tata caranya maka ayat 6 dari surat al maidah di atas menunjukkan secara global tentang masalah ini. Adapun perinciannya adalah telah kami bahas secara terperinci dalam makalah yang berjudul Bagaimanakah Cara Anda berwudhu?.

Berikut adalah ringkasannya yang kami sajikan dalam bentuk bagan,

1

Berniat di dalam hati anda

 

2

Membaca “Bismillah”

3

 Mencuci tangan 3 x hingga ke pergelangan tangan

4

Berkumur-kumur dan beristinsyaq

5

Mencuci wajah

6

Mencuci kedua tangan sampai ke siku

7

Membasahi kedua tangan lalu membasuh kepala dan kedua telinga

8

Mencuci kaki kanan 3x hingga mata kaki, dan demikian pula yang kiri

 

Allahu a’lam.  Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabat beliau.

(Abu Umair)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: