Hukum Jual Beli Kredit

kalkulator-dan-kalkir1.jpg

Pembaca yang budiman…

Salah satu system jual beli yang tidak asing lagi dalam kehidupan kita adalah “ Kredit “. Dalam bahsa arab kredit disebut تقسيط , yang berarti bagian, jatah atau membagi-bagi (Al Qomus Al Muhith, hal : 881 dan lisanul ara, hal : 3626)

Adapun pengertian jual beli kredit secara istilah, DR. Al Amin Al Haj, -dosen bidang fiqh syariat di Universitas Ummul Quro Makkah Al Mukarromah dalam Risalah beliau Hukmul Ba’I bit Taqsith hal : 11., mengatakan, (jual beli kredit) adalah menjual sesuatu dengan pembayaran tertunda, dengan cara memberikan cicilan dalam jumlah-jumlah tertentu dalam beberapa waktu secara tertentu, lebih mahal dari harga kontan.

Ada juga yang mendefinisikan sebagai,  “Pembayaran secara tertunda dan dalam bentuk cicilan dalam waktu-waktu yang ditentukan.”

Pembaca yang budiman ….

Lalu, apa Hukum Jual beli dengan system ini ?

Para ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum jual beli dengan system ini, ada yang mengatakan, “haram”  ada yang mengatakan, “ Boleh”.

Di antara dalil pendapat yang mengharamkan, yaitu  Hadis Abu Huroiroh,

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم: أنه نهى عن بيعتين في بيعة

Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh bahwasannya beliau melarang dua transaksi jual beli dalam satu transaksi jual beli.” (HR. Turmudli 1331, Nasa’I 7/29, Amad 2/432, Ibnu Hibban 4973 dengan sanad hasan)

Dalam riwayat lainnya dengan lafadl : “Barang siapa yang melakukan dua transaksi jual beli dalam satu transaksi jual beli, maka dia harus mengambil harga yang paling rendah, kalau tidak akan terjerumus pada riba.” (HR. Abu Dawud 3461, Hakim 2/45 dengan sanad hasan)

Mereka mengatakan, Tafsir dari larangan Rosululloh “Dua transaksi jual beli dalam satu transaksi” adalah ucapan seorang penjual atau pembeli : “Barang ini kalau tunai harganya segini sedangkan kalau kredit maka harganya segitu.”

Adapun pendapat yang kedua mengatakan bahwa jual beli kredit diperbolehkan, diantara yang berpendapat demikian dikalangan para ulama’ adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qoyyim, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Syaikh Al Jibrin dan lainnya. Namun kebolehan jual beli ini menurut para ulama’ yang memperbolehkannya harus memenuhi beberapa syarat.

Sedangkan di antara dalil pendapat kedua ini yaitu :

1. Firman Alloh Ta’ala, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya…”  (QS. Al Baqoroh : 272).

Ibnu Abbas menjelaskan : “Ayat ini diturunkan berkaitan dengan jual beli As Salam (yaitu : uang dibayar dimuka kontan sedangkan barang diberikan secara tertunda, kebalikan dari system kredit) saja.”

2. Firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” ( (QS. An Nisa’ : 29)

Kemumuman ayat ini mencakup jual beli kontan dan kredit, maka selagi jual beli kredit dilakukan dengan suka sama suka maka masuk dalam apa yang diperbolehkan dalam ayat ini.

3. Hadits Aisyah,

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه و سلم اشترى من يهودي طعاما إلى أجل ,و رهنه درعا من حديد

Dari Aisyah, ia berkata : “Sesungguhnya Rosululloh membeli makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran tertunda. Beliau memberikan baju besi beliau kepada orang tersebut sebagai gadai. (HR. Bukhori 2068, Muslim 1603)

4. Hadits Abdullah bin Abbas,

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال : قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة والناس يسلفون في الثمر العام والعامين فقال : من سلف في تمر فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى أجل معلوم

Dari Abdulloh bin Abbas berkata : “Rosululloh dartang ke kota Madinah, dan saat itu penduduk Madinah melakukan jual beli buah-buahan dengan cara salam dalam jangka satu atau dua tahun, maka beliau bersabda : “Barang siapa yang jual beli salam maka hendaklah dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas sampai waktu yang jelas.”  (HR. Bukhori 2241, Muslim 1604)

Sisi pendalilan dalilan hadits ini, bahwa Rosululloh membolehkan jual beli salam asalkan takaran dan timbangan serta waktu pembayarannya jelas, padahal biasanya dalam jual beli salam uang untuk membeli itu lebih sedikit daripada kalau beli langsung ada barangnya. Maka begitu pula dengan jual beli kredit yang merupakan kebalikannya yaitu barang dahulu dan uang belakangan meskipun lebih banyak dari harga kontan.

5. Hadits Bariroh,

Dari Aisyah berkata : “Sesungguhnya Bariroh datang kepadanya minta tolong untuk pelunasan tebusannya, sedangkan dia belum membayarnya sama sekali, Maka Aisyah berkata padanya : “Pulanglah ke keluargamu, kalau mereka ingin agar saya bayar tebusanmu namun wala’mu menjadi milikku maka akan saya lakukan.” Maka Bariroh menyebutkan hal ini pada mereka, namun mereka enggan melakukannya, malah mereka berkata : “Kalau Aisyah berkehendak untuk membebaskanmu dengan hanya mengharapkan pahala saja, maka bisa saja dia lakukan, namun wala’mu tetap pada kami.” Maka Aisyah pun menyebutkan hal ini pada Rosululloh dan beliu pun bersabda : “Belilah dia dan merdekakanlah karena wala’ itu kepunyaan yang memerdekakan.” Dalam sebuah riwayat yang lain : “Bariroh berkata : “Saya menebus diriku dengan membayar 9 uqiyah, setiap tahun saya membayar satu uqiyah.” (HR. Bukhori 2169, Muslim 1504)

Sesi  pendalilan hadis ini: Dalam hadist ini jelas bahwa Bariroh membayarnya dengan mengkredit karena dia membayar sembilan uqiyah yang dibayar selama sembilan tahun, satu tahunnya sebanyak satu uqiyah.

  1. Adanya  Ijma’, klaim ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Bin Baz sebagaimana dinukil oleh Syaikh  Abduloh Al Jarullah  dalam Ahkamul Fiqh, hal : 57-58). Begitu juga Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin dalam Al Mudayanah, hal : 4.
  2. Dalil qiyas, jual beli kredit ini dikiaskan dengan jual beli salam yang dengan tegas diperbolehkan Rosulullah, karena ada persamaan, yaitu sama-sama tertunda. hanya saja jual beli salam barangnya yang tertunda, sedangkan kredit uangnya yang tertunda. Juga dalam jual beli salam tidak sama dengan harga kontan seperti kredit juga hanya bedanya salam lebih murah sedangkan kredit lebih mahal.
  3. Dalil Maslahat, Jual beli system ini mengandung maslahat baik bagi penjual maupun bagi pembeli. Karena pembeli bisa mengambil keuntungan dengan ringannya pembayaran karena bisa diangsur dalam jangka waktu tertentu dan penjual bisa mengambil keuntungan dengan naiknya harga, dan ini tidak bertentangan dengan tujuan syariat yang memang didasarkan pada kemaslahatan ummat.

Yang nampak- Wallohu a’lam- pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua ini.

Artikel : www.hisbah.net

Gabung Juga Menjadi Fans Kami Di Facebook Hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: