Hukum Menggugurkan Janin Hasil Zina

Hukum-Menggugurkan-Janin-Hasil-Zina.jpg

Pertanyaan:

Bila seorang wanita berzina dan ia hamil, apakah ia boleh menggugurkannya? Bilamana ia tidak menggugurkannya hingga tiba waktu melahirkannya, maka apa yang hendaknya diperbuat terhadap bayi tersebut? Perlu diketahui bahwa wanita tersebut telah menikah. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Anda.

Jawab:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang yang mencintainya, amma ba’du,

Tidak diragukan bahwa zina merupakan tindakan keji dan merupakan kejahatan yang sangat buruk, zina adalah jalan setan yang akan mengantarkan pelakunya kepada kemurkaan Allah azza wajalla. Allah ta’ala berfirman,

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu merupakan perbutan keji dan merupakan jalan terburuk (HR. Al-Isra: 32)

Hal demikian berlaku baik pelakunya adalah seorang yang telah menikah maupun yang belum menikah. Hanya saja, bila pelakunya telah menikah maka tindakan tesebut merupakan tindakan yang lebih jahat dan lebih buruk lagi. Karena, pezina bila ia seorang wanita yang telah menikah maka ia telah menzhalimi dirinya dengan tindakannya melakukan perbuatan keji tersebut dan pada saat yang sama ia telah mengotori pelaminan pasutrinya, ia pun telah berbuat zhalim karena mengkhianati suaminya yang telah mengamanatkan kepadanya atas kehormatan dirinya dan jiwanya, ia pun telah menentang rabbnya. Kita mohon maaf dan afiat kepada Allah.

Oleh karena itu, sangsi hukum terhadap pelaku zina yang telah menikah adalah dirajam hingga meninggal dunia.

Adapun masalah menggugurkan janin hasil zina, maka jika perzinaan dilakukan karena adanya paksaan, sementara janin yang dikandungnya tersebut belum ditiupkan ruh di dalamnya- yakni, belum sampai usia 4 bulan dan keberadaan janin tersebut (di dalam kandungan) mambahayakan terhadap kesehatan wanita yang mengandungnya tersebut dengan asumsi yang dapat dipertanggung jawabkan bahwa si wanita tak akan mampu untuk tetap mengandungnya atau akan berdampak buruk terhadapnya secara sosial, atau tidak didapati di dalam masyarakat yang dapat mengurusi kondisi-kondisi demikian, maka dalam kondisi demikian memungkinkan bagi si wanita untuk menggugurkan kandungan selagi janin yang dikandungnya tersebut belum sampai ditiupkan ruh padanya.

Adapun jika janin yang dikandung tersebut usianya telah mencapai 4 bulan, maka tidak boleh secara mutlak untuk digugurkan menurut pendapat mayoritas ahli ilmu. Dan aborsi yang dilakukan dalam kondisi tersebut merupakan bentuk pembunuhan terhadap jiwa.

Banyak kalangan ahli ilmu yang berpendapat tidak bolehnya memberikan keringan kepada seorang wanita hamil karena perbuatan zina untuk melakukan aborsi dalam kondisi bila perzinaan tersebut dilakukannya dengan keridhaannya, hal demikian itu karena akan membuka pintu keburukan, menyebarkan kekejian dan kerusakan serta penyimpangan. Mereka berdalil dengan bahwa termasuk kaedah Islam adalah haramnya melakukan kekejian dan jalan-jalan yang akan mengantarkan kepada tindakan keji. Ditambah lagi dengan alasan bahwa tidak layak janin yang tidak berdosa tersebut, yang bebas dari dosa tersebut dikorbankan disebabkan perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang lain, sementara Allah ta’ala telah berfirman,

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain (Qs. Al-An’am: 164)

Dan, karena pembolehan melakukan aborsi atau memberikan keringan untuk melakukan aborsi merupakan bentuk membantu si wanita atas kemaksiatan yang dilakukannya, dan memberikan kemudahan jalan kepadanya untuk membebaskan diri dari tindakan buruknya tersebut.

al-imam al-Qarafi mengatakan, adapun maksiat maka bukanlah sebab seorang mendapatkan rukhshah (keringanan). Oleh karena itu, orang yang bermaksiat dengan safarnya ia tidak mendapatkan keringanan untuk mengqashar shalatnya dan tidak boleh pula untuk berbuka (dari puasanya) karena sebab safar yang dilakukannya tersebut adalah maksiat, sehingga tidak layak untuk mendapatkan rukhshah  karena pemberian rukhshah atas kemaksiatan merupakan upaya untuk memperbanyak kemasiatan tersebut dengan memberikan keleluasaan kepada seorang mukallaf dengan sebab kemaksiatan tersebut. (lihat, al-Furuq, 2/33).

Adapaun mengenai anak (yang dilahirkan) maka ia dinasabkan kepada suaminya selagi sang suami tidak menafikannya, di dalam shahihain Rasulullah ﷺ bersabda,

الولد للفِراش ولِلعاهِر الحَجَرُ

Yakni, si anak itu milik suami dan bagi si pezina dirajam.

Ibnu Abdil Barr menyebutkan bahwa anak hasil zina –di dalam islam- tidak dikaitkan dengan pelaku zina secara ijma’, (lihat, at-Tamhiid, 8/19)

Sumber : Fatwa Mauqi’ al-Aluukati 1, الولد للفِراش ولِلعاهِر الحَجَرُ ,No: 2630, Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i / al-Maktabah asy-Syamilah. Penerjemah : Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: