Hukum Menoleh dalam Shalat

Hukum-Menoleh-dalam-Shalat.jpg

Di dalam sebuah hadis yang berasal dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لاَ يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلاً عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ فِى صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْهُ

Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung masih saja menghadap kepada seorang hamba, selagi seorang hamba itu belum menoleh. Maka jika seorang hamba itu menoleh, maka Diapun berlalu (HR. Abu Dawud, No. 909)

Sedangkan menoleh di dalam shalat terbagi menjadi dua bagian, yaitu :

Pertama, adalah menolehnya hati nurani kepada sesuatu selain Allah Dzat yang Maha Tinggi dan Agung.

Kedua, adalah menolehnya pandangan. Dan kedua bagian itu adalah terlarang dan akan dapat mengurangi pahala shalat.

Pada suatu hari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– pernah ditanya oleh seseorang tentang masalah menoleh di dalam shalat. Mendengar pernyataan itu Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ

(Menoleh di dalam shalat itu merupakan) sebuah pencurian yang dilakukan oleh setan dari shalat seorang hamba (HR. Bukhari, Bab al-Iltifaat Fish-Shalah)

Perumpamaan orang yang menoleh dalam shalatnya, baik dia menoleh dengan pandangan matanya, maupun menoleh dengan pandangan hatinya, adalah seperti orang yang dipangggil oleh seorang penguasa dan menghadirkannya di hadapannya. Kemudian orang itu menghadap penguasa, seraya memanggil dan berbicara dengannya. Namun pada saat dia sedang asyik berbicara dengan penguasa itu,

ternyata ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Dan hatinyapun tidak lagi mempedulikan penguasa tersebut. Sehingga orang itu tidak mamahami titah yang diberikan oleh sang penguasa itu atau bahkan orang itu tidak memahami perkataannya sendiri. Jika hal itu terjadi, maka apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh penguasa ini terhadap orang tersebut ?

Bukankah paling rendahnya martabat di hadapan Allah adalah orang yang berlalu dari hadapannya dengan penuh kebencian dan keinginan untuk menjauhiNya. Dan orang itu sudah tidak lagi dipandang oleh Allah. Maka orang yang melakukan shalat dengan pandangan mata dan hati yang hadir di hadapan Allah sangatlah jauh perbedaannya dibandingkan dengan orang yang melakukannya dengan hati yang hadir menghadap Allah ,

di mana dia telah merasakan di dalam hatinya sebuah keagungan Dzat Yang berada di hadapannya. Maka hatinya akan dipenuhi dengan perasaan takut, gemetar, hina dina, dan merasa malu terdap tuhannya jika dia akan menoleh terhadap sesuatu selain Dia, atau menghadap sesuatu selain Dia. Maka nilai shalat yang dilakukan oleh kedua orang tersebut sangatlah berbeda,

sebagaimana yang telah dikatakan oleh Hasan bin Athiyyah ,”Sesungguhnya ada dua orang laki-laki yang berada di dalam satu shalat, namun keutamaan shalat di antara keduanya itu adalah seperti keutamaan langit dan bumi. Hal itu terjadi karena salah satu di antara kedua orang itu melakukannya dengan hati yang hadir terhadap Allah, Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Agung , sedangkan salah seorang di antaranya melakukan shalat itu dengan penuh kelalaian dan tanpa perhatian (al-Waabil Ash-Shayyib, hal. 36)

Sedangkan menoleh yang disebabkan adanya kebutuhan mendesak, maka hal itu diperbolehkan  dan tidak apa-apa.

Abu Dawud pernah meriwayatkan dari Sahl bin Al-hanzhaliyah, ia berlata, “ pada suatu ketika ada seseorang yang menguap di dalam shalatnya (pada saat shalat subuh, maka hal itu menjadikan Rasulullah yang pada saat itu melaksanakan shalat menoleh ke sebuah kaum) “. Abu Dawud berkata, Rasulullah pada malam harinya mengutus seorang penunggang kuda kepada kaum itu untuk menjaganya.”

Dan masih banyak lagi hadis-hadis yang disebabkan oleh adanya kebutuhan yang sangat mendesak. Seperti yang disebutkan di dalam hadis bahwa Rasulullah pernah menggendong Umamah binti Abil ‘Ash, beliau juga pernah membuka pintu untuk ‘Aisyah, beliau juga pernah turun dari mimbar , dan pada saat beliau selesai melaksanakan shalat bersama sahabat-sahabatnya,

lalu beliau memberitahukan kepada mereka tentang alasan mengapa beliau turun dari mimbar, beliau juga pernah mengakhirkan waktu pada shalat kusuf, beliau juga pernah memegang setan dan mencekiknya setelah beliau tahu bahwa setan itu akan memutuskan shalatnya, beliau juga  pernah memrintahkan untuk membunuh ular dan kalajengking  di dalam shalat, beliau juga pernah memerintahkan untuk mencegah orang yang berjalan di depan orang yang melaksanakan shalat dan memerintahkan pula untuk membunuhnya jika orang itu tidak mau untuk dicegah,

beliau juga pernah menyuruh para wanita untuk menepukkan tangan di dalam shalatnya jika terjadi kesalahan pada imam, beliau juga pernah memberikan isyarat di dalam shalatnya dan masih banyak hadis-hadis yang menegaskan tentang pekerjaan Rasulullah yang menunjukkan kepada diperbolehkannya menoleh di dalam shalat, jika hal itu sangat dibutuhkan. Namun jika tidak ada sesuatu yang mendesaknya untuk menoleh, maka pekerjaan yang seperti itu adalah pekerjaan yang sia-sia dan dpat menghilangkan kekhusyu’an. Dan hal itu dilarang untuk dilakukan di dalam shalat (Majmu’ul Fatawa, jilid 22, hal. 559)

Sumber :

33 Sababan Lil Khusyu’ Fish-Shalaati, Muhammad bin Shaleh al-Munajjid, penerbit : Dasul Wathan, Riyash, cet 1, 1415 H.

Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: