Hukum Seputar Shalat Untuk Wanita (Bagian 1)

muslimah.jpg

Saudariku muslimah, jagalah shalatmu dengan melakukanya pada waktunya, melakukannya dengan memenuhi syarat, rukun dan wajib-wajibnya. Allah ta’ala berfirman kepada para ummahatul Mukminin.

وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله.

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. (Qs. Al-Ahzab : 33)

Namun, perintah ini berlaku pula untuk kaum muslimat secara umum.

Shalat merupakan rukun Islam kedua, ia merupakan tiang agama, orang yang meninggalkannya dikatakan telah kafir, keluar dari agama. Mengakhirkan shalat dari waktunya tanpa alasan yang dapat dibenarkan oleh syariat merupakan bentuk menyia-nyiakan shalat. Allah ta’ala berfirman:

فخلف من بعدهم خلفٌ أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غياً إلا من تاب

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui ghayya, Kecuali orang yang bertaubat (Qs. Maryam : 59-60)

Al-Hafidz ibnu Katsir di dalam tafsirnya menyebutkan keterangan dari para imam tafsir bahwa makna إضاعة الصلاة (menyia-nyiakan shalat) yakni menyia-nyiakan waktu-waktunya di mana shalat itu dikerjakan setelah keluar waktunya. Dan beliau menafsirkan makna الغيّ (ghayya) yang akan mereka temuai dengan “al-Khasarah” (kerugian). Dan ditafsirkan juga bahwa itu adalah lembah di Neraka Jahannam.

Terkait dengan masalah shalat, maka baik bagi Anda untuk mengetahui hukum-hukum seputar masalah ini. Berikut di antaranya, yang penulis sebutkan secara ringkas:

  1. Tidak disyariatkan bagi wanita untuk melakukan azan dan iqomah sebelum mengerjakan shalat. Karena Azan itu disyariatkan dengan mengeraskan suara sementara wanita tidak boleh baginya mengeraskan suaranya. Pengarang al-Mughni (68/2) mengatakan, لا نعلمُ فيه خلافاً (kami tidak mengetahui dalam masalah ini adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama).
  2. Seluruh anggota badan wanita adalah aurat ketika shalat kecuali wajahnya. Adapun mengenai kedua telapak tangannya dan kedua telapak kakinya terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Sebagian ulama berpendapat kedua hal tersebut (yakni, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki) termasuk yang dikecualikan. Artinya, seorang wanita boleh menampakkannya ketika shalat. Sebagian ulama yang lain berpendapat tidak termasuk yang dikecualikan. Artinya, kedua bagian tersebut hendaknya tidak ditampakkan karena termasuk aurat dalam shalat. Wallahu a’lam
  3. Shalat kaum wanita secara berjama’ah dengan imam salah seorang di antara mereka terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Ada yang melarang dan ada yang membolehkan. Namun, kebanyakan ulama beependapat “ hal demikian tidak terlarang ” karena Nabi memerintahkan Ummu Waraqah untuk mengimami keluarganya (dari kalangan wanita) sebagai mana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaemah. Sebagian ulama yang lain berpandangan bahwa hal demikian merupakan sunnah berdasarkan hadis ini. Sebagian lagi berpandangan “ tidak disunnahkan”. Sebagian yang lainnya berpandangan hal tersebut makruh. Sebagian yang lainnya berpendapat boleh melakukan hal tersebut dalam shalat sunnah bukan dalam shalat wajib. Namun, pendapat yang nampaknya paling kuat adalah bahwa hal ini disunnahkan, baik dalam shalat sunnah (seperti qiyamullail) maupun dalam shalat wajib. Wallahu a’lam (untuk al-Mughniy 2/202, karya Ibnu Qudamah, al-Majmu’ 4/84-85, karya Imam an-Nawawi).
  4. Bagi seorang imam wanita boleh mengeraskan bacaannya bilamana tidak ada lelaki asing yang mendengar suaranya.
  5. Dibolehkan bagi kaum wanita untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid. Hanya saja, shalatnya kaum wanita di rumahnya adalah lebih baik baginya. Imam Muslim telah meriwayatkan di dalam shahihnya, dari Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:

لا تمنعوا إماء الله مساجد الله

Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah (untuk mendatangi) masjid-masjid Allah.

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

لا تمنعوا النساء أن يخرُجن إلى المساجد وبيوتهنَّ خير لهن

Janganlah kalian mencegah kaum wanita untuk keluar ke masjid-masjid. Dan, rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

 

Bersambung, insya Allah.

 

Sumber :

Diringkas oleh Amar Abdullah bin Syakir dari bahasan أحكام تختص بالمرأة في صلاتها dalam kitab “ Linnisa-i Faqath … Ahkamu Syar’iyyah-Aadaab Islamiyah-Nasha-ih Wa Taujihaat (1/20), pengarang : Abdullah bin Ahmad al-Alaf al-Ghamidi. Penerbit : Daar ath-Tharafain.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: