Ihtisab Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

ali.jpg

Pembaca Yang Budiman.

Diantara tokoh-tokoh yang patut dijadikan teladan dari kalangan sahabat adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau juga saudara dari sahabat mulia yang bernama Ja’far bin Abi Thalib yang dijuluki oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan AtThayyar. Beliau juga merupakan khalifah ke-empat, beliau juga termasuk dari sepuluh orang yang dikabarkan oleh Nabi bahwa mereka dijamin masuk surga, dan banyak lagi kemuliaan-kemuliaan yang beliau miliki dan tidak dimiliki oleh sahabat yang lain. Berikut kami papakarkan beberapa kisah ihtisab beliau.

Diantara kisah ihtisab Ali bin Abi Thalib adalah bahwasanya ia mengejar orang-orang perusak dan penjahat kemudian ia memenjara mereka.

Al-Qadhi Abu Yusuf meriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair beliau berkata, “jika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menemukan seorang pelaku tuna susila dalam suatu kaum atau kabilah maka ia akan memenjarakannya. Jika beliau memiliki harta maka beliau menafkahinya dari harta pribadinya, dan jika tidak memiliki harta ia menafkahinya dari baitul maal milik kaum muslimin, dan beliau berkata: “Kejahatannya ditahan agar tidak mengganggu mereka, dan ia dinafkahi dari baitul maal mereka”[1]

Ali bin Abi Thalib membakar kampung yang menjual minuman keras

Ali bin Abi Thalib sangat keras terhadap minuman keras dan pelakunya, ia pernah menyuruh untuk membakar suatu kampung yang menjual minuman keras.

Imam Ubaid bin Sallam meriwayatkan bahwasanya Ali radhiyallahu ‘anhu pernah melihat kepada suatu kampung yang bernama Zurarah seraya berkata, “Kampung apa ini?” Mereka menjawab, “ini adalah kampung zurarah”, dan dilamnya dijual minuman keras. Beliau terus berjalan sampai memasukinya kemudian berkata, “Datangkan kepadaku api, kemudian lemparkanlah ke kampung tersebut, karena sesuatu yang jelek saling memakan satu sama lain.” Perawi berkata, “Maka kampung tersebut terbakar dari arah baratnya sampai ke perkebunan milik Khuwasta bin Jabruna.”[2]

Pengingkaran beliau terhadap bercampurnya para perempuan dengan para lelaki di pasar

Di antara ihtisab beliau adalah pengingkaran beliau kepada sebagian orang yang tidak melarang istri mereka bercampur-baur dengan kaum lelaki di pasar.

Abdullah bin Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi thalib beliau berkata, “Tidaklah kalian malu atau cemburu?? Telah datang berita kepada saya bahwa istri-istri kalian keluar ke pasar-pasar dan mereka bercampur-baur dengan ‘Uluj (lelaki kafir dari orang ajam)”[3]

Beliau menyeru orang-orang untuk melaksanakan shalat

Ali bin Abi Thalib sangat perhatian dalam masalah shalat. Ia selalu melewati jalan-jalan di Madinah seraya menyeru, “Shalat, shalat!!” dengan suara beliau tersebut beliau membangunkan orang yang tidur. Sayyiduna Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu menceritakan kepada kita tentang keluarnya Ali radhiyallahu ‘anhu dihari dimana ia dibunuh. Beliau berkata, “Wahai manusia, shalat, shalat!!”. Dan seperti itulah Ali lakukan disetiap harinya sambil ia membawa pecutnya, ketika itu ia dihadang oleh dua orang, kemudian Ibnu Muljam memukulnya dibagian ubun-ubunnya.”[4]

Beliau mewakilkan orang lain untuk menggantinya dalam ber-ihtisab

Imam Muslim meriwayatkan dari Abul hayyaj Al-Asadi beliau berkata, “Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata padaku:

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ.

“Maukah kamu saya beri tugas sebagaimana tugas yang pernah diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku? Jangan biarkan gambar makhluk bernyawa, sampai kamu merusaknya, dan jangan biarkan kuburan yang ditinggikan, sampai kamu meratakannya.”[4]


Penerjemah : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Footnote:

[1] Al-Kharaj hal. 150

[2] Al-Amwal No.268 hal. 97-98

[3] Tarikhul Islam (‘Ahdu Khulafair Rasyidin) hal. 650

[4] Muslim No. 969

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: