Istri yang Kasar

Istri-yang-Kasar.jpg

Sifat kasar itu merupakan saudara dari sifat keras, kaku, kejam, tidak menghargai perasaan orang lain, pedas dalam berbicara dan menusuk perasaan orang lain tanpa ada kekhawatiran melukai atau bahkan meretakkan hati mereka. Terkadang ia tidak merasa bahwa dirinya telah bersikap kasar karena kebodohan dan ketololannya. Dan terkadang wanita yang kasar itu bagaikan selalu membawa pisau tajam di tangannya. Kekasaran dapat merobek-robek parasaan orang lain dengan sengaja dan kesadaran pikiran lantaran dahsyatnya luka yang menghujam di hati dan perasaan oleh pisau yang tajam.

Sikap kasar terkadang hanya ditunjukkan dengan respons yang negatif dan dingin. Suami tidak akan pernah merasa gembira lantaran sikap itu.

Terkadang kekerasan terwujud dalam kekakuan perasaan orang yang dungu, sehingga orang lain menjadi korban. Kekasaran adalah buta, tidak melihat, lalai, tidak menghargai orang lain,mati dan tidak merasa. Sedikit saja ada unsur kekasaran pada kaum wanita maka ini sudah dianggap banyak. Hal ini karena wanita itu tidak disebut wanita kecuali bila ia lembut perasaannya, halus sentuhannya, sensitif/peka, merdu suaranya, kuat emosinya, penuh kasih sayang, dan perasaannya mudah tersentuh oleh perasaan orang lain. Kewanitaannya tergambar dalam kelembutan, kasih sayang, cinta dan perasaan bahwa suaminya adalah miliknya satu-satunya. Ia akan selalu mendampinginya untuk mengarungi samudera kehidupan ini berdua.

Di antara contoh istri yang kasar adalah istri yang panjag lidahnya, kesar suaranya, tajam intonasi suaranya, dan kasar logat bicaranya. Ini semua akan menghapus kecantikannya, menghilangkan kelembutannya, menutupi keindahannya, dan membuatnya bagaikan piring berisi kembang gula yang dipenuhi dengan duri yang tajam. Tidak perlu waktu lama, ia pasti akan segera dihindari dan dijauhi.

Contoh lain istri yang kasar adalah yang tidak pernah menjaga kebersihannya dan menelantarkan dirinya sendiri. Ia tampil dengan rambut yang acak-acakan, kukunya kotor, bau badannya tidak sedap. Istri yang seperti ini tidak akan menjadi mawar yang indah tetapi menjadi bangkai yang busuk.

Jarang memang ada seorang istri yang sampai pada batas yang tidak disukai seperti itu tetapi tetap ada saja yang begitu. Hanya saja, kebanyakan istri tidak lepas dari sebuah pribahasa yang mengatakan : “ Di luar bagaikan bungan mawar tetapi di rumah bagaikan kera”.

Hampir bisa dipastikan bahwa setiap hendak keluar rumah, seorang istri selalu berpenampilan bersih, rapi, mengenakan pakaian yang menakjubkan dan indah, hingga membuat terpesona setiap mata yang memandang. Ia bagaikan mawar merah yang sedang mekar dan menebarkan wangi semerbak. Tetapi saat pulang ke rumah dan menemui seuminya, ia pasti menanggalkan semua keindahan itu dan kembali memakai pakaian kumal. Ia tampak dalam kondisi yang paling buruk.

Kita tentu saja tidak menuntut agar seorang istri itu selalu dalam kondisi yang sempurna atau seolah-olah berada dalam sebuah pesta saat di rumah. Akan tetapi, kita meminta agar seorang istri memperhatikan kewanitaan dan kelembutannya di rumah, di depan suaminya. Hendaknya ia tidak membuat mata suaminya menatapnya dalam kondisi yang buruk dan hidungnya tidak mencium bau yang tidak sedap dari tubuhnya.

Wujud kekasaran yang lain adalah si istri tidak mengerti suaminya atau tidak memahaminya sehingga suami tidak berhasrat kepadanya. Ini adalah wujud kekasaran yang lebih buruk. Dengan demikian ia telah melukai perasaan suaminya. Atau si istri membandingkan suaminya dengan seseorang atau salah satu kerabatnya atau kerabat si istri itu. Atau ia membandingkan antara suaminya dengan orang yang melamarnya dulu. Ia berandai-andai dengan ungkapan yang jelas bahwa seandainya ia sekarang hidup bersama orang lain ia pasti lebih baik kehidupannya daripada dengan suaminya tersebut. Ini adalah puncak kekasaran.

Semoga Allah melindungi para istri kaum muslimin dari segala bentuk kekasaran. Aamiin

Sumber:  “Aswa’ul Zaujat”, Abdullah al-Ju’aitsan. Edisi Bahasa Indonesia : Perilaku Buruk yang Harus Dihindari Istri, hal. 35 – 40, dengan ringkas dan sedikit gubahan.

Amar Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: